Pelangi Yang Tergores

Pelangi Yang Tergores
Farhan lupa ingatan


__ADS_3

Arsen tertidur di samping hulya yang masih belum menunjukkan tanda-tanda kesadaran


pintu itu di ketuk oleh david, namun tak ada sahutan akhirnya David memutus kan untuk masuk kedalam


"ya ampun tuan, kasihan sekali.. seperti nya dia kelelahan dengan posisi tidur yang seperti itu" ujar david seorang diri


dengan penuh inisiatif david memesan kasur yang lebih besar ukuran nya agar bisa tidur di samping hulya, dia menyuruh bodyguard untuk memasukkan nya ke dalam.


dengan perlahan david membangun kan arsen, dia menggoyangkan lengan arsen


"tu-tuuan bangunlah saya membawa kan ranjang yang lebih besar agar anda tidak lelah dengan posisi seperti ini" arsen pun terbangun dan masih setengah samar mendengar apa yang david katakan


"apa kau bilang?"


"saya memb"


"kau gila? hah? kau ingin hulya marah karna aku tidur bersama nya.. sedang kan kita belum menikah, kau pikir hulya wanita seperti ******* si luaran sana?" ucap arsen berbisik di telinga david namun begitu mengerikan


"mm-maaf tuan, saya hanya tidak"


"ahh sudahlah bawa keluar ranjang tak berguna ini"


"ba-baik tuan"


"hulya, kapan kau membuka mata mu?" ujar arsen lagi dia kembali memegang tangan hulya


dokter di rumah sakit b sangat gusar, karna Farhan kehilangan darah nya begitu banyak, untung saja keduanya orang tua farhan telah berada di situ


akhirnya tanpa menunggu ba bi bu ba


mereka mendonor darah untuk putra kesayangannya.


"cepatlah bangun nak" ujar umi yang belum merasa tenang sejak tadi


"umii" Nadira berjalan di bantu oleh ibu nya menggunakan kursi roda, dia menghampiri mertua nya


"umi jangan sedih terus yaa? dira yakin, mas farhan pasti bakal sembuh seperti sedia kala"


"aamiin, bagaimana keadaan mu dira? jangan terlalu di paksakan untuk jalan-jalan keluar seperti ini" ujar umi yang juga khawatir dengan keadaan mantu muda nya itu


"iya umii, tidak perlu khawatir.. dira hanya ingin melihat mas farhan dari balik jendela itu"


"sini biar umi bantu" ujar umi yang langsung mengambil alih ibu yang mendorong kursi roda nadira


"cepat sembuh mas, kami semua menyayangi mu.." ujar nadira


"biar kan aku saja yang pergi dulu.. kamu sudah mau jadi ayah, jadi jangan pernah pergi hikss hiksss"


"Nadira, jangan bilang begitu.. kalian semua harus tetap bertahan untuk tetap sama-sama hidup" ujar umi menasehati


"hehem iya umi"


setelah beberapa hari hulya di rawat di rumah sakit besar itu, akhirnya dia siuman arsen yang setia menemani hulya pun girang bukan main. jari-jari hulya bergerak dan itu pertanda baik untuk pemulihan hulya


"aku yakin kau pasti bangun hulya, kau tidak selemah ituu.. bangun lah aku disini"


arsen menekan tombol darurat dan para dokter pun mulai riuh mendatangi ruangan


"dia bangun! pastikan dia mendapatkan penanganan sebaik mungkin" ujar arsen dengan nada mengancam


"baik tuan"


dokter mulai memeriksa keadaan hulya, kedua mata hulya masih terpejam namun suara serak khas bangun pun terdengar beberapa saat


"ka-kaa" ujar huly dengan suara terbata-bata

__ADS_1


"hulyaa?" arsen yang sempat menjauh pun kembali mendekati hulya, tak ada satupun dokter yang berani melarang nya


"aku disini.. kamu tenang yaa"


hulya mengerjapkan kedua mata nya dengan perlahan, pandangan masih kabut hanya ada orang-orang berbaju putih dan seorang pria yang sedikit ia kenali, pria itu menatap senang ke arah nya. mata nya berbinar seperti hendak menangis, hulya menatap dengan lebih lekat


"arsen?" suara indah itu lolos dari mulut wanita nya


"yaa, ini aku hulyaa.. aku disini jangan khawatir"


"aku dimana? dan bagaimana keadaan kak farhan?"


