Pangeran Senja

Pangeran Senja
Bersenang-senang bersamaku


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Senja keluar dari kamar mandi dengan tampang datar, ini pertama kalinya ia merasa tak nyaman saat bersama Pangeran dan sialnya ia tak bisa menghindar dari pria itu. Entah apa yang harus ia lakukan karna yang jelas Senja hanya ingin menghilang untuk sekarang ini.


"Sayang--," panggil Pangeran saat Senja melewatinya.


"Aku mau ke bawah, mau cari cemilan."


Mau tak mau Pangeran akhirnya membiarkan Senja keluar dari kamar, mungkin wanita itu sedang butuh waktunya sendiri sampai memilih untuk menghindar. Pangeran percaya, jika Senja adalah wanita dewasa yang tak akan gegabah mencerna mentah mentah semua yang ia dengar dari satu pihak saja.


"Baiklah, aku memberimu kesempatan untuk berpikir mana yang harusnya kamu percaya," tegas Pangeran.


Tak ada jawaban lagi dari Senja, ia benar-benar melengos pergi begitu saja, bahkan pintu kamar pun tak ia tutup kembali dan terbuka begitu saja. Pangeran yang ikut kesal karena hal ini mencoba untuk balik menghubungi Putri yang jauh beda negara dengannya.


Sekali, dua kali dan di panggilan ketiga lah telepon dari Pangeran baru tersambung. Tak ada sapa ramah atau sekedar basa basi yang di ucapkan Pangeran yang nyatanya langsung ke inti yang ingin ia tanyakan.


"Bicara soal apa saja tadi dengan Senja?"


"Aku? tak ada, Ran, hanya obrolan wanita biasa saja, kenapa? apa dia mengadukan sesuatu padamu, hem?" tanya balik Putri.


"Bisa jujur padaku kan? aku yakin kalau bukan hanya suntik Vitamin yang kamu katakan padanya, melainkan ada hal lain," cecar Pangeran yang masih mencoba sabar dan tak meninggikan nada bicaranya.


"Kamu sangat mencintainya kan? harusnya kamu percaya padanya, bukan sekarang malah menuduhku seperti ini."


"Aku tak menunduhmu, aku hanya bertanya apa saja yang kamu katakan padanya, Put!" sentak Pangeran yang akhirnya lepas kendali juga.


Terdengar suara tawa yang cukup kencang di sebrang sana sampai Pangeran mengernyitkan dahi saking herannya dengan sikap Putri yang tak biasa saat ini.


"Put, kamu baik baik saja kan? Putri! jangan buatku khawatir, hey!" teriak Pangeran, tapi tak ada sahutan sama sekali, yang terdengar masih suara gelak tawa yang menurut Pangeran itu benar benar tanpa alasan.


"Istrimu itu wanita paling baik dan sempurna, tak mungkin ia bohong padamu, Ran!" Putri meyakinkan masih di tengah gelak tawanya.


Rasa kesal Pangeran kini berubah jadi panik dan takut jika Putri melakukan hal di luar batas mengigat mereka begitu sangat jauh sekarang, tak ada yang bisa menjamin wanita itu tak melakukan apa-apa yang membuat ia rugi sendiri nantinya, karna watak yang cukup lumayan keras serta sulitnya Putri mengontrol emosinya sendiri.


"Put, dengarkan aku, kamu dimana?" tanya Pangeran.


"Apa pedulimu, Ran? bukankah aku tak pernah penting dan selalu menyusahkanmu, hem?" jawabnya yang kini terdengar menangis.


Suara Sesegukan yang begitu sedih seakan menggambarkan bagaimana ia sangat terluka dan kecewa, membuat kepala Pangeran seakan mau pecah saat ini. Rajukan Senja saja belum bisa ia taklukan dan sekarang justru di tambah lagi dengan Putri yang entah kenapa jadi aneh mendadak seperti ini.


"Aku minta maaf," ucap Pangeran yang berharap bisa membuat wanita di sebrang sana itu jauh sedikit lebih tenang.


