
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Senja--," panggil seorang wanita yang di gadang gadang menjadi masa depan seorang Pangeran.
"Hem, siapa ya?" tanya Senja masih bingung dan mengingat ingat dengan memfokuskan pandangan.
"Aku Putri, teman SMA mu, itupun kalau kamu anggap aku temen sih," jawabnya dengan nada sedikit menyidir.
Siapapun tahu jika Senja memang tak punya sahabat dekat karna ia menganggap semua sama sama temannya tanpa terkecuali, hidupnya yang aman karna tak akan ada yang berani mengusik membuat wanita itu pasti di terima oleh siapapun dan di manapun ia berada.
"Hem, yang ku ingat kamu hanya sekretaris OSIS kan?"
"Iya, dan Pangeran Ketua Osisnya," jawab Putri dengan bangganya.
Apa yang terlontar dari bibir wanita itu hanya di balas dengan senyum simpul, karna ia mendengar nama pria yang di rindukan di sebut. Jika satu sekolahan tahu bagaimana dulu Pangeran mengejar cintanya maka satu sekolahan pun sadar dengan sikap lain Putri pada Pangeran tentunya bukan perhatian sebatas teman.
Putri yang meminta izin untuk duduk bersama pun di persilhkan hingga kedua wanita yang mencintai satu pria itupun kini sudah saling berhadapan.
"Apa kabarmu?"
__ADS_1
"Selalu baik," jawab Senja masih santai tanpa ekspresi mencurigakan.
"Syukurlah, aku jarang sekali tahu kabarmu karna aku tinggal di luar negeri usai kelulusan. Aku kuliah dan bekerja disana, hanya sesekali untuk pulang kesini jika ada keperluan saja, tapi tidak untuk sekarang karna seterusnya aku akan kembali menetap," jelas Putri panjang lebar padahal jelas Senja tak menanyakan apapun pada wanita itu.
"Ooh," sahut Senja yang tak tertarik sama sekali karna ia sudah sangat lapar.
"Kamu sudah menikah?" tanya Putri.
"Belum, jodohku masih sibuk jagain jodoh orang," jawab Senja tak kalah percaya dirinya tapi itu malah membuat dahi Putri mengernyit tak paham.
Tapi, belum sempat wanita itu bertanya lagi nyatanya pelayan datang membawa pesanan Senja, dan karna ingin terus mengobrol Putri pun memesan makanan yang justru sama juga dengan Senja.
"Oh iya, silahkan," jawab Putri.
Tak pernah dekat sama sekali dan di pertemukan saat sudah usia dewasa tentu membuat sedikit canggung karna serasa bukan bertemu kawan lama, bingung mencari bahan obrolan yang terjadi justru hanya tanya jawab.
"Hem, disini aku sedang mempersiapkan pernikahanku, saat undangannya nanti jadi akan ku kirim ke rumahmu, ku harap kamu bisa hadir," ucap Putri pelan.
"Kirim saja, rumah ku masih sama," jawab Senja.
__ADS_1
Sedih rasanya di perjelas seperti ini, padahal ia masih berharap jika yang di katakan Rival dan Pangeran hanya bualan belaka.
"Aku akan menikah dengan pria yang cintanya selalu di tolak olehmu, biarkan aku sekarang yang membahagiakannya ya."
Deg...
Senja tak sekuat yang di pikir orang lain, hatinya sakit meski nama pria itu tak di sebut terang-terangan.
"Aku sangat mencintainya sejak 10 tahun lalu, aku tetap di sampingnya meski tatapannya selalu lurus ke depan kearahmu, aku siap sakit hati saat di matanya ada kamu dan do'anya selalu tentang kebahagiaanmu," tutur Putri sedikit menunduk, ia tentu tak ingin Senja tahu betapa malangnya ia yang terus merasakan cinta bertepuk sebelah tangan.
"Dan kamu akan tetap menikah dengannya?" tanya Senja yang tak habis pikir dengan jalan nekat yang di ambil oleh Putri.
"Iya, biarkan aku yang mencintainya. Katanya, menikah lah dengan orang yang punya cinta luar biasa, jadi biarkan Pangeran menikah denganku karna aku punya itu untuknya," jawab Putri.
.
.
.
__ADS_1
Bodoh, harusnya aku dan dia yang menikah karna kami justru saling mencintai...