
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Hati terus berlalu, Bunda yang empat hari ada di rumah tadi pagi sudah pulang ke pondok di antar Supir dan itu kesempatan untuk Senja pulang sebentar ke rumahnya meski sekedar makan malam bersama. Dan kini ia akan memberanikan diri untuk meminta izin pada Sang ibu mertua yang kebetulan ada di ruang tengah.
"Mom--," panggil Senja pelan dan beruntungnya masih bisa di dengar.
"Senja, ada apa? duduk sini, Nak," sahut Mommy sambil menepuk sofa di sebelahnya yang kosong.
"Hem, aku mau minta izin pulang sore ini, boleh?"
"Sudah bilang suamimu belum?" tanya Bunda karna inilah yang paling penting.
"Sudah, Pangeran sudah mengizinkan. Bahkan ia akan lansung menyusul kesana jika Mommy juga memberiku izin untuk pulang," jelas Senja.
"Pulanglah, yang terpenting itu kan suamimu. Jika Pangeran Ok, Mommy pun akan Ok," balasnya sambil meraih tangan istri dari putra tunggalnya tersebut.
Sebelum Senja, tentu yang menjadi menantu adalah Mommy, sebelum ia sebaik sekarang tentu Mamih lah yang paling baik menurutnya meski dulu saat masih remaja ia pernah berdoa jika bisa mendapat yang yatim pintu saja sekalian agar tak punya mertua, tapi Tuhan justru tak mengabulkannya sama sekali. Mommy diberikan suami dari keluarga yang sangat lengkap.
"Terima kasih, Mom. Aku siap siap dulu sekarang."
Senja beranjak dari sofa ruang tengah menuju kamarnya lagi. Ia bereskan barang yang akan dibawanya yaitu ponsel dan dompet, cukup dia itu saja sebab yang lain sudah ada di rumahnya semua.
"Beres, sekarang tinggal nunggu di jemput," gumamnya pelan sambil tersenyum.
Keluar dari kamar, Senja langsung turun dan menuju teras di antar oleh Mommy, keduanya duduk di kursi kayu menunggu sebuah mobil yang datang menjemput.
"Nanti salam untuk Mimihmu ya, sudah lama kami tak bertemu," pesan Mommy Viana pada menantunya. Hanya ucapan salam dan doa yang bisa di berikannya untuk Sang Besan.
"Iya, Mom. Mimih pasti senang dah paham."
Mobil yang di tunggu pun tiba, ini bukan jemputan dari supir melainkan dari kakak sepupunya sendiri yaitu Samudera.
Pria tampan putra mahkota Rahardian itu sengaja di minta Senja untuk menjemputnya mumpung sedang ada di luar..
Basa basi pun terjadi diantara Samudera dan Mommy hingga mereka kali ini benar-benar pamit.
"Hati-hati dijalan ya, kabari Mommy jika akan menginap," pesan Mommy lagi pada Menantunya.
"Iya, Mom. Pasti."
__ADS_1
Di dalam perjalanan ke rumah utama Samudera terus saja meledek Senja terutama pipinya yang mengembang bagai Donat. Setelah beberapa waktu keduanya memang baru kali ini bertemu lagi.
"Kak Biru, suaminya bisa di suruh diem gak?" titah Senja pada istri kakak sepupunya itu.
"Kamu mau kami berciuman di hadapanmu, iya?" tantang Samudera yang langsung membuat Senja membuang napas kasar.
"Kalian ini kenapa sih?" Biru yang pusing mendengar keduanya terus berdebat pun angkat bicara, ia hanya takut suaminya benar-benar menciumnya di depan Senja.
"Kak Sam yang mulai tuh. Awas aja, Appanya SenSen ambil," ancam wanita cantik itu.
"Berani deketin Appa, suamimu pulang tanpa kuping!" balas Samudera tak mau kalah dan itu mampu membuat Senja kaget sampai membulat kedua bola matanya.
.
.
.
Sampai di rumah utama Senja langsung disambut oleh mimihnya, wanita itu terlihat sangat bahagia ketika melihat putrinya datang. Rindu seakan lenyap ketika dua tubuh itu saling berpelukan.
