Pangeran Senja

Pangeran Senja
Jodoh Mbul


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Selesai dari salon, keduanya langsung pulang kerumah utama untuk menjemput putri mereka yang di titipkan pada Appa dan Amma. Senja yang semakin terlihat cantik membuat Pangeran tak lepas menatap wanita halalnya itu.


"Apa sih? liatin aku terus?" tanya Senja yang mulai salah tingkah dengan tatapan suaminya.


Pangeran yang menggelengkan kepala membuat Senja tak kuasa menakan tawanya sendiri.


"Loh, ini justru kamu yang kenapa, Sayang?"


"Gak apa-apa," sahut menantu Bramasta itu dengan kedua pipi yang merah merona yang kian menambah rasa cinta Pangeran.


Candaan dan obrolan tak penting terus mereka lontarkan selama perjalanan yang tanpa terasa sampai juga di rumah utama. Senja yang langsung turun dari mobil mewah suaminya lekas di susul juga oleh pria itu.


"Loh, kirain langsung pulang ke rumah mertuamu, Sayang?" tanya Mimih Cahaya yang sedikit kaget dengan kedatangan putri bungsunya.


Mereka tak pernah masalah mau di bawa tinggal dimana Si anak kesayangan yang terpenting keadaan rumah tangganya baik-baik saja, karna walaupun Senja masih tinggal bersama orangtua suaminya bukan berarti Sang menantu tak mampu membelikan tempat tinggal. Ini hanya masalah tak ingin meninggalkan orang tua di hari tua mereka.


"Kan anak akunya disini, Mih," sahut Senja yang langsung menciumi pipi bulat putrinya yang sedang menyusu.

__ADS_1


"Pipihmu lagi keluar, dia bisa ngamuk kalau kembali dan ShaSha gak ada, Sen," ujar Mimih lagi yang nasibnya sama seperti Senja yang menjadi menantu satu-satunya Biantara.


Senja malah tertawa, ia tak bisa membayangkan Pria paruh baya itu merengut kesal.


"Tapi kan aku mau pergi, Mih."


"Nanti jemput ShaSha pulang dari sana aja, Sayang," timpal Pangeran, tak apa jika anaknya tetap disini selagi mereka pergi.


"Hem, ya sudah. Mama pergi dulu ya, Mbul. Sama Mimih ya disini," ujar Senja yang rasanya ingin sekali menggigit pipi bulat anaknya tapi ia hanya bisa memegangnya secara gemas saja.



"Kalau di kasih aku gak nolak ini," kata Pipih Langit yang baru saja datang, ia nampak senang karna bisa bertemu lagu dengan cucunya.


"Bikiiiiiin," ledek Appa sambil menggendong cicitnya itu.


"Eh--eh, mau di bawa kemana" tanya Pipih Langit yang kaget bersama istrinya.


"Pinjem sebentar," jawab pria baya itu yang melenggang begitu saja tanpa dosa menuju lift rumah utama yang pastinya itu adalah kotak besi keramat buatan Si Singa sebagai bentuk sayangnya pada Sang menantu.

__ADS_1


Triiiing.


Lift pun sampai di lantai atas, Appa langsung memasukkan cicitnya itu kedalam kamar karna ingin bermain dengan Si Mbul.


"Puasin mumpunh Dede gak ada ya," ledek Amma Melisa pada suaminya.


"Iya, kalau ada Si Tutut susah nih mau gendong Mbul, iya?" Appa yang sama sayang dan gemasnya tak masalah dengan sebutan keluarga Bramasta tersebut.


Entah sudah berapa banyak harta pria itu yang di gelontorkan untuk ShaQueena, hanya demi memastikan jika cicitnya tak akan kekurangan hingga dewasa nanti. Padahal nyatanya ia juga selalu dapat dari Pipih juga Daddynya.


.


.


.


Cepet gede ya, jodohmu udah di siapin sama Mak othor


__ADS_1


__ADS_2