
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Ya udah, minta Daddy aja sana yang metik sekarang," titah Mommy yang langsung membuat suaminya terlonjak kaget, pasalnya ia baru saja ingin mengerjap sebentar.
"Aku, Mom?"
"Iya, sana gih," titah wanita itu lagi yang membuat Pangeran cekikikan karna senang. Perjalanan yang cukup lumayan jadi lebih lama karna ada kecelakaan di tambah habis menggendong Senja tentu membuatnya hanya ingin meluruskan pinggang saat ini.
"Capek, Mom masa iya harus turun ke kebon, buat apa tadi? metik tomat? beli aja deh beli ke pasar sana," jawab Daddy Andra yang malah membaringkan tubuhnya.
"Beli tuh gak enak, klo langsung metik terus di rujak tuh seger," timpal Senja yang sudah sangat ingin.
Ia memang suka beberapa jenis rujak buah yang salah satunya adalah Si tomat, bahkan tak jarang jika kebetulan ada di dapur dan melihat buah berwarna merah tersebut akan di makanannya begitu saja tanpa campuran apapun, cukup di maklumi karna Senja adalah hasil semburan Si RUJAK BONTENG.
"Biar Bunda yang ambil ya," ujar wanita bercadar itu.
"Ikuuut--," sahut Senja dan Mommy berbarengan sambil bangun dari duduk mereka.
__ADS_1
Ketiganya keluar dari pondok kayu sederhana, lalu berjalan menuju ke kebun Tomat yang sempat di datangi Senja barusan.
"Nah loh, ditinggal!" kata Pangeran saat Sang istri benar-benar pergi meninggalkan ia dan Daddy nya saja.
"Iya, kenapa pada kabur sih?"
Pangeran yang bangun dari duduk disusul juga oleh Daddy Andra yang sedang nikmat nikmatnya merebahkan diri, ia tentu tak ingin di tinggal apalagi tak tahu apa yang sedang di lakukan istrinya disana.
"Ndut, tunggu!" teriak Daddy Andra yang berlari kecil dibelakang putranya, jangan sampai ia kehilangan jejak sebab tak tahu dimana letak Kebun Tomat yang di maksud.
Senja yang tak perduli benar-benar hanya fokus pada tomat tomat di depannya, ia belum berani memetik sebab masih menunggu Bunda kembali dari Pondok Babah Hj. Wanita itu tentu meminta izin lebih dulu meskipun kenyataan tak mungkin tak di berikan.
Kurang lebih 15 menit menunggu, akhirnya Bunda datang dengan membawa keranjang kecil juga di tangannya. Tak ada yang membuat Senja bahagia kecuali hari ini.
"Sudah izin, Bun?" tanya Mommy pada wanita paruh baya tersebut, selisih umur yang hanya 8 tahun itu membuat mereka benar-benar seperti kakak adik.
"Sudah, di bawa pulang sebagian juga gak apa apa kata Babah Hj, memang sudah waktunya di petik tapi lupa terus katanya," sahut Bunda sambil membuka pagar bambu yang mengelilingi kebun buah dan sayur tersebut.
__ADS_1
Meski awalnya tak ingin, entah kenapa tiba-tiba hati Pangeran tergerak juga. Ia meminta Bunda untuk tetap bersama Senja dan Mommy sedangkan ia yang akan turun melakukannya.
"Tadi ribut gak mau!" cibir Senja pada Sang suami.
"Demi lah, demi---," jawabnya sambil meraih keranjang kecil yang masih di pegang oleh Bunda.
Senja, Mommy, Daddy dan Bunda pun saling pandang tak paham dengan yang di jawab Pangeran barusan, hingga Senja langsung menggelengkan kepala saat ia merasa ada pertanyaan untuknya yang di beri lewat sorot mata dari Sang ibu mertua.
"Demi apa, Ran?" tanya Senja sedikit berteriak karena suaminya sudah turun ke kebun.
.
.
.
Demi... demi apa ya?
__ADS_1