
🍂🍂 Part 23 🍂🍂
Ehem...
Suara deheman Darren yang sudah duduk tepat di samping pembantunya membuat gadis itu menoleh. Wajahnya yang berantakan mirip Alien justru semakin tak karuan karna derai air mata yang membasahi kedua pipi si Minul alias Shaquenna RanJa BiantaRahardian Bramasta.
"Masih marah sama mama? kok belum masuk juga?" tanya Darren saat melihat pembantunya itu duduk sendiri memeluk lutut di area cuci dan jemur baju.
"Aku capek, mikirin toge sama kacang, huaaaaaaaaa----," bukan berhenti tangisnya semakin menjadi hingga bukan hanya cairan bening saja yang kembali tumpah tapi cairan cairan lainnnya juga.
"Memang kamu gak pernah makan sambel kacang?" tanya Darren yang merasa lucu dan geli sendiri melihat pembantunya.
Belum terasa sekali memang keanehan yang di tunjukan oleh Shaquenna, Darren hanya berpikir jika gadis itu tak tahu apa-apa karna memang ia dari orang kurang mampu, padahal yang sebenarnya si pembantu hanya tahu kenyang saja tanpa mau tahu asal usul pembuatannya.
"Maafin Mama ya, mama kurang jelas saat minta tolong ke kamu," lanjut Darren lagi yang sering tak enak hati saat mendengar Mama sering memarahi si Minul.
"Yang harusnya minta maaf kan Nyonya, bukan Tuan, hiks--," jawab Shaquenna masih terisak sedih.
__ADS_1
Namun, Darren malah mengusap punnuggung gadis itu dan malah membuat Shaquenna ingin menjatuhkan kepalanya di depan dada sang majikan yang tak lain adalah pria incarannya.
.
.
.
Sudah hampir satu minggu, anak tunggal keturunan Bramasta itu tak kunjung pulang, membuat Pangeran dan Senja yang tak tahu apa apa tentu sangat khawatir.
"Mau kemana kalian?" tanya Daddy Andra saat melihat anak dan menantunya itu baru saja keluar dari kamar mereka.
"Kemana?" tanya Tuan besar Bramasta itu lagi.
"Kemana aja, entah ke rumah utama atau ke kediaman Rahardian lainnya karna di rumah Mimih gak ada, bahkan gak kesana sama sekali." Senja yang seolah pasrah tak bisa menunggu terus menerus kepulangan Shaquenna yang anak itu sendiri saja tak bisa memastikan.
Daddy Andra hanya mengangguk, ia yang baru melepas rindu dengan si Mbul 15 menit lalu lewat sambungan telepon tentu mendukung misi pencarian cucunya itu, tapi Daddy tak akan memberi tahu dimana Shaquenna sebenarnya berada saat ini.
__ADS_1
"Ya sudah, kalian temui Si Mbul, bawa pulang ya, bilang padanya kalau Daddy kangen," pesan pria baya itu yang di iyakan oleh Pangeran dan Senja.
"Inget ya, Ndut. Pantang pulang tanpa Si Mbul," ancamnya lagi tak main main.
"Iya, Dadd."
Sepasang suami istri itu pun pergi dari rumah menuju rumah utama lebih dulu, mereka masih menerka nerka dimana sang putri berada, karna jika bertanya kepada yang lain tentu jawaban nya memang Shaquenna tak ada di rumah mereka, namun gadis nakal itu terus meyakinkan jika selama ini ia menginap di salah satu rumah sepupunya.
"Kalau ShaSha tetep gak ada juga gimana? aku kok takut banget ya," ucap Senja, baru kali ini ia di buat pusing oleh tingkah putrinya sendiri yang bak sedang bermain petak umpet.
"Sabar, Sayang. Mbul gak akan kemana mana," jawab Pangeran mencoba menenangkan.
"Iya, tapi buktinya gak pulang pulang, baru ini loh dia main sampe kita cariin begini," kata Senja lagi, ia bahkan sampai tak enak makan dan tidur karena tak yakin dengan anaknya sendiri.
.
.
__ADS_1
.
Coba nanti kamu tanya PapAy ya...