Pangeran Senja

Pangeran Senja
Mabok perjalanan


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


[ Mohon dibaca pelan pelan ya, biar gak ada yang cerita yang terlewat ]


"Astaghfirullah." Bunda yang tak menyangka sampai memekik tak percaya, bagaimana mungkin menantu dan cucunya itu bisa nekat menggali kentang di malam buta seperti ini, sungguh di luar kebiasaan mengingat mereka adalah orang kota yang sangat berpengaruh sebagai pengusaha sukses.


"Maaf, Bun. Aku tadinya cuma mau ambil lima tapi kata Daddy suruh sepuluh, tapi besok di gantiin Satu Truck kok, tenang aja. Iya, Kan, Dadd!" ujar Pangeran sambil menyenggol pria di dekatnya tersebut.


"Hem," sahut pria itu pasrah.


"Bukan masalah satu Truck. Bunda cuma takut ada yang lihat kalian di kebun. Dan kamu, mana bajumu?" tanya Bunda saat melihat cucu kesayangannya bertelaNJang dada.


"Oh, iya. Lupa pake. Tadi buat bungkus kentang dari kebun kesini, kan aku gak bawa kresek," jawabnya sambil terkekeh.


Pangeran pun lekas bangun dan masuk kedalam kamar tempat istri dan Mommynya kini sedang terlelap, entah apa yang sedang di impikan dua wanita tersebut hingga tak terganggu dengan keduhan yang ia dan Daddy nya lakukan malam ini.


Senyum terukir di ujung bibir Pangeran setelah ia mengambil kaos dari dalam tas ransel yang di bawa siang tadi dari rumah sebagai jaga jaga jika menginap dadakan, dan benar saja hal yang sebenarnya di luar rencana pun terjadi.


Kesempatan itupun tak di biarkan begitu saja, Pangeran mendekat ke arah Senja lalu mencium kening dan pipi wanita cantik miliknya tersebut. Meski tubuhnya masih basah tapi setidaknya tak sebanjir saat sebelum tidur. Nona muda yang sudah bergelimang harta sebelum lahir di dunia itu memang tak akan terasa jika hanya menggunakan kipas, tapi Senja tak mengeluh sama sekali apalagi melayangkan protes dengan keadaan malam ini.


"Mimpi indah ya Senjaku, mimpiin aku kalau perlu biar kamu gak kangen pas lagi tidur," bisiknya pelan jangan sampai Sang istri terbangun karena ulahnya yang iseng.

__ADS_1


Puas menatap cinta sejatinya, kini Pangeran keluar dari kamar untuk kembali pada Daddy nya yang masih bicara dengan Bunda.


"Tidurlah, ini masih malam," titah Bunda yang hanya di balas dengan anggukan kepala oleh dua pria yang kini duduk berdampingan.


"Bun--," panggil Daddy Andra. Bunda yang sudah melangkah pun sontak berhenti dan membalikan tubuhnya.


"Apa lagi?" tanya Bunda.


"Besok beli uduk kaya yang biasa ya," pinta Daddy Andra sambil tersenyum kecil, sedangkan Pangeran langsung menepuk keningnya sendiri.


"Ya salam! itu Kentang aja kayanya belum turun udah minta uduk!"


.


.


.


Pagi yang ternyata di guyur gerimis kecil memang membuat siapa pun enggan rasanya untuk bangun. Begitu juga yang di rasakan Senja.


"Sen, tehnya kok belum di minum?" tanya Bunda yang kembali masuk kedalam kamar, ia duduk di tepi kasur saat melihat cucu mantunya masih meringkuk.

__ADS_1


"Tadi masih panas banget, Bun."


"Iya, kan Bunda buatnya pakai teh bubuk dan gula batu jadi airnya harus benar-benar mendidih," jelas Bunda yang lalu membantu Senja bangun dan duduk.


"Mommy kemana? sudah siang banget ya?"


"Mommy mu ada, dia sedang bersama Enin di pondok utama. Baru jam 6, di luar juga masih gerimis," jawab Bunda yang meraih tangan Senja.


"Hangat? kamu demam, Sayang?" tanya Bunda mulai panik, apalagi dua pria yang berada di ruang tamu masih berlomba-lomba mendengkur usai mabok Tomat dan Kentang yang mereka ambil sendiri.


"Enggak, cuma memang sedikit pusing. Mungkin mabok perjalanan kemarin," sahut Senja memberi alasan.


Tapi, Bunda tentu tak percaya begitu saja. Ia menatap Senja dengan begitu intens seolah sedang menebak sesuatu.


.


.


.


Bunda rasa bukan karna itu , melainkan...

__ADS_1


__ADS_2