Pelangi Yang Tergores

Pelangi Yang Tergores
Dua istri yang tersakiti


__ADS_3

hari itu adalah hari bahagia bagi farhan dan hulya, mereka pulang ke rumah dengan membawa angin sedap bagi umi dan ayah.


kedua orang tua farhan pun ikut mengucap kan syukur, dengan sangat antusias umi menyiapkan acara tasyakuran kecil-kecil atas kebahagiaan yang baru saja mereka dapat.


hulya pun ikut merasa senang tak lupa ia mengabarkan berita gembira itu kepada ayah dan bunda nya, kedua orang tua hulya juga menyambut hari itu dengan suka cita, walaupun sebenarnya bunda takut bila farhan akan membuat nya stres.


kebahagiaan itu tak dirasakan oleh arsen emmanuel ernest seorang pria yang tiap hari nya memantau hulya kemana nya saja, dia cukup merasa cemburu.


"harus aku yang di posisi pria itu! ahh ****!!"


ucap nya sambil memukul setir mobil yang berpakir dia area rumah prasaja.


"hulyaaa, aku ingin mengajak mu ke rumah baru kita" ucap farhan dengan penuh semangat


"loh, udah ada?"


"udah sayang, aku memang menunggu waktu yang tepat untuk pindah ke sana"


"ohh benar juga yaa, sekalian ngadain tasyakuran rumah baru dan kehamilan hulya" ucap umi setuju


"ya sudah hulya nurut saja" jawab hulya yang sebenarnya khawatir, apakah mungkin dira juga akan dibawa ke rumah baru itu bersama nya.


"ya sudah hari ini kita semua bersiap pindah ya umi, ayah"


"Iyya nak"jawab ke dua pasangan parubaya tersebut dengan kompak


di sebuah saung yang terbuat dari bambu dira tengah membaca sebuah kitab yang masih dia muto'laah, dia membaca dengan menggunakan alat bantu berupa kaca mata.


dalam hatinya dia sangat merindukan farhan, namun yang di rindukan seperti nya tak merasakan hal yang serupa, dia menatap kosong ke arah kolam ikan yang tepat berada di hadapan nya, Raga nya disini tapi hati dan fikiran nya melayang di ibu kota.


"lagi ngapain nduk?" tanya ibu yang tiba-tiba datang dan duduk di samping putri nya


"lagi muto'laah bu" jawab dira sambil memandangi kitab nya lagi


"emm, muto'laah apa ngelamun?"


"hehe dua-duanya" jawab dira sambil terkekeh


"kamu kangen to sama farhan?"


"sedikit buk"


"banyak juga ga papa dia itu suami mu"ucap ibu yang kemudian mengupas jeruk yang ia pegang dari tadi


"hehee, tapi dira masih pengen disini to buk, disini tuh hawa nya sejuk.. bikin kangen, apalagi ada ibuk sama Abah.. dira kan juga kangen kalian" ucap dira yang kini tengah menyenderkan kepalanya di ujung bahu ibu ibunya


"ya sudah, apa farhan saja yang kesini?" tanya ibu yang sambil menyuapkan jeruk yang telah dikupas itu ke mulut dira


"emm, Ndak udah bukk dia lagi sibuk disana"


"ngajar terus to?"


"iyaa, soalnya waktu dira sakit kan mas farhan ga berangkat dan urus dira Sampek sembuh"


"ohh begitu"


"buk, dira istirahat ke kamar dulu yaa" pamit dira

__ADS_1


"ya sudah sana istirahat di dalam.. jangan banyak fikiran yaa? kalo kangen yang telpon aja si farhan"


"iya, buk"


.


.


.


.


.


.


.


.


"subhanallah bagus banget rumah nya kak?" ucap hulya yang tengah berdiri memandangi rumah baru nya


"ayo masuk sayang, semua nya sudah siap di dalam"


"iya" ucap hulya sambil mengikuti langkah Farhan



rumah yang hulya dan Farhan tepati memang tak begitu besar namun, memang terlihat mewah dan hulya sangat menyukai model nya.


hulya berjalan ke setiap sudut ruangan, ada 3 kamar tidur, ruang makan,ruang keluarga,dapur,dan juga taman kolam tepat di halam belakang.


"kamar nya dira dimana kak?" tanya hulya yang sontak membuat farhan mengerutkan dahi nya.


