Pangeran Senja

Pangeran Senja
Nasi uduk


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Bunda rasa bukan karna itu , melainkan---," tebak Bunda masih dengan tatapan serius.


"Melainkan apa?" tanya Senja yang penasaran.


"Masuk angin! mungkin kamu tak terbiasa dengan kipas semalam tadi," jawab Bunda yang belum di respon apapun oleh Senja.


Ia tak bisa mengiyakan sebab ini pertama kalinya bagi wanita itu tidur tanpa pendingin ruangan melainkan hanya dengan kipas angin biasa.


"Aku gak tau, Bun. Tapi aku sedikit mual juga sekarang," sahut Senja lagi yang mendadak tubuhnya tak enak sama sekali.


Bunda yang mendengar keluhan dari Senja langsung meraih gelas di samping kasur, yaitu teh manis yang kini sudah hangat tak sepanas saat di bawa kurang lebih 15 menit lalu.


"Minum dulu, Bunda akan cari sarapan untukmu. Kamu mau apa? bubur ayam?" tawar Bunda yang sebenarnya bingung dengan kedatangan Senja yang jauh di atas keluarga mendiang suaminya.


Wanita itu terus memeras otaknya untuk berpikir jamuan apa yang pantas diberikan untuk Sang Nona muda.


"Apa saja, Bun. Sepotong roti pun tak apa," jawab Senja yang di luar dugaan.


Pantas saja Pangeran teramat mencintai Senja yang tak banyak tingkah dan selalu rendah hati. Meski kaya raya dan manja tapi ia tetap bisa menempatkan dirinya dimana dan dengan siapa kini wanita cantik itu berhadapan.


Sikapnya yang kadang pemalu namun tak sungkan memulai obrolan lebih dulu membuat siapapun betah bersamanya, ia bisa mencairkan suasana agar jauh dari kesan canggung.


"Ya sudah, biar Bunda carikan untuk kalian ya."


"Hem, Bun. Pangeran sudah bangun?" tanya Senja karena ia belum di hampiri pria itu. Ada rasa lain saat membuka mata tak melihat sosok Sang suami yang sedang mendengkur halus.


"Jangan harap Pangeran bangun pagi disini, jika belum lapar matanya tak akan terbuka," jawab Bunda sambil tertawa kecil dan itu sukses membuat Senja kaget tak percaya.


Selama menyandang status suami istri, Pangeran tak pernah bangun lewat dari jam 8 pagi, mungkin kah disini ia akan lebih siang dari itu?


.


.


.


Bunda yang baru sampai ke pondok utama langsung menghampiri Enin dan anak sambungnya, Mommy Viana.


"Mereka sudah bangun, Bun?"


"Baru Senja saja yang bangun, badannya hangat mungkin ia masuk angin karna tak biasa tidur dengan kipas," jawab Bunda.


"Pakai kipas aja masih banjir loh," sahut Mommy Viana yang aneh dengan kondisi badan menantunya tersebut.


"Tapi cukup nyenyak juga semalam tidurnya, gak banyak ngeluh."


Dan obrolan ketiganya terpotong saat Babah Hj datang menghampiri.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab ketiganya serempak secara bersamaan.


"Maaf, Nak Viana Babah Hj boleh bertanya?"


Mommy Viana bukan menjawab, ia malah menoleh kearah Bunda, hal ini nyaris tak pernah terjadi padanya selama main ke Pondok.


"Hem, i--, iya, Bah. Ada apa ya?" tanya balik Mommy Viana, padahal pria baya di hadapannya itu sedang tersenyum namun hatinya tetap berdebar hebat.


"Apa ini milik Nak Pangeran?" tanya Babah Hj, sembari memperlihatkan sebuah benda pipih kearah tamunya tersebut.


Tak perlu memperhatikan dengan seksama, karna nyatanya Mommy Viana langsung bisa menebak jika ponsel yang ada di tangan Babah Hj adalah benar ke punyaan Sang Putera.

