Pangeran Senja

Pangeran Senja
Negara, waktu dan perasaan


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Putri," gumam Pangeran dengan mata tak lepas dari layar ponselnya.


Mau tak mau dah harus mau, ia pun mengangkatnya karna sudah bisa menebak secemas apa wanita itu saat ini.


"Iya, Put," jawab Pangeran.


"Ran, kamu dimana? kenapa gak angkat dan balas semua pesanku sih?" tanya Putri langsung tanpa basa basi.


Pangeran diam sejenak, ia bingung harus beralasan apa sebab tak biasa berbohong dalam hal apapun dan siapapun selama ini.


"Ran, kamu denger aku gak?"


"Hem, iya," sahutnya lagi sambil bangun dan berjalan ke arah kamar meninggalkan Mommy dan Daddynya yang diam saling tatap, padahal barusan mereka sedang melakukan pernah dunia ke 3.


Cek lek

__ADS_1


Pangeran membuka pintu kamar dengan tangan kanan sebab tangan kirinya masih memegang gawai dimana Putri masih berbicara dengannya.


"Ponselku tak sengaja ke Silent, maaf."


"Satu hari ini kamu gak mungkin kamu gak liat ponsel, Ran."


Lagi dan lagi Pangeran hanya diam, mau berbohong pun rasanya tak mungkin masuk akal untuk mengatakan IYA sedangkan ia tak punya alasan. Pangeran tahu jika ada beberapa pesan dan panggilan tak terjawab tapi ia tak bisa membalas dengan leluasa karna ada Senja.


Ya, Senja adalah alasan kenapa ia melakukan hal bodoh tersebut pada Putri.


"Aku sibuk, kamu tahu kan aku tak pernah berbohong padamu, hem?"


10 tahun bersama, tentu Putri tahu semua tentang Pangeran termasuk orang orang terdekatnya. Wanita itu tak sulit untuk mencari karna semua kenalan Pangeran kenal juga dengannya. Begitu pun dengan para karyawan kantor termasuk sekertaris pria itu.


Dan mendengar hal itu Pangeran hanya bisa membuang napas berat, ia harusnya sudah siap jika hal ini akan terjadi ketika dirinya singgah di tempat lain.


"Iya aku minta maaf," ucap Pangeran lagi. Tak ada yang bisa ia katakan lagi kecuali maaf dan maaf sebab tak ingin memperpanjang masalah atau memperbanyak pertanyaan.

__ADS_1


"Aku selalu percaya padamu, Ran. Selalu, karna aku tahu kamu tak pernah bohong padaku dalam masalah apapun termasuk kali ini, tapi aku justru merasa ada yang kamu sembunyikan dariku," ujar Puteri dengan suara parau seperti sedang menahan tangis.


Pangeran menarik napas lalu di buangnya perlahan, ia sedang membayangkan wanita itu kini sedang sedih karna ulahnya yang di sengaja. Puteri bukan orang lain baginya, 7 tahun di negeri orang dalam suka dan duka telah mereka lalui bersama hingga dua bulan terakhir Pangeran memutuskan untuk pulang karna sedang melakukan kerja sama dengan salah satu perusahaan besar di sini. Ia tahu ini berat bagi wanita itu yang sudah terbiasa bersama dengannya.


"Tak ada yang sedang ku tutupi, percaya lah," rayu Pangeran.


"Maunya, maunya aku bilang IYA, tapi hatiku bilang TIDAK, Ran. Kamu gak pernah gini sama aku, aku tahu kamu. Ayo katakan padaku, jangan buatku penasaran dan akhirnya mencari tahu sendiri apa yang kamu lakukan disana tanpa aku," jerit Putri yang tak bisa lagi membendung tangisnya.


Sulit bagi wanita itu untuk baik baik saja saat jarak yang begitu jauh terbentang di antara mereka. Karna bukan hanya negara dan waktu yang berbeda tapi juga perasaan, dan Puteri sadar akan hal itu.


"Put, dengerin aku dulu, aku---,"


.


.


.

__ADS_1


Aku TUNANGAN mu, Ran. Kamu gak lupa itu kan?


__ADS_2