"sudah jangan terlalu di fikiran kan dulu.. biar dokter memeriksa mu lebih dahulu.."


hulya mengangguk begitu pelan


Dokter berhasil menangani farhan namun dia belum sadarkan diri, beberapa orang di izinkan masuk ke dalam.


umi dan ayah masuk ke dalam kedua orang tua parubaya itu begitu khawatir dengan keadaan putra nya


"Farhan, bangun lah.. hikkss"


"sudah lah umii, jangan menangis terus.."


"tapi dia belum juga bangun yah"


"dia pasti akan bangun, kita harus banyak-banyak berdoa" ujar ayah menasehati


beberapa saat kemudian Farhan terbangun dan mengerjapkan kedua mata nya namun ruangan itu nampak sepi tidak ada siapapun


"dimana aku?" ujar farhan seorang diri


"kenapa aku di sini?"


"dokter, pasien sadar"


"farhan? dia sudah sadar?"tanya umi baru saja datang


"maaf buk, izin kan aku masuk ke dalam"


"iya buk, tapi jangan terlalu menganggu pasien ya" ujar suster menasehati


"baik"


setelah pemeriksaan selesai dokter mengizinkan umi untuk mendekat namun, tidak boleh terlalu membuat nya terlalu banyak berfikir karna keadaan nya masih sangat rentan


"Farhan?"


"umii.. apa yang terjadi?"


"kamu kecelakaan nak"


"astaghfirullah.. berapa hari farhan tak sadar kan diri umi?"


"mungkin 3 harian nak.."


"ahh lama sekali"


"tidak apaa, jangan terlalu banyak gerak.. badan mu masih lemah"


"iya, Farhan kecelakaan sendiri kan umi? umi dan ayah tidak ikut kan?"


"iyaa, kamu kecelakaan sendiri.. untung aja hulya tidak jadi ikut bersama mu"


"hulya? siapa hulya?"

__ADS_1


"ha? kamu tidak ingat siapa hulya?"


"tidak.."


"Nadira? kamu ingat dia?"


"Nadira? tidak.. tapi nama itu tidak begitu asing bagi ku, ohh Nadira yang Farhan kenali adalah ning sewaktu di pondok umi"


"jadi kamu tidak mengingat kejadian beberapa bulan lalu?"


"memang nya apa yang terjadi umi? siapa hulya yang umi maksud kan?"


"ahh, ya sudah jangan terlalu di fikir kan dulu.." ujar umi takut akan membuat Farhan semakin kesakitan bila mengingat nya


"iya umii"


"umi tinggal sebentar dulu yaa?"


"iya umi"


setelah kepergian umi farhan merasa ada yang aneh, umi mengatakan nama seorang perempuan yang sama sekali tak ia kenali


"siapa wanita yang umi maksud kan tadi? kenapa seperti nya wanita itu dekat dengan ku.. aduhh Kepala ku sakittt"


"aku benar-benar tidak ingat!"


"hulyaa, bagaimana? apa yang kamu keluhkan?" tanya arsen dengan lebih ke khawatiran


"tidak ada, hanya sedikit pusing saja.."


"ahh iyaa arsen! bagaimana dengan baik ku?"


tanya hulya ketakutan


"maaf hulyaa, bayi mu tidak bisa diselamatkan kan"


"apa!? bagaimana itu bisa terjadi sen! ibu macam apa aku ini??! apa yang akan aku katakan kepada kak farhan dan semua keluarga hikkss hikkss... arsen! semua ini salah ku sen!"


"stop hulya.. hentikan jangan menyalah kan diri mu sendiri.. ini sudah takdir dari Tuhan, tidak ada yang tahu tentang kecelakaan ini.. semua ini sudah menjadi takdir"


"arsen! aku ingin anak ku kembali! hiiikss hikksss! arsen!" ucap hulya sambil memukuli dada bidang arsen yang tengah duduk di samping ranjang nya


"maaf hulya.. aku memang tidak berguna! harus nya aku bisa menyelamatkan bayivmu juga, tapi ku mohon berhenti lah menyalahkan diri mu sendiri"


"hikss hiksss"


"istighfar hulyaa, itu yang selalu kau ucap kan