"Apa kabar sayang?"
"Tak apa, asal kamu tetap sehat dan bahagia, Sayang."
Senja mengangguk dalam pelukan wanita yang melahirkanya tersebut Sebesar apapun ia senja akan tetap menjadi anak-anak bagi kedua orang tuanya tak hanya Mimi cahaya nyatanya apa dan ama pun ikut menyambutnya pelukan hangat senja dapatkan dari kedua orang tua baya tersebut rindu pun sama dirasakan senja bagi semua keluarganya yang sudah beberapa hari ini tak bertemu
"Kita makan malam bersama malam ini ya, hubungi juga suamimu aku agar menyusul kemari," kata Appa sambil menangkup wajah cantik Cucu bungsunya
"Iya Appa, aku sudah bilang pada Pangeran dan jika ia mau kami akan menginap di sini hingga besok, " jawab Senja dengan nada bicara sumringah saking bahagianya kini ia sudah ada di rumah utama
"Baguslah itu yang Mimih harapkan," timpal Mimih Cahaya, kini ia hanya menunggu suaminya datang karena katanya pria itu pun sangat merindukan si anak bungsu perempuan satu-satunya tersebut.
Sambil menunggu beberapa orang yang datang juga ke bangunan mewah tersebut, Senja banyak menceritakan banyak hal termasuk pengalamannya ketika datang ke Pondok tempat tinggal Bunda. Tak lupa kejadian konyol yang terjadi antara suami dan ayah mertuanya pun tak luput dari bagian bagian drama seru yang bagai kucing dah tikus. Gelak tawa pun mulai menggema saat Senja begitu antusiasnya memberi contoh bagaimana Mommy menjewer Daddynya.
"Sakit, Sen!" protes Samudera saat dijadikan model oleh adik sepupunya.
"Tahan, aku lagi contohin loh."
"Ya kenapa harus Kakak?" omel Samudera lagi.
__ADS_1
"Maunya kakak!" cetus Senja.
"Appaaaaaa.... SenSen nakal tuh, liat kan Dede di jewer barusan?" adunya pada Sang Gajah.
.
.
.
Makan malam bersama di rumah utama adalah hal paling di sukai oleh semua keturunan Rahardian. Mereka akan bersatu menikmati sajian yang terhampar di atas meja makan yang kali ini di masak langsung oleh Nyonya besar.
"Rasanya tak pernah berubah," bisik Appa Reza yang selalu memuji racikan bumbu Sang istri tercinta.
Senja yang duduk tepat di depan pasangan baya tersebut langsung menyinggungkan senyum, ia yang mendengar tapi ikut tersipu juga. Senja membayangkan bagaimana ia dan Pangeran nanti yang semoga seperti Appa Amma dan Papih Mamih. Kedua pasangan itu adalah bukti nyata jika adanya cinta sejati hingga hari tua.
Usai mengisi perut, Senja mengantar Pangeran ke kamarnya untuk membersihkan diri, ia memang datang benar-benar saat semua sudah berkumpul di meja makan.
"Sayang, bajunya sudah ku siapkan ya," ucap Senja saat Pangeran sudah ada di dalam kamar mandi.
"Iya, Yang."
Sama seperti Senja, Pangeran juga punya bebarapa barangnya di kediaman Biantara dan juga rumah utama, jadi mereka benar benar tak perlu membawa apapun jika niat atau bahkan tak niat sekali pun menginap di dua bangunan mewah tersebut.
"Sen, kamu besok pagi mau tetap disini atau ikut aku pulang?" tanya Pangeran.
"Hem, disini dulu, tak apa kan?"
"Ya sudah, aku hanya bertanya. Kalau mau pulang ya kamu siap-siap pagi nanti," jawab Pangeran.
"Sore saja, kita pulang sama-sama, kamu jemput aku lagi ya," pinta Senja yang mulai bernegosiasi dengan suaminya, rasa rindu yang masih ada membuatnya enggan cepat cepat pulang.
.
.
.
Tapi, kamarmu kedap suara kan, Sayang??
__ADS_1