
🍂🍂 Part 35 🍂🍂
Cek lek
ShaQuenna yang kembali ke Apartemen Darrren masih diam terpaku saat pintu di buka yang ternyata oleh mama sang majikan. Jelas, karna Dareen sudah pergi ke kantor.
"Apa ini yang di namakan pagi? kamu datang setelah semua beres? dasar pemalas! " sindir Mama dengan ketus, bahkan ia tak langsung menyuruh pembantu jadi jadiannya itu masuk.
"Yang penting saya datang lagi, Nyah," jawab ShaQuenna yang sebenarnya malas sekali meladeni calon mertuanya tesebut.
"Kamu tak datang pun saya tak perduli."
"Jelas! karna bukan Nyonya yang gaji saya tapi Tuan Darren," jawab ShaQuenna yang dengan begitu sopannya melengos di depan sang Nyonya.
Jika dengan Mama, Darren selalu mengatakan, "Sabar ya, Mah.. yang waras harus ngalah". Tapi, lain lagi jika sedang merayu sang pembantu jadi jadian bila terlihat merajuk dan kesal, " Jangan di dengerin, kan majikanmu aku, aku yang bayar kamu disini, ayo senyum."
Ya, begitulah cara Darren saat menengahi dua wanita yang sering kali berdebat apa lagi di waktu pagi, ada saja yang mama ocehi sedang kan ShaQuenna kadang serba salah, di timpali urusan akan panjang namun jika di tinggalkan si mama akan jauh mengadu yang tidak tidak pada putranya.
"Hey! mau kemana?" tanya Mama tanpa memanggil dan itu sangat membuat ShaQuenna kesal karna dia punya nama.
__ADS_1
"Mau tidur! sudah rapih kan?" tanya balik ShaQuenna yang memang di jam seperti ini tak ada yang ia lakukan. Tinggal menunggu catering datang makanan untuk si mama.
"Dasar kau--,"
"Nul-----, Minuuuuuul--," panggilan Darrren yang tiba tiba datang menjadikan dua wanita beda generasi itu menoleh.
"Kamu sudah pulang? huft--, ku kira tak akan datang lagi, aku menunggumu sejak pagi," ucap Darren dengan polosnya dan itu membuat Mama dan ShaQuenna memberi reaksi lain.
"Mama gak salah denger?" tanya wanita paruh baya itu dengan kedua mata membulat besar, pastinya hidung Mama juga kini sedang mengeluarkan asap dengan tanduk yang menjulang tinggi.
"Kenapa, Nyah? Tuan Darren kurang keras tadi bicaranya? mau saya bisikin? biar makin ke jantung!" tawar ShaQuenna dengan sombongnya.
"Hem--, gini loh, Mah. Itu-- itu kan Minul belum satu bulan kerja, kalau sampai gak balik lagi kan Darren gak enak karna Minul belum di gaji," jawab Darren yang bingung mencari alasan untuk sang Mama agar tak salah paham.
"Ngapain di gaji, udah sukur di kasih makan kue dan buah, belum lagi susunya!" balas Mama yang tak habis pikir dengan kelakuan pembantunya.
"Gak apa apa, Mah. Kan jarang makan nasi juga, anggap lah itu gantinya, lagi pula Minul tanggung jawab Darren disini agar dia nyaman," balasnya lagi yang kali ini membuat ShaQuenna seolah punya sayap untuk terbang tinggi sambil dadah dadah pada calon mertua rasa mak Lampir.
Belum juga Mama menjawab, ternyata ada telepon penting untuknya hingga mau tak mau harus masuk kedalam kamarnya agar leluasa berbicara.
__ADS_1
Kini, tinggal ShaQuenna dan Darren yang ada di ruang tengah, ia menghampiri si pembantu dengan senyum senyum tak jelas alasannya.
"Maaf, Tuan. Saya terlambat datang, harus tadi pagi," ucap ShaQuenna sambil menunduk karna tak ingin pria itu tahu semerah apa kedua pipinya sekarang.
"Tak apa, asal kamu kembali. Oh ya, tunggu dulu disini, aku punya sesuatu untukmu," kata Darren yang langsung membuat ShaQuenna mendongak dengan dahi mengernyit.
Darren yang masuk ke dalam kamarnya kembali kurang dari 5 menit, keduanya saling berhadapan lagu dan Darren langsung memberikan sebuah kotak berukuran sedang pada gadis yang menurut nya ajaib tersebut.
"Ini untukmu, Nul."
"Ponsel? Tuan kasih saya ini untuk apa?" tanya ShaQuenna bingung.
.
.
.
Untuk ---, untuk apa ya?
__ADS_1