
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Dad, bantuin sini." Teriakan Pangeran dari bawah membuat pria paruh baya itu jadi pusat perhatian sebab semua mata kini tertuju padanya.
"Ngapain? kamu aja, cuma Tomat doang," sahut Daddy Andra sedikit menggerutu.
Tapi, tatapan tajam istrinya yang ke arah Si jendolan membuat pria itu mulai tak enak hati hingga ia menelan salivanya kuat kuat, pikirannya kini sudah kemana-mana termasuk tentang pengumuman Puasa jika ia menolak lagi ajakan putra mereka.
"Iya, Mom, iya!"
Daddy Andra mau tak mau turun juga, ia usap miliknya yang anteng dan bersembunyi di bali celala dengan pelan. Si jendolan juga pasti ikut takut jika Sang pemilik lembah imut sudah murka.
Pangeran langsung menyerahkan keranjang kecil yang di pegangnya itu pada Daddy nya karna ia masih memetik Si Tomat yang benar kata Senja jika itu sangat menggoda.
"Dadd, manis loh."
"Pantes nih keranjang kosong terus dari tadi, abis di petik malah di makan!" oceh Daddy Andra saat melihat kelakuan anaknya.
"Aku lagi ngewakilin Senja dulu, di udah ngiler banget tuh," jawabnya sambil terkekeh dengan membuat alasan tak masuk akal.
Tak hanya Pangeran, hal yang sama pun di lakukan oleh pria paruh baya tersebut, ia ikut makan juga apa yang sudah di petiknya.
"Kalian ini ngapain sih? lama banget," teriak Mommy Viana yang mulai kesal dan pastinya curiga.
Pangeran dan Daddy nya tentu langsung buru buru memenuhi keranjang dengan Si tomat yang di petik tanpa di makan lebih dulu. Dan setelah di rasa cukup barulah mereka naik lagi keatas.
"Lama!" cetus Senja.
"Dari tadi dapet segini?" tanya Mommy heran padahal jelas kebun itu penuh dengan buah yang anak dan suaminya petik.
"Jangan banyak banyak, nanti di omelin sama Babah Hj, ini kan buat Pondok," sahut Daddy Andra sambil mengulum senyum.
"Masa? kok Mommya curiga ya?" timpal wanita itu yang kini kedua matanya tertuju pada perut Daddy Andra dan Pangeran.
"Kabur Ndut, cepetan!" pria itu langsung mendorong Sang anak agar lebih cepat jalannya, ia tak mau di jewer telinganya sepanjang jalan ke Pondok milik Bunda.
.
.
.
Perkara petik buah tomat selesai, kini giliran Bunda dan Senja yang membuat rujak di dapur tanpa Mommy sebab wanita itu sedang memarahi dua pria kesayangannya.
__ADS_1
"Mau pakai jeruk lemon?" tawar Bunda.
"Hem, enggak, Bun. Aku lebih suka tomat dan gula saja," jawab Senja, bahkan tanpa campuran apa apa rasanya sudah sangat nikmat.
"Baiklah, masukan kedalam wadah sini ya, tapi biasanya biar lebih enak jika di diamkan dulu dalam kulkas kurang lebih satu jam, rasanya segar."
"Aku udah gak bisa nunggu, Bun," kekeh Senja yang malu akan sikapnya sendiri seperti orang kelaparan tapi memang sumpah demi apapun ini sungguh sangat menggoda seleranya.
"Kamu suka sekali?" tanya Bunda.
"Iya, aku suka buah dan sayur, Bun," jawab Senja jujur.
"Baguslah, tomat memang banyak manfaatnya. Mulai dari mencegah kanker, melancarkan pencernaan, baik untuk kesehatan mata dan kulit, apalagi jika di konsumsi oleh ibu hamil," jelas wanita itu yang hanya di balas senyum terbaik dari Senja.
"Iya, Bun. Tapi ini memang enak banget."
Selesai membuat rujak Tomat, kini Senja dan Bunda kembali ke ruang tamu sambil membawa tiga mangkuk di atas nampan.
Satu persatu di letakannya bersama minuman dan kue yang lainnya juga.