"ini rumah untuk kamu, untuk dira juga ada sendiri"


"ohh begitu"


Farhan kembali menggenggam tangan hulya untuk menaiki anak tangga


"pelan-pelan jalan nya"


"astaghfirullah kak, kalo kaya gini jalan nya kapan nyampe nya?"


"udah ga usah bantah, kamu lagi hamil muda hul"


"cckkk, iya deh iyaa"


setiba di kamar mereka hulya membelalak kan kedua matanya dengan sempurna sungguh bagus sekali pikirnya.



kamar tidur bernuansa putih yang kebetulan menjadi warna favorit hulya, dia pun langsung merebahkan tubuhnya di kasur empuk tersebut, dengan posisi telentang kedua telapak tangan nya di rentang kan dan di gesek-gesekan di kasur empuk berlapis sprei putih itu.


"kamu suka?" tanya farhan yang kini ikut duduk di tepi kasur


hulya hanya mengangguk pelan, kemudian dia berjalan lagi menuju balkon.

__ADS_1


disitu dia kembali merentangkan kedua tangannya menikamati segar nya angin yang berlalu lalang.


tanpa hulya sadari tengah ada sosok pria berbalut tuxedo berwarna navy, pria tersebut mengamati hulya dari sisi tv yang ia pasang di sebrang jalan rumah hulya, dia mengamati dengan penuh keseriusan, pria itu terus memandangi hulya dari balik monitor yang ia pasang di ruang pribadi nya, yaa pria itu adalah arsen.



tak ingin sedikit pun ketinggalan berita mengenai pujaan hati nya, dia pun menyuruh David selaku tangan kanan nya untuk memasang sisi tv di setiap sudut kompleks perumahan hulya.


"sayang" panggil farhan, hulya pun menengok ke sumber suara


"aku angkat telpon dari dira dulu ya.. kamu istirahat ya sayang"


"iyaa" ucap hulya dengan senyum yang tadinya melebar kini perlahan memudar


"iyaa dir, kamu sendiri gimanaa? kangen ga?"


"kangen lah mas" ucap dira


"oh ya dir, mas mau kasih kabar gembira buat kamu"


"apa mas?"


"hulya tengah mengandung" ucap farhan dengan senyuman sumringah nya


walupun dira tak dapat melihat senyuman nya namun dira dapat merasakan nya dari badai bicara nya


"Alhamdulillah ya Allah" ucap dira yang ikut senang walau sebenarnya dia juga cemburu


"kamu cepet pulang yaa, nanti kita lebih semangat lagi bikin dedek nya" ucap Farhan sambil tertawa


hulya yang tak sengaja mendengar dari balik pintu pun hanya tersenyum getir kemudian dia memilih pergi agar tak mendengar obrolan-obrolan yang membuat nya sakit hati .


"udah dulu ya dirr, kamu jangan lupa minum obat nya" ucap farhan dengan nada yang balik serius lagi


"iya mas"


"ya udah assalamualaikum"


"wa'alaikum salam"


.tuttt tuttt..


"pasti mbak hulya seneng banget ya sekarang? Alhamdulillah lah kalo gitu" ucap dira yang mencoba membohongi diri nya sendiri namun tak kuasa, dia memang melankolis dan tak sanggup bila menahan tangisnya nya, air mata nya pun akhirnya tetap memaksa untuk keluar dari tempat nya.


"ya Allah aku ga boleh kaya gini, harus nya aku ikut bahagia" ucap dira menasehati diri nya sendiri


disisi lain hulya kembali duduk terdiam di tepi kasur, mata ingin juga menangis namun Dian lebih bisa menahan agar tak terlihat oleh suaminya.


"ga usah cengeng hulyaaa" celetuk hulya seorang diri


tidak ada hati istri yang tak tersakiti, kedua nya mempunyai alasan untuk merasakan kesedihan nya masing-masing.


tidak ada alasan untuk tidak menangis, hulya kembali melepaskan hijab nya dan kemudian tertidur meringkuk dengan masih lengkap menggunakan baju gamis nya.


to be continued


hai guyss😍 buat kalian yang udah mau mampir maksih banget Lo yahh 😌 tapii ya dimohon tinggalkan jejak nyaa🙏😀 like,vote dan juga komen.. oke?

__ADS_1


biar author juga lebih semangat lagi nulisnya😌😍 terimakasih 🤩


__ADS_2