Pangeran Senja

Pangeran Senja
Maaf, aku lupa.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


( Jangan di bayangin, masih pagi nanti mules)


"Hem, iya. Ini gaya nanem singkong," jawab Pangeran sambil menggigit bibir bawahnya saat sudah berhasil bersilaturahmi dengan Si Kribo yang ternyata sudah licin untuk di jelajahi hingga itu memudahkan meledak hingga dalam.


Sedangkan Senja yang ada di depan suaminya semakin menikmati sampai rasanya ia lupa jika harus makan siang dengan Sang ibu mertua.


Tubuh langsingnya yang terhentak membuat keduanya semakin menggila sampai suara ******* pun terus saling bersahutan.


"Sayang---,Senjaaa," panggil Pangeran yang mengerang menikmati apa yang kini ia rasakan, hangat dan serasa di remas lembut milikku oleh Si Kribo.


Senja yang tak kuat lagi terus menahan diri agar tak ambruk karna ia mulai hilang keseimbangan ketika sedikit demi sedikit mengeluarkan lahar cintanya saat terus di serang tanpa ampun


"Bareng ya, Sayang," bisikan Pangeran tentu hanya di jawab anggukan kepala oleh Senja yang masih menutup kedua matanya, ia akan bersiap menerima semburan Si Jambrong yang membawa benih masa depan mereka.


.


.


.

__ADS_1


"Lama banget, pada ngapain sih?!" oceh Mommy Viana yang ternyata sudah menunggu selama 15 menit di teras.


Pertanyaan bodoh, seperti ia tak pernah muda dan merasakan manisnya mereguk cinta. Tapi, Mommy dan Daddy memang tak tahu indahnya pengantin baru, semua terasa dunia milik mereka berdua justru setelah hadirnya Pangeran usai pemerkosaan halal yang terjadi di kediaman Bramasta.


Mommy yang mulai terasa lapar tentu langsung menelepon anaknya yang masih di kamar padahal waktu semakin siang dan matahari kian terik.


Namun, wanita itu di buat kesal karna tak ada jawaban sama sekali begitu pun saat ia berusaha mengganti panggilan kepada menantunya.


"Wah, bener-bener ini sih, kalau ada Daddynya bisa ngamuk nih nungguin yang lagi enak," gumamnya lagi sambil memasukkan si benda pipih ke dalam tasnya lagi.


Satu, dua tiga, hingga delapan belas menit berlalu akhirnya yang di tunggu pun datang dengan tampang sumringah dan pastinya rambut basah. Waktu yang tak memungkin memang membuat keduanya hanya mengeringkan dengan handuk, bahkan Senja menyisir rambut panjang hitamnya itu sambil berjalan.


"Iya, Mom. Gerah," sahut Senja dengan kekehan yang terpaksa.


"Si Mommy, ini mandi bukan sembarang mandi," timpal Pangeran yang langsung melengos pergi kearah mobilnya.


"Terus mandi apa?" tanya Mommy nya yang tahu tapi masih pura-pura tak tahu.


"Mandi pake niat, Mom!"


Senja yang mendengar hal tersebut sampai menghentikan langkah, ia telan Salivanya dengan wajah merah merona menahan malu.

__ADS_1


"Kalian ini," balas Mommy yang langsung masuk kedalam mobil setelah putranya lalu di susul juga oleh Senja.


Selama perjalan menuju salah satu Resto hanya Mommy dan Pangeran yang mengobrol karna Senja masih kurang paham dengan inti perbincangan suami dan ibu mertuanya tersebut.


"Jadi, rencananya pertengahan bulan besok kita akan ke pondok tempat tinggal Bunda, Bunda itu neneknya Pangeran yang tak lain adalah ibu dari Mommy," jelas Mommy Viana yang akhirnya membuat Senja mengerti.


Sama seperti dirinya yang memanggil Mamih, begitu pula dengan Sang suami yang memanggil dengan sebutan Bunda, itulah yang di tangkap oleh Senja saat ini. Karna tak mungkin Pangeran memiliki ibu dua sedangkan Ayah mertuanya terkesan begitu sangat mencinta.


"Iya, Mom. Aku ikut aja," jawab Senja.


"Maaf ya, Sayang. Aku lupa cerita tentang Bunda," sambung Pangeran yang awalnya begitu menikmati raut wajah bingung istrinya tersebut.


"Iya, gak apa apa, Ran."


.


.


.


Tapi jangan khawatir, aku gak akan lupa kok kemana arah jalan aku pulang....

__ADS_1


__ADS_2