"Berhenti melakukan itu, kamu tak pernah salah. Aku yang selama ini salah," jawab Putri masih terdengar sedih.


"Baiklah, aku tak akan memaksamu untuk menceritakan apa yang sudah kalian bicarakan tadi. Aku benar-benar minta maaf. Jaga dirimu disana ya," pesan Pangeran yang langsung menutup panggilan teleponnya.

__ADS_1


Ia tahu, Putri hanya memancing keributan antara ia dan Senja. Senja yang dikatakannya sebagai wanita terbaik tak mungkin berbohong sedangkan Senja tak mau buka suara sama sekali padanya.


"Kenapa wanita itu begitu rumit sih?" Pangeran yang duduk di tepi ranjang sampai mengacak rambutnya saking frustasi.


.


.


.


Senja yang ada di lantai bawah duduk seorang diri di meja makan dengan segelas jus Apel yang ia buat sendiri, meski ART menawarinya ia tetap melakukannya tanpa bantuan sama sekali, Senja hanya ingin menyibukkan dirinya dengan tak mau ingat lagi apa yang sudah ia dengar dari Putri kecuali di bagian bagian terpentingnya saja.


"7 tahun hidup bersama, mungkin kah mereka tak melakukan apapun?" gumam Senja yang kepalanya mulai berdenyut sakit.


"Tanpa pengawasan dan jauh dari orang tua, tentu tak ada yang tak mungkin kan? toh mereka sudah sangat dewasa dan pastinya normal," sambungnya lagi yang kini kedua matanya sudah berkaca kaca.


Ia tahu, jika pria tak pernah punya bekas sekalipun perjaka nya hilang. Berbanding terbalik dengan wanita, lalu bagaimana dengan Putri jika misalnya.....


"Ah, tidak! suamiku pria baik," ujar Senja saat pikirannya mulai di lewati hal hal yang kotor.


"Tapi---," desahnya pasrah saat ia ingat bagaimana ber napsunya Pangeran selama ini dalam berhubungan badan dengannya.


"Ya Tuhan, Bagaimana ini? aku dan Putri sama-sama wanita, aku tau perasaannya jika aku menjadi dia sekarang meski mereka melakukannya atas dasar suka sama suka."


Senja bukan orang bodoh, meski Putri tak berkata secara gamblang tapi ia paham maksudnya dan itu memang sangat lumrah dan bukan lagi hal tabu di negara sana.


"Sen, sendiri aja, Pangeran mana?" suara Mommy yang tiba tiba tentu membuat Senja menoleh mendadak tanpa sempat menghapus air matanya.


"Kamu menangis?" tanya Mommy kaget, ia langsung menarik kursi meja makan dan duduk di sebelah menantunya.


"Enggak, Mom. Ini--, ini tadi kelilipan, iya tadi kena hewan kecil yang terbang jadi perih banget," jawab Senja terbata.


Tapi Mommy tentu tak percaya begitu saja, ia pernah muda dan juga pernah menikah mendadak seperti Senja sekarang.


"Mommy tak memaksamu untuk cerita, tapi jika kamu butuh teman berbagi saja tentu Mommy akan dengarkan bagaimana?" tawar Mommy Viana yang kini mencoba memposisikan dirinya sebagai teman lebih dulu.


"Aku--, aku hanya merasa asing untuk Pangeran, aku tak tahu apapun tentangnya, Mom. Dan bodohnya aku pun tak berusaha mencari tahu semua itu. Sesudah menikah, aku memilih menjalaninya sesuai alur yang ada di depan kami begitu saja dan sekarang aku yang bingung sendiri," jelasnya sambil menunduk.


"Tak perlu susah susah mencari tahu, orang yang mencintai kita tentu tak akan berpura-pura. Saat ia nyaman, ia akan menjadi dirinya sendiri. Sekeras apapun kamu mencari tahu dari orang-orang di sekitarnya tentu tak akan sama dengan yang kita tahu sendiri saat sedang bersamanya. Baik buruknya suami tentu hanya istri yang tahu, sekalipun itu ibu dan saudara kandungnya. Hanya istri yang hafal ritme dengkurannya, sederas apa air liurnya saat terlelap, semalas apa kelakuannya ketika dirumah, sebau apa tubuhnya saat malas mandi dan setampan apa wajahnya saat bangun dari mimpinya."


