Pangeran Senja

Pangeran Senja
Pembantu TAJIR untuk TUAN MUDA


__ADS_3

      🍂🍂 Part 22 🍂🍂


Pulang dengan wajah masam, tentu membuat Darren masih penasaran dengan apa yang terjadi di pasar tadi, karna jika melihat semua barang belanjaan rasanya tak ada yang salah begitu pun dengan uang sisa kembali.


"Nul, kok diem aja? gak suka ya saya ajak ke pasar tadi?" tanya Darren saat pembantu jadi jadiannya itu sedang mencuci sayur, sedangkan sang majikan berdiri dengan posisi bersandar sambil melipat tangan di dada.


"Gak suka sama abangnya!" jawab Shaquenna dengan nada kesal.


Darren yang mendengar itu tentu kaget, meski si pembantu memiliki wajah aneh dengan tompel besar yang ada di-- dimana ya? poho euy.. wkwk..


"Kamu di apain sama abang abang di pasar, hah?" tanya Darren yang menyangka jika si Minul mendapat pelecehan seksual.


"Di ajak berantem," jawab tak jelas dan itu semakin membuat Darren penasaran.


"Apa sih? berantem gimana?" tanya Darren lagi sampai mendekatkan posisi berdirinya yang kini menghadap ke arah si pembantu.


"Ini loh, si-- si toge! ini kan kecambah, sejak kapan dia ganti nama jadi toge? bikin pusing aja," adunya semakin kesal dan juga menunjuk ke arah si sayuran berwarna putih tersebut.


"Toge sama kecambah ya sama, terus masalahnya apa?"


"Masalahnya aku taunya kecambah tapi abangnya bilang ini toge!"

__ADS_1


"Lalu, abangnya gimana?" tanya Darren.


"Abang nya diem pas aku bilang pokonya ini K E C A M B A H," ujarnya penuh penekanan sembari memperagakan perdebatan nya saat di pasar tadi.


"Bagus, berarti abangnya WARAS," sahut Darren sambil berlari meninggalkan si pembantu karna ia sedang memegang penggorengan untuk memulai membuat bakwan sayur.


.


.


.


Kedatanganya tentu di sambut baik dan ramah oleh mama, sedangkan putranya nampak biasa tak seantusias wanita paruh baya itu.


"Ayo masuk, kebetulan pembantunya Darren sedang membuat cemilan, kamu suka bakwan sayur?" tanya Mama saat mereka bertiga ada di ruang tengah yang artinya Shaquenna bisa sedikit curi curi dengar tentang apa saja yang di obrolkan oleh mereka.


"Bakwan sayur? hem, itu gorengan ya?" tanya Bella dengan senyum di paksakan.


Baginya yang terlalu menjaga pola makan, makanan berminyak seperti itu adalah momok yang sangat menakutkan.


"Iya, nanti bikin sambel kacangnya juga, kamu pasti suka," lanjut Mama lagi sebab ini adalah salah satu makanan atau sekedar cemilan favorit sang putra.

__ADS_1


"Awas aja, kalau tuh mak lampir nyuruh gue---,"


"Nuuuuul, goreng kacang ya sekalian," teriak sang Nyonya, padahal Shaquenna belum selesai menggerutu dalam hatinya tadi.


"Iya, Nyah," sahutnya malas karna kepalanya mendadak sakit dengan semua yang kini sedang ia kerjakan, satu belum selesai tapi Mama Darren sudah teriak sampai berkali kali.


Tapi, Mama yang seperti tak yakin dengan pembantu jadi jadian putra nya pun meninggal kan Bella dan Darren di ruang tengah untuk bergegas ke arah dapur, dan betapa terkejut nya wanita paruh baya itu hingga tubuh nya lemas namun kepala nya berhasil mengeluar kan tanduk panjang.


"Kamu goreng apa ini, hah?" tanya Mama dengan suara melengking sampai dua orang yang baru memulai obrolan menoleh kearah dapur.


"Kacang, kan tadi nyonya suruh saya goreng kacang," jawab Shaquenna santai tanpa dosa.


.


.


.


.


Kacang tanah, Nuuuuul.. bukan kacang Panjaaaaaaaaaang!!!!

__ADS_1


__ADS_2