Pangeran Senja

Pangeran Senja
Pembantu TAJIR untuk TUAN MUDA


__ADS_3

         🍂🍂 Part 41 🍂🍂


"Luar kota? kapan?" tanya Darren saat sekertaris nya itu baru saja selesai membacakan jadwal pekerjaannya hari ini dan esok.


"Besok, Tuan. Bukankah ini sudah di rencanakan dari satu minggu yang lalu?" tanya balik sekertarisnya sambil menatap aneh sang Direktur yang langsung menyandarkan tubuh lemasnya itu di kursi kebesarannya.


"Saya lupa sepertinya," jawab Darren yang mendadak lemas, lalu ia meminta wanita yang berdiri di depannya itu keluar dari ruangan nya untuk melanjutkan pekerjaan.


Kepergiannya kali ini terasa lain bagi Darren, jika dulu ia tak perduli mau kemana dan dimana ia akan melakukan meeting tapi entah kenapa sekarang justru seperti ada yang membuatnya berat untuk pergi padahal kata nya hanya dua hari.


"Aku harus pulang sekarang," ucapnya sembari bangun lalu meraih jas dan kunci mobilnya di dalam laci meja kerja.


Darren benar benar bergegas keluar dari ruang kerjanya, ia meninggalkan begitu saja setumpuk pekerjaannya tersebut, tak perduli masih ada beberapa yang harusi ia tanda tangani.


Sampai di pakiran, Darren masuk ke dalam mobil mewahnya, tujuannya saat ini tentu pulang ke apartemen meski ia sendiri bingung mau apa, karna bisanya ia tak pernah menyiapkan apa pun sebelum berangkat ke luar kota atau negeri dalam urusan pekerjaan.


Jalanan yang ramai lancar malah justru membuat kendaraan roda empat itu menepi di pinggir jalan kana melihat tukang buah di gerobak.


"Bang, rujaknya satu ya,:" pesan Darren.

__ADS_1


"Iya, Pak, silahkan duduk," jawab si pedagang sambil memberikan kursi plastk yang tadi di dudukinya.


"Tak perlu, Bang, terima kasih banyak," tolaknya karna pasti tak akan membutuhkan waktu lama.


Dan benar saja, kurang lebih 5 menit pesannya dan sudah dan langsung ia bayar tanpa menerima uang kembalinya.


.


.


.


"Kemana si Minul??" gumamnya lagi yang memilh mencari pembantu jadi jadian itu ke kamar yang ada di area paling belakang.


Benar saja, gadis aneh itu sedang duduk di tempat jemuran baju dengan memeluk lututnya sendiri.


"Nul, kamu lagi apa?" tanya Darren yang ikut juga duduk di samping Shaquenna.


"Lagi ngopi, pait banget ternyata ya," jawabnya sembari menoleh dan hatinya luluh saat melihat Darren tersenyum.

__ADS_1


"Biasanya juga kaya anak bayi minum susu, kenapa mendadak jadi mbag dukun?" ledek Darren.


Kepulangan sang mama yang sudah tiga hari ini semakin membuat keduanya tak berjarak lagi, padahal mereka tak lebih dari pembantu dan majikan, tapi justru seperti teman yang kadang di selingi dengan kemesraan meski itu tak lebih dari tatapan.


"Kok Tuan udah pulang? Emang ini jam berapa?" tanya Shaquenna sambil melihat layar ponmsel miliknya yang doo berikan Darren beberapa waktu lalu.


"Iya, saya pulang cepet karna mau ngajakin kamu ngerujak, Nuuuul," jawab Darren sambil terkekeh , panggilan pembantunya itu benar benar candu untuknya sendiri yang kadang merasa geli karna seumur hidupnya baru kali ini menyebut nama Minul.


"Rujak apa? Buah?" tanya Shaquenna dengan tatapan yang sangat di sukai oleh Darren.


''Hem, emang ada rujak yang lainnya?" tanya balik pria yang entah kenapa mendadak kedua pipinya kini mirip dengan buah jambu air, merah merona.


.


.


.


Ada, Tuan, mau??"

__ADS_1


__ADS_2