"Iya, Mom. Tapi untuk makanan kesukaannya saja aku tak tahu," kata Senja yang mulai terisak.


"Kehidupan seseorang biasanya akan berubah saat menikah, coba saja kamu masak untuknya dan lihat selah apa ia makan makanan yang di buat dari tanganmu itu. Jika dengan Mommy ia suka ayam, mungkin saat kamu masakan ia daging ia akan jauh lebih suka itu."


Senja mengangguk paham, perlahan ia akan cari tahu sendiri apapun yang ada dalam diri suaminya tanpa berpatok dari Katanya...

__ADS_1


.


.


.


Cek lek


Sambil membuka pintu, Senja juga menarik napas dalam-dalam sebelum ia jauh masuk kedalam kamar yang baru kemarin ia tempati.


Pangeran yang mendengar suara pun akhirnya menoleh, tak ada senyuman dari keduanya. Melainkan mereka sama-sama berjalan untuk. mendekat satu sama lain.


Dan saat keduanya sudah saling berhadapan, Pangeran langsung mendongakkan wajah Senja yang menunduk.


"Aku tak tahu apa yang sudah terlanjur kamu dengar tentangku, tapi aku harap, hanya aku yang kamu percaya sebab tak pernah sekali pun aku mengkhianatimu," ucap Pangeran, kedua mata yang saling menatap tentu sangat membuktikan jika ada cinta disana.


"Aku hanya terlalu overthinking, Ran. Aku percaya padamu bahkan saat seluruh dunia menghakimu, aku janji tak akan lagi merajuk apalagi mencemburuimu, aku janji," jawab Senja yang tangisnya langsung pecah seketika di hadapan a


Sang suami.


Pangeran yang mendengar hal tersebut langsung menarik tubuh Senja kedalam pelukannya, ia dekap dengan erat sambil di ciumi juga pucuk kepala istrinya berkali-kali.


"Aku hanya ingin kenal denganmu lebih dalam, tahu apa yang kamu suka dan tak suka. Aku juga ingin mengingatkan banyak hal padamu, Ran. Aku ingin itu. Aku ingin menjadi teman segala urusanmu."


"Kamu terlalu terburu-buru, Sayang. Nikmati saja semuanya yang terpenting aku selalu menjadi diriku sendiri saat bersamamu. Aku tak akan menuntut apapun darimu. Mari bersenang-senang bersamaku," balas Pangeran yang justru lebih memprioritaskan kebahagiaan Senja dibanding dirinya.


"Ran--,"


"Putri memang banyak melakukan itu dulu padaku, karna ia ingin merebut perhatianku, masuk kedalam hatiku dan menyenangkanku. Dan itu wajar. Tapi, kamu? kamu tak perlu repot repot melakukan hal itu karna aku sudah mencintaimu dengan hebat. Jadilah dirimu sendiri, Ok."


Senja kembali mengangguk dengan masih berderai air mata. Dan itu langsung dihapus oleh bibir Pangeran yang rasanya selalu manis.


"Maaf," bisik Pangeran yang kembali mengeratkan pelukan.


"Untuk apa? kamu tak salah, justru aku yang sudah ke kanak kanakan seperti ini," tanya Senja.


"Meminta maaf bukan hanya untuk mengakui kesalahan saja, tapi juga untuk mengakui jika ada hati yang takut kehilangan, dan aku tak ingin itu terjadi," jawab Pangeran.


"Aku janji untuk bersikap jauh lebih dewasa," tutur Senja yang teramat menyesal.


.


.


.

__ADS_1


Tak apa, aku justru suka kamu yang cengeng, cemburu dan overthinking, seolah itu pertanda begitu kuatnya cintamu padaku. Karna aku juga tahu jika di balik itu semua ada hati yang lembut penuh kasih sayang, setia yang tak dk ragukan dan ketulusan yang mengagumkan.


__ADS_2