
🍂🍂 Part 16 🍂🍂
"Apa dia bilang tadi?! tak suka nasi, cukup buah dan susu. Memang perut ku ini perutnya?" Mama yang berada di dalam kamar mandi terus mengoceh tentang pembantu jadi jadian putranya itu.
Mama sungguh tak habis pikir, Darren mendapatkan si Minul entah dari yayasan mana, Mama yang tahu jika Darren adalah orang yang cukup pemilih dalam segala hal tak sampai berpikir jika anaknya itu asal memperkerjakan orang asing di Unit Apartemennya yang jarang sekali di ketahui.
Mama yang sudah mandi, langsung keluar dari kamar dan itu bertepatan dengan datanya Darren serta Shaquenna.
"Ayo, Mah. Sarapan dulu," ajak Darren saat ia berjalan ke arah dapur.
Shaquenna yang mengikuti dari belakang langsung menyiapkan dua piring lengkap dengan sendok garpu.
"Tuan mau saya buatkan teh?" tanya Shaquenna.
"Ya, tanpa gula," jawab Darren yang di iyakan oleh si pembantu jadi jadian yang menganggap ini adalah training menuju halal.
"Kamu gak nanya saya?" tanya Mama yang tak suka di abaikan.
"Oh ya, lupa. Nyonya mau apa?" tanya Shaquenna malas.
__ADS_1
"Air putih," jawab Mama.
"Itu ada di atas meja, tinggal ambil, Nyah."
"Hey--kamu!!"
Darren yang sudah lapar tentu langsung mengusap lengan sang pemilik surga, ia tak ingin mamanya sampai kejang kejang karna terus berdebat dengan pembantu barunya itu. Unit Apartemen yang biasanya damai, tentram dan sunyi kini layaknya pasar pagi, ada saja teriakan yang di dengan pria tampan yang tubuhnya baru berasa mendingan.
"Si Menul, Dareen!"
"Iya, Mah. Minul ya, Mah. Mama jangan ganti namanya lagi, nanti Darren di minta bikin bubur putih dan merah," ujarnya yang untung punya stok sabar.
Ibu dan anak itu makan denga lahap, emosi ternyata membuat keduanya menjadi lapar dan menghabiskan nasi uduk yang sudah dibeli Darren barusan.
"Mah, aku mandi dulu ya, sudah siang, aku mau siap siap ke kantor," ucap Darren setelah meletakkan sendok dan garpu di atas piring kotor.
"Iya, Nak. Tapi, kamu memang sudah baikan. Tak apa, tak perlu bekerja jika masih tak enak badan," pesan Mama yang merasa khawatir.
"Udah enak kan. Gampang, nanti kalau pusing lagi aku pulang ya," balas Darren yang bangun dari duduk lalu bergegas masuk kedalam kamarnya untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Selesai dengan ritual mandinya yang tak lama, Darren buru buru memakai stelan jasnya yang sudah ia siapkan lebih dulu. Ia begitu sangat tampan meski tak se segar biasanya.
Ceklek
Darren yang keluar dari kamar langsung mencari sosok sang Mama untuk pamit pergi bekerja, ia yang tak punya waktu banyak harus siap melewati drama permacetan yang biasa terjadi di ibu kota saat pagi dan sore hari.
"Hati hati di jalan ya, Nak. Kabari Mama jika sudah sampai kantor," pesan wanita paruh baya itu sambil merapihkan pakaian dan dasi Darren yang berdiri di depannya.
"Iya, Mama juga."
"Duh, entah lah, Nak. Kayanya tensi Mama naik terus kalau susah berhadapan dengan si Menul," adunya yang memasang wajah sedih.
.
.
.
Sabar ya, Mah. Pokonya yang Waras harus ngalah
__ADS_1