__ADS_1


"Iya, Bah. Itu punya Pangeran, kenapa ada di Babah ya? tanya Mommy Viana keheranan. Begitu pun dengan Bunda dan juga Enin yang akhirnya saling pandang.


" Syarip yang menemukannya di kebun subuh tadi, mungkin terjatuh," jawab Babah Hj.


"Terjatuh? bukannya habis makan malam Pangeran masih Terima telepon? lalu kapan terjatuh di kebunnya?" gumam Mommy Viana semakin di buat tak paham.


Babah Hj hanya tersenyum, ia sudah tahu dari Bunda yang lebih dulu cerita. Pria baya itu tak marah sama sekali karna memang di tempatnya sulit untuk untuk mencari makan apalagi diwaktu tengah malam.


Mommy langsung menerima Si benda pipih milik Pangeran yang di sodorkan Babah Hj, ia juga dengan seksama mendengarkan ceria dari pria itu dan Bunda.


"Ya ampun! kelakuan anak dan ayah sama saja!" geram Mommy menahan kesal.


"Sudahlah, tak apa. Ayo balik ke Pondok Bunda. Ini sarapan kalian sudah ada," kata Bunda masih dengan kekehan kecil, ia ingat bagaiamana raut wajah cucu dan mantunya semalam yang menggemaskan.


Sebelum beranjak, Mommy Viana mengulang permintaan maafnya. Ia berjanji akan menjewer telinga Sang suami yang kali ini tak akan di beri ampun.


.


.


Selama perjalanan menuju Pondok Bunda, ocehan demi ocehan dia layangkan oleh Mommy Viana sedang ibu sambungnya hanya tersenyum di balik cadar yang ia kenakan.


"Kan sudah Bunda bilang, makanan yang kalian bawa jangan di berikan semua ke Pondok utama."


"Tapi ini tak pernah terjadi, Bun. Kami bukan kali ini loh! menginap di sini. Tapi ini yang pertama kalinya mereka bikin ulah. Lapar tengah malam dijadikan alasan untuk mencuri kentang di kebun? Huh, ini keterlaluan, Bun." omel Mommy yang kesalnya sudah nampak di ubun ubun.


"Ada toples di teras, mungkin mereka gak kenyang kalau ngemil. Beda sama makan, kan kentang cukup bikin kenyang, Vi."


Ya, memang benar yang di katakan Nyonya Bramasta jika ini pertama kalinya Daddy Andra dan Pangeran berbuat yang macam macam di luar dugaan mereka.


Ceklek


Sampai di Pondok, Mommy langsung masuk dengan membukakan pintu cukup lumayan keras, Di lihatnya Suami dan Sang anak masih terlelap saling berlomba dalam mendengkur. Tampang keduanya begitu mirip jika sudah begini dengan gaya dan posisi tidur meringkuk saling berhadapan di balik sarung yang melindungi dari rasa dingin.


Dulu, anak itu masa bodoh dengan benda lonjong mirip pocong tersebut, tapi semenjak menikah dan terbiasa memeluk Senja ia jadi bingung sendiri harus tidur dengan gaya apa.


"Dadd! BANGUN!" teriak Mommy di telinga kanan, sebelum di jewer nya nanti tanpa ampun.


Bukan manusianya yang bangun, malah justru Si Jendolan yang sepertinya kaget hingga di usap oleh Sang pemilik sebagai tanda sayang.


"Sudahlah, Vi. Mungkin suamimu mabok kentang. Nanti juga bangun, berikan sarapannya lebih dulu pada Senja. Berikan juga obatnya di tempat biasa ya, Bunda akan kembali ke Pondok sebentar," pesan Wanita bercadar tersebut yang langsung di iyakan oleh Mommy Viana.


Urusannya dengan Sang suami belum selesai, tapi ia ingat dengan keadaan Sang menantu yang kata Bunda kurang sehat. Mommy langsung bergegas masuk kedalam kamar dengan semangkuk bubur ayam di tangannya.


