Pangeran Senja

Pangeran Senja
Semua masi sama.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Lelah atau menyerah?" tanya Andra kemudian.


Pangeran hanya menggelengkan kepalanya, pertanyaan itu sulit sekali di jawab olehnya yang masih menyimpan harapan Putri akan berubah.


"Aku dan dia sudah sejauh ini, Dadd. Haruskah aku berhenti dan mengejar masa laluku lagi?" tanya Pangeran dengan senyum getir di ujung bibirnya.


"Aku sudah menerimanya, berarti sudah tahu konsekuensi dari perasaanku," tambahnya lagi semakin sedih.


Hatinya terus tergerak untuk menoleh tapi pikirannya tetap memaksa untuk terus maju, begitu banyak yang ia pikirkan termasuk bagaimana Putri jika ia tinggalkan nanti, ini bukan sekedar Pertunangan karna satu langkah lagi mereka akan menuju ke jenjang pernikahan.


"Sakit sekarang tak apa, dari pada sakit hingga akhir," ujar Andra.


"Aku tak bisa menyakitinya, Dadd."


"Tapi dia sudah sakit dari awal, bukankah ia juga tahu bagaimana kamu selama 10 tahun ini?"


Pangeran mengangguk, meski tak pernah sama sekali menyinggung tentang Senja tapi Putri tahu dan bisa merasakan jika wanita itu masih bersemayam di hati Tunangannya tersebut.

__ADS_1


.


.


.


Lewat tengah malam di Negara yang di tinggali Pangeran tapi sudah pagi bagi Senja yang jauh di sana, dan ia harap ini adalah waktu yang tepat untuk bicara dengan pemilik hatinya. Selama ini keduanya memang tak pernah mengungkit masa lalu, entah itu cinta Pangeran atau drama penolakan Senja.


Beberapa detik menunggu dengan hanya mendengarkan nada panggilan, kini Pangeran bisa bernapas lega saat Senja menyapanya. Tapi rasa berdebar dan takut justru mendominasi perasaannya kini.


"Hallo, Ran. Ada apa?" tanya Senja lagi setelah yang pertama tak di jawab oleh Pangeran.


"Iya, Sen, apa aku mengganggumu?"


Ada yang harus wanita cantik itu lakukan, yaitu menyibukkan diri dengan berbagai hal termasuk bekerja, setidaknya ada sesuatu yang ia kerjakan selain hanya melamun menikmati rasa kecewanya.


"Bisa kita bicara?" pinta Pangeran.


"Tentu, bicaralah. Bukankah disana masih malam?, kamu harus lebih banyak istirahat," balas Senja yang membuat Pangeran tersenyum.

__ADS_1


Bagaimana pria itu tak senang, kadang perhatian kecil seperti itu saja sudah bisa menjadi obat penenang untuknya. Pangeran tak butuh apa-apa, ia hanya ingin memiliki pasangan yang mengerti dan tak menambah beban pikirannya.


Pangeran butuh rumah yang bisa menjadi tempat beristirahat dan Senjalah tempatnya.


"Maaf, kamu bukan tahu dariku, Sen."


Deg....


Satu kalimat yang di hindari Senja akhirnya di dengar juga, padahal jauh di dasar hatinya ia berharap apa yang di katakan Rival hanya bualan belaka. Tapi nyatanya sepagi ini justru di benarkah oleh orangnya langsung. Wajah yang sudah terlihat cantik itu kini basah karena tetesan cairan bening yang jatuh tak tertahan dari matanya.


"Aku--, benar benar minta maaf. Aku tak punya maksud apa apa tentang kedekatan kita selama ini. Aku harap kamu tak salah paham," lanjut Pangeran yang sebenarnya ketakutan.


"Hem, tak apa. Akunya saja yang terlalu percaya diri jika Pangeran yang sekarang masih sama dengan Pangeran 7 tahun lalu. Aku tak menyalahkanmu sama sekali," jawab Senja.


Ingin rasanya Pangeran meyakinkan wanita bersuara parau itu jika apa yang di ucapkannya memang benar. Ia tetap sama seperti dulu, hanya saja Pangeran tak berani untuk bicara karna hanya akan memberi harapan tak pasti bagi Senja.


.


.

__ADS_1


.


Aku tak pernah berubah, hatiku masih ada namamu dan cintaku tetep untukmu, hanya saja masa depanku tak bisa denganmu...


__ADS_2