Pangeran Senja

Pangeran Senja
Kebon Tomat


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Permen gagang yang di sodorkan Pangeran langsung di ambil oleh Senja, ia tersenyum kemudian berlalu pergi menghampiri ibu mertuanya yang masih memilih beberapa kue yang akan di jadikan buah tangan di PonPes tempat tinggal Bunda.


"Mom, aku mau ini, tapi untukku ya," ucap Senja sambil memperlihatkan apa yang sudah ada di tangannya.


"Tentu, ambilah yang kamu mau," jawab Mommy Viana yang pastinya tak mempermasalahkan hal tersebut, apapun yang di inginkan menantunya pasti akan di turuti.


"Ambil yang banyak, mumpung ada Daddy yang bayar, " ledek Pangeran yang bagai kucing dan tikus dengan Daddynya tersebut.


"Kok Daddy, itu istri siapa?"


"Itu menantu siapa?" tanya balik Pangeran tak mau kalah.


Hal sepele begini saja sudah mampu membuat para istri mengusap dada masing-masing.


Tak mau lagi perduli, Mommy dan Senja berlalu ke meja kasir. Wanita itu meninggalkan suaminya asal kartu ajaib sudah ada di tangan.


Satu persatu barang belanjaan di hitung dan di masukan kedalam dus agar tak remuk, itu juga yang memudahkan untuk nanti di bawa di banding dengan plastik.


Transaksi pembayaran selesai, kini saat masuk kembali ke mobil lalu melanjutkan perjalanan yang sebentar lagi harusnya sampai, akan tak lebih dari 60 menit jika tak ada kendala apapun di depan sana.


"Mommy, mau?" tawar Senja saat ia membuka kue madu yang di pilihnya barusan.

__ADS_1


"Enggak, Sayang. Duh kepala Mommy kok berat sebelah gini ya?"


"Mau ku ambilkan minum? teh hangatnya masih ada kok" tawar Senja yang langsung mencari tempat minum air hangat yang sengaja di bawa dari rumah.


Segala bentuk saling perhatian termasuk hal langka yang terjadi mengingat mereka baru kenal saat menikah saja. Tapi rasa terbuka dan menerima menjadikan semua terasa begitu manis di antara mertua dan menantu tersebut.


.


.


.


Sampai di Pondok, Senja turun paling akhir setelah Mommy dan Daddy. Ia lalu di gandeng Pangeran untuk berjalan di belakang orangtuanya.


Kurang lebih 30 menit menyapa dan berbasa basi, mereka langsung ke Pondok tempat tinggal Bunda yang ada di belakang. Cuaca yang sedikit mandung nyatanya menambah rasa sejuk yang dirasakan Senja.


"Enak ya tempatnya, bikin betah," bisik Senja pada Pangeran.


"Mau pindah kesini?"


"Ish, enggak lah. Kan kamu kerja, masa kita pisah sih. Gak mau," tolak nya cepat dan langsung menunjukan tingkat kebucinannya.


"Sama aku tinggal disini, kita jadi Santri Halal," jawab Pangeran terkekeh.

__ADS_1


Senja yang mencibir malah berjalan lebih dulu, tapi langkah kakinya malah tak sesuai arah yang seharusnya, dimana yang lain masih lurus ia malah belok ke kenan.


"Sayang, kamu kemana" teriak Pangeran saat istrinya terus berjalan di depannya yang mau tak mau mengikuti.


"Sini, ada kebun tomat," balas Senja yang berteriak juga.


Pangeran yang takut Senja kenapa-kenapa tentunya langsung menghampiri.


"Ngapain?" tanya Pangeran.


"Tomatnya udah mateng kok belum di petikin sih, itu udah merah merah loh."


"Belum waktunya kali, udah yuk nanti di cari Bunda sama Mommy," ajak Pangeran sambil mengulurkan tangan namun di tepis oleh Senja.


"Sayang--- ayo," anaknya lagi yang tetap mendapat penolakan.


.


.


.


Aku mau ngerujak tomat...

__ADS_1


__ADS_2