"Sen.. Senja, sarapan dulu, Nak." Berbanding terbalik saat ia membangunkan Sang suami, sikap dan suaranya tentu jauh lebih lembut pada menantunya, ia adalah wanita kesayangan Pangeran dan Mommy wajib menghargai hal tersebut.


"Mom," sahutnya dengan suara serak bangun tidur. Ya, Senja memang kembali terlelap saat Bunda keluar dari kamar.


"Ayo sarapan, kata Bunda badanmu hangat, kamu sakit, hem?" tanya Mommy sambil memegang kening dan leher Senja yang selalu cantik meski bangun tidur. Jadi, tak salah jika suaminya bisa langsung bernapsu jika melihat pujaan hatinya tetap glowing meski baru sadar dari alam mimpi.


"Enggak, Mom. Cuma sedikit pusing dan mual aja barusan," jawab Senja yang benar-benar merasa tak enak sekali badannya pagi ini.


"Ya sudah habiskan dulu sarapannya, Mommy ambilkan obat ya," ucapnya sambil bangun dari duduknya di tepi kasur.


Tempat yang kecil yang memang hanya cukup untuk satu atau dua orang tersebut memudahkan untuk mencari sesuatu karna tak banyaknya barang. Pondok ini tak selalu di tempati oleh Bunda apalagi jika ada acara atau tamu, ia pasti akan di pondok utama untuk bantu bantu, hal itu juga yang membuat Mommy dan Daddy sulit mengajak wanita itu kembali ke ibu kota karna sudah terbiasa dengan aktifitas sibuk dari pagi hingga malam di suasana yang cukup ramai.


Satu dua suap bubur ayam berhasil masuk dengan lancar kedalam perut Senja lewat mulutnya tapi tidak di suapan ketiga dan seterusnya karna ia harus bersusah payah untuk menelannya. Senja melakukan ini hanya untuk minum obat. Ia tak mau sakit di tempat orang begini yang pasti ajak buat repot semuanya, ia harus kuat setidaknya untuk dirinya sendiri.


"Sudah?" tanya Mommy saat ia kembali dan melihat separuh dari sarapan Senja sudah habis.


"Cukup, Mom."


"Iya, tak apa, asal perutmu terisi dulu ya untuk minum obat habis ini baru makan nasi".

__ADS_1


Senja hanya mengangguk sambil mengambil obat yang di berikan oleh ibu mertuanya yang ternyata begitu sangat pahit hingga serasa ia ingin memuntahkannya kembali, tapi beruntungnya Mommy langsung memberinya permen mint yang bisa dengan cepat menetralkan rasa mualnya itu.


"Mom, Pangeran sudah bangun?" tanya Senja karna tak juga mendengar suara Sang suami.


"Belum, masih balapan mengukir pulau sama Daddynya. Kamu mau istirahat lagi atau keluar?"


"Hem, keluar deh. Udah gak gerimis kan?" tanya Senja lagi.


"Sudah reda, kamu bisa duduk di teras nanti," jawab Mommy.


Keduanya bangun dari duduk lalu bergegas keluar dari kamar menuju depan pondok. Senja tersenyum saat berjalan melawati Pangeran yang masih mendengkur, ia suka tampang polos itu yang menurut Senja jauh lebih menggemaskan, hampir setiap pagi ia menikmatinya karna Senja memang selalu bangun lebih awal.


"Mommy gak sarapan?"


"Sudah tadi, makan beberapa kue dan gorengan di pondok utama, kamu mau juga? biar Mommy ambilkan," tawar wanita itu saat ia dan menantunya sudah duduk bersama.


"Enggak, Bun. Terimakasih," tolak Senja, setengah mangkuk bubur ayam saja nyatanya sudah sangat membuat perutnya begah.


