Pangeran Senja

Pangeran Senja
Hadiah untukmu


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Ngurus pernikahannya," jawab Rival santai karna ia tak tahu apa-apa tentang pertemuan Pangeran dan Senja kembali.


Meski keduanya dekat hingga detik ini, nyatanya Pangeran tak menceritakan apapun tentang Senja, jadi tak salah jika Rival masih menganggap kedua orang itu tak pernah ada Komunikasi lagi setelah 7 tahun berlalu begitu saja.


"Pa--ngeran menikah, maksudmu begitu, iya?" tanya Ola kaget, sedangkan Senja belum bersuara sama sekali.


"Iya, dalam waktu dekat ini. Ia sudah bertunangan kurang lebih dua tahun," jawab Rival yang malah memperjelas tentang status pria yang namanya baru bersemayam dihati Senja.


"Dengan siapa?"


"Putri, kamu ingat 'kan dengan sekertaris OSIS dulu? mereka sama sama kuliah di luar negeri, kebersamaan bertahun-tahun itulah nyatanya sampai juga ke jenjang pernikahan, tapi kabarnya Pangeran akan menikah disini."


Senja berusaha menelan salivanya kuat-kuat, dan itu begitu sakit seolaj seperti ribuat silet kecil yang lewat kerongkongan nya.


"Tunggu saja undangan darinya," balas Senja dengan senyum getir, dan mata wanita itu yang berkaca-kaca malah membuat Rival bingung saat menatap.


"Iya, kamu benar. Aku juga belum tahu pasti, karna untuk pertunangan saja itu sangat mendadak sekali. Tapi ku harap pernikahannya tidak seperti itu," jawab Rival yang terkekeh.


Dia ingat betul bagimana Pangeran mengabari perihal pertunangannya di pagi buta dengan suara parau dan berat. Sedikit banyak ia tahu tentang hubungan pria itu dengan Putri sebab keduanya adalah teman. Tapi untuk Senja di masa sekarang yang kini tengah dekat ia memang tak tahu sama sekali.


.

__ADS_1


.


.


Hati mana yang tak sakit saat cinta baru saja ingin di labuhkan tapi dermaga nya sudah terisi oleh yang lainnya. Itu mungkin yang dirasakan Senja sekarang. Ia tak bisa marah atau kecewa karna untuk menunggu pria itu kembali saja ia tak berhak. Hanya kecewa...


Ya, ia kecewa karna tak pernah ada cerita tentang sebuah ikatan yang sedang di jalani oleh Pengeran apalagi ia cukup tahu dengan wanitanya meski tak kenal secara langsung apalagi dekat, bahkan seingatnya Senja tak pernah bertegur sapa sama sekali.


"Apa ini sebuah karma untukku?" gumamnya yang berbaring di tengah ranjang dalam kamarnya.


Semua penuturan Rival di Resto miliknya tadi membuat ia tak berselera sama sekali untuk menikmati semua makanan yang terlanjur sudah di pesan dan di sajikan di atas meja. Ini terlalu menyakitkan baginya yang baru tahu rasanya getaran jatuh cinta dan nyamannya sebuah bahu di kala bersandar.


Tapi Senja masih bisa tersenyum, meski tak selebar biasanya ketika ingat wajah tampan Pangeran.


Tok.. tok.. tok..


"Kenapa?" tanya Senja pada salah satu Pelayan di kediaman Bintara.


"Ada Tuan dan Nyonya besar Rahardian, Nona."


"Appa dan Amma?"


"Iya, Nona. Keduanya sedang ada di ruang tamu, Nyonya meminta saya untuk memanggil Nona untuk turun," jelas Si pelayanan yang hanya di balas anggukan kepala oleh Senja.

__ADS_1


Tahu ada dua orang kesayangannya datang, ia pun langsung bergegas turun ke lantai bawah. Pelukan hangat pun ia dapatkan langsung dari Amma Melisa dan tak terkecuali dari Appa Reza, tapi ada yang lain yang dirasa Senja saat tubuh sedikit lemas nya itu masuk kedalam dekapan Sang Gajah.


"Kamu baik baik saja?" tanya Appa.


"Baik, memang aku kenapa?" tanya balik Senja.


Andai ia sadar, jika selama ini hanya dia yang tak tahu tentang Pangeran yang sudah termiliki. Pasukan Gajah tentu tak akan tinggal diam saat tahu keturunannya sedang jatuh cinta.


"Syukurlah, Appa tak ingin kesayangan Appa sedih," ucap Reza sambil mencium pucuk kepala cucunya.


"Appa tenang saja, aku tak serapuh itu untuk urusan hati. Lihatlah, senyumku masih sama kan? aku tetap yang paling cantik," balasnya yang membuat Appa Reza tertawa kecil.


Padahal kedatangannya kemari karna khawatir, tapi apa yang di lihatnya kini justru di luar dugaan. Senjanya tak hanya cantik, tapi juga berhati baik dan pastinya memiliki sabar yang luas.


"Yang paling cantik tuh adek loh, Pah!" sahut Cahaya yang masih saja cemburu, Senja bagai saingannya jika sudah menyangkut dengan papanya sendiri.


"Si Mimih sirik aja, gak ada mau ngalahnya sama anak," protes Senja yang akhirnya mengundang gelak tawa.


Senja yang masih dalam dekapan Appanya tuh terus di nasehati hingga hati wanita itu mencelos sakit karna kini sudah benar benar yakin dan percaya jika kenyataan itu harus ua Terima.


.


.

__ADS_1


.


Sen, tak pernah ada yang salah dengan yang namanya PERTEMUAN. Justru hadirnya yang mungkin sesat itu membawa hadiah untukmu entah itu Kebahagiaan atau sebuah Pengalaman...


__ADS_2