"Kita berdua aja ya, Ran."
"Aku kenyang, Sayang. Buat kamu aja," tolak Pangeran yang berbaring bersebelahan dengan Daddy nya.
Asal ketiga wanita itu tahu saja, jika Pangeran dan Daddy Andra justru sudah mabok tomat lebih dulu dari masih berada di dalam kebun, perut yang kenyang dan barusan juga mendapat siraman rohani membuat dua pria tersebut kini mengantuk.
"Bun, mau pulang sekarang?" tanya Mommy Viana.
"Andra dah Pangeran terlihat lelah, besok pagi saja bagaimana?"
"Baiklah, tak apa. Kami menginap satu malam disini," sahut Mommy yang memang sudah antisipasi dengan jawaban ibu sambungnya tersebut.
.
.
.
Mereka yang akhirnya menginap, berkumpul lagi di ruang tamu usai makan malam karna hanya ada satu kamar di Pondok tersebut. Sudah bisa di pastikan Pangeran dan Daddy Andra akan tidur di ruangan itu lagi seperti tadi siang.
"Kayanya kita bergadang nih, Dadd," bisik Pangeran.
"Kenapa?"
"Udah tidur siang tadi, lumayan lama kan?" kata Pangeran lagi.
__ADS_1
Daddy Andra hanya bisa membuang napas kasar karna yang di katakan anaknya itu benar. Tapi akan lain ceritanya jika Si Jendolan kukurusan lebih dulu ke lembah imut milik istrinya, usai terbang ke langit ke tujuh ia pasti beralih ke alam mimpi dengan segera.
"Main catur yuk," ajak Pangeran.
"Enggak ah, lagi males mikir," tolak Daddynya yang di balas cibiran dari Sang putra.
Pangeran yang akhirnya ke teras di susul oleh Senja yang banjir keringat, rambutnya yang panjang mau tak mau harus di cepol tinggi tinggal karna kening dan lehernya sudah basah.
"Kamu abis ngapain?" tanya Pangeran keheranan melihat istrinya.
"Gerah banget, Ran. kipasin dong," pinta Senja yang baru kali ini banjir keringat.
Pangeran langsung mengambil kipas tangan yang di berikan oleh Senja, masih dengan perasaan heran ia terus mengipasi padahal ia sendiri merasa kedinginan.
"Nanti kamu masuk angin, ayo masuk kedalam."
"Gak mau, enakan disini," tolak Senja.
Meski ini area Pondok Pesantren tapi tentu jauh dari tempat tinggal Santri. Bunda pun bukan siapa-siapa hanya orang yang menyibukkan diri untuk keperluan PonPes saja karna wanita itu butuh keramaian agar hatinya tak sepi dan pikirannya tak terus kosong karna terus larut dalam kesedihan akibat kehilangan Ayah yang sangat mendadak baginya, Bunda kehilangan sosok suami luar biasa di tengah rencana mereka untuk memiliki anak. Mungkin, jika Tuhan sudah sempat memberinya benih cinta dari Sang suami Bunda tak akan se kehilangan seperti sekarang yang terus merasa kesepian.
.
.
.
" Dadd, laper gak?" bisik Pangeran di jam satu malam saat semuanya sudah terlelap.
"Enggak," jawab Daddy Andra yang malah mengeratkan pelukannya pada Si bantal guling.
Rasa dingin membuat ia malas membuka mata, karna nyamannya juga meringkuk di balik sarung kotak kotak berwarna merah.
"Tapi aku laper, " kata Pangeran lagi yang memang belum bangun, kenyang menikmati buah tomat dikebun membuat ia hanya sedikit makan malam tapi siapa sangka justru membuatnya merasa lapar di jam segini.
"Cari sana di dapur," titah Daddy Andra yang kesal tidurnya terus di ganggu.
"Anterin, ayo Dadd," mohon Pangeran.
Daddy Andra yang terus di ganggu akhirnya bangun meski dengan perasaan jengkel luar biasa. Ia antar anak tunggalnya itu menuju dapur untuk mencari apapun yang bisa di makan.
.
.
.
__ADS_1
Daddy tinggu ya, jangan Abul....