
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Pangeran yang sudah rapih setelah berganti pakaian langsung keluar kamarnya, ia yang akan ikut Mommy bertemu dengan Bunda tentu tak sabar untuk masuk kedalam pelukan wanita paruh baya tersebut, karna memang umur Mommy dan Bunda tak jauh beda jadi Pengeran serasa punya ibu dua.
"Tumben Putri gak ikut? biasanya udah kaya ekor," ejek Daddy Andra saat putranya itu baru datang ke teras.
"Lagi keluar juga dia, ada yang mau di beli katanya," jawab Pangeran tersenyum kecil.
"Udah izin kan tapi?" goda pria itu lagi.
"Pasti udah dong, kalau belum yang ada anakku di amuk sama dia," cetus Mommy Viana.
Wanita yang masih saja cantik itu memang sengaja membawa putranya bertemu dengan Bunda, ia harap Pangeran mau berpikir ulang dengan kesiapan pernikahan nya dengan Putri. Biarkan saja yang sudah terlanjur karna kerugian harta masih bisa di cari asalkan anak tunggalnya itu bahagia lahir bathin.
Sedangkan Pangeran yang mendengar mommy nya mengomel melengos pergi lebih dulu ke arah mobil dan membiarkan Daddynya saja yang jadi sasaran.
Ia yang mengendarai kendaraan menuju tempat Bunda memang mematikan data ponselnya, tak hanya demi fokus selama di perjalanan tapi juga ingin sejenak sepenuhnya menjadi seorang anak sebelum akhirnya ia sibuk dengan keluarganya sendiri.
__ADS_1
.
.
.
Dalam hitungan jam mobil mewah Pangeran masuk kedalam area PonPes yang di tinggali oleh
Bunda, tak hanya wanita berhijab syar'i itu saja yang menyambut tapi juga pemilik pondok beserta keluarganya.
Senyum di balik cadar tetap terlihat oleh Mommy, Daddy dan pastinya Pangeran yang saling merindu sebab terlihat dari menyipit nya mata Bunda.
"Makanlah, ini kue kesukaanmu kan?"
"Makasih, Bun. Bunda tak pernah lupa itu, dan Mommy jarang sekali membelikannya untukku termasuk saat kemarin berkunjung ke Luar Negeri," adunya kesal.
"Mungkin Mommy hanya tak ingin kamu mengingat Bunda. Karna jika Bunda yang berikan kamu tak perlu merasa rindu, itu berat loh," goda wanita bercandar itu.
__ADS_1
Jangan pernah bicara rasa itu pada Bunda sebab ia pasti jadi pemenangnya. Adakah yang jauh lebih nikmat di bandingkan rasa rindu dengan seseorang yang sudah lebih dulu berpulang padaNya?
Tak bisa bertemu, bersua apalagi memeluk karna cukup mendo'akan sambil mengungat semua kenangan.
"Mungkin, tapi ini memang enak loh, Bun."
"Enak karna kamu SUKA, tapi biasa saja jika memang kamu tak SUKA atau akan sulit tertelan jika justru kamu terpaksa SUKA," ucapan yang sedikit menyindir itu nyatanya mampu membuat Pangeran menoleh.
"Bunda--," panggilnya lirih.
"Keduanya memang bukan pilihan, tapi kamu yang harus memilih jalanmu sendiri. Penyesalan itu datangnya di akhir, dan pernikahan bukan sebuah permainan. Bunda harap kamu bisa pikirkan lagi ya," nasihat yang Bunda berikan sangat berbeda dengan yang ia berikan pada anak sambungnya dulu saat akan menikah di hari itu juga. Perdebatan panjang juga orangtua itu lakukan mengenai masa depan putri tunggalnya tersebut 27 tahun yang lalu.
.
.
.
__ADS_1
Entahlah, aku sendiri tak tahu apa yang kini sedang ku lakukan haruskah tetap bertahan atau menunggu waktu yang tepat untuk menyerah. Karna untuk maju rasanya kakiku tak menapak jalan sedangkan untuk berputar arah nyatanya aku sudah terlanjur sejauh ini...