
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Saya---," ucap Pangeran yang menarik napasnya lebih dulu mencoba menetralkan perasaannya, matanya yang terpejam masih enggan ia buka sebab tak sengaja sekilas melihat sosok Senja.
"Cukup!" suara seorang perempuan yang sangat di kenal oleh Pangeran kini menjadi pusat perhatian.
Semua mata tertuju pada sosok Putri yang tak lain adalah Si mempelai pengantin wanita. Tapi apa yang kini ia lakukan?
Bukannya tampil cantik dengan kebaya modernnya yang senada dengan Sang calon suami ia justru keluar dari ruang tempatnya menunggu dengan hanya memakai dress selutut, rambutnya yang terutai hitam sepinggang tak mengurangi kecantikannya sama sekali.
"Putri," seru Pangeran keheranan.
"Kenapa? sulit sekali kan menyebut namaku untuk Ijab Qabul ini?" tanya Putri sambil terkekeh.
Ia raih tangan Pangeran yang kini sudah berdiri dari duduknya. Ia genggam dan ia usap dengan sangat lembut yang justru semakin membuat pria itu tak paham.
"Ada apa ini?" tanya Pangeran, ini adalah hal paling konyol yang di lakukan Putri menurutnya.
__ADS_1
"Maaf, aku hanya ingin melihatmu bahagia, dan memang bukan aku orangnya," tutur Putri dengan senyum kecil di ujung bibirnya.
"Ini bukan saatnya untuk bercanda, Put!"
Tawa renyah wanita itu malah menggema ke seisi bangunan tengah Masjid. Hingga satupun tak ada yang berani angkat bicara saking tak pahamnya dengan apa yang di lakukan Putri saat ini di detik-detik menuju Halal menjadi seorang istri.
"Aku tak pernah main main saat mencintaimu. Tenang saja, Ran." Putri yang nampak tenang menarik tangan Pangeran menuju kumpulan tamu, keluarga dan kerabat. Tak ada yang tak melihat kearah mereka yang kini tengah berjalan berdua menuju paling belakang.
"Putri, apa maksudmu? ayo ikut aku," ajak Pangeran. Ia yang sedang mati-matian menghindari Senja malah di bawa ke hadapan wanita itu.
"Ajak Senja, bukan aku."
"Tapi bukan aku yang kamu mau, bukan aku yang kamu harapkan dan bukan aku yang ingin kamu ajak hidup bersama hingga akhir nanti, iya kan?"
Tatapan keduanya begitu lekat dan tajam tapi Putri masih belum bisa menemukan bayangnya disana, dan itu yang membuat ia sadar jika sekuat apapun ia ingin bertahan hanya akan ada rasa kecewa yang ia dapatkan.
"Cinta dalam hubungan rumah tangga itu bagai sepasang sepatu, meski tak sama namun saling melengkapi. Jika yang satu hilang akan tak berguna lagi. Tapi rumah tangga kita tak akan seperti itu. Entah sampai kapan aku kuat mencintaimu yang mencintai wanita lain," jelas Putri yang membuat semua orang tercengang termasuk Senja.
__ADS_1
Ya, ia tahu yang di maksud Putri adalah dirinya yang katanya masih bertahta di hati Pangeran hingga detik ini makanya ia begitu sulit saat ingin mengucapkan ijab qabul barusan.
"Aku sudah banyak mengalah untukmu, Put. Jangan macam macam!" sentak Pangeran yang akhirnya kesal. Disini tentu bukan hanya ada mereka berdua tapi juga ada para orang tua.
"Kalau begitu, mengalahlah sekali lagi untuk wanita yang kamu bilang cantik, baik dan setia ini. Aku ingin bahagia," jawabnya.
Senja yang tak kuat menahan kesal, malu dan sedih akhirnya memutuskan untuk pergi, ia pasti sudah mempermalukan keluarga besarnya karna menjadi alasan batalnya sebuah pernikahan seseorang.
"Mau kemana?" tanya Putri.
"Maaf, aku tak ada urusan dengan semua yang terjadi. Selesaikan saja permasalahan kalian ini, permisi."
Senja yang baru mau melangkah di tarik tangannya cukup kuat yang di kira itu adalah Putri tapi nyatanya justru Pangeran.
"Lepas!"
.
__ADS_1
.
"Kamu sudah menggagalkan pernikahanku, Sen. Jangan buat aku pulang masih dengan status perjaka!"