Keduanya mengobrol banyak hal termasuk awal muasal Bunda ada disini hingga akhirnya mereka rutin berkunjung, tapi dari selama waktu mereka datang baru kali ini Daddy dan Pangeran membuat ulah yang langsung membuat kepala Mommy nya berdenyut kencang.


"Tapi aku gak denger apapun ya, padahal dapur itu dekat kamar, " ucap Senja yang aneh sendiri, se nyenyak itukah Semalam ia tidur?


"Sama, Mommy aja gak denger sama sekali loh, tau ta pagi tadi Babah Hj balikin ponsel Pangeran."


Untungnya saja orang yang menemukan ponsel Pangeran adalah orang yang bertanggung jawab karna mau mengembalikannya. Karna, bukan perkara harga Si benda pipih yang sangat mahal tapi isi dari ponsel itu yang pastinya jauh lebih berharga. Mulai dari beberapa file pekerjaan hingga foto dan video kebersamaan Pangeran dan Senja selama mereka menikah.


.


.


Lewat dari jam 10, Pangeran yang bergeliat lebih dulu langsung mengerjapkan mata saat ia merasa cahaya cukup terang menyapu wajahnya. Jangan tanya seremuk apa tubuhnya saat ini karna tidur hanya beralas kasur lantai biasa dan sarung yang membuatnya serba salah. Tubuhnya yang tinggi tentu tak bisa membuat kain tersebut menutupi seluruh badannya. Jika ia pakai untuk kepala, nyatanya hanya sampai sebatas pinggang saja, begitu pula jika ia gunakan untuk menutupi bagian bawah yang hanya sampai di setengah tubuhnya saja.


Pangeran bangun dan langsung duduk sembari ia kumpulkan kesadaran lebih dulu setelah ia ingat kini sedang ada dimana. Tapi, pusat otaknya tentu langsung tertuju pada Sang istri yang ada di kamar, di datanginyalah wanita itu yang ternyata tak ada disana.


"Senja kemana ya?" gumamnya di dalam kamar sambil usap usap Si jambrong yang ikut bergeliat seperti biasa di pagi hari.


Tak langsung keluar, Pangeran memilih untuk membersihkan dirinya lebih dulu dari kotornya sisa sisa tanah dan dosa yang ia lakukan semalam bersama Daddy nya.


Sudah di rasa rapih, tampan dan wangi, Pangeran bergegas keluar dan benar tebakannya jika Senja ada di teras bersama Mommy meski rasanya tadi ia tak mendengar suara dua wanita itu mengobrol.


"Kangeeeeen," rajuk Pangeran sambil memeluk Senja dari samping, ia benar-benar rindu wanita sebab selama menikah semalam adalah yang pertama mereka tak tidur bersama.


"Siang nanti kita pulang," sahut Mommy karna Senja hanya senyum senyum, ia pun merasakan hal yang sama apalagi semalam ia sangat butuh sebuah pelukan dimana badannya sedang tak enak sama sekali.


"Aseeek, bisa bobo bareng lagi kita, kamu udah sarapan, Sayang?" tanya Pangeran.


"Sudah, tadi Mommy bawain bubur ayam," jawab Senja.


"Terus aku sarapan apa?"


"Nasi uduk kaya biasa," sahut Mommy karna Senja tak tahu perihal tentang ini, tebakannya malah mereka akan makan bersama seperti biasa.


Sudah lama tepatnya sejak dulu, keluarga Bunda selalu memilih sarapan nasi uduk langganan yang menurut Daddy itu adalah yang paling enak, di banding harus bersama dengan keluarga Bahagia Hj kecuali saat makan siang dan malam.


Pangeran yang mendengar kata Nasi uduk tentu langsung bangun. Ia kembali masuk untuk mengambil sarapannya yang ternyata ada di atas meja. Tapi, jiwa isengnya mulai meronta saat ia melihat Daddy nya masih saja mendengkur dengan nikmatnya, ia pun mendekat lalu berbisik


.


.


.


Dadd, nasi uduk nya Ndut bawa abul ya.....

__ADS_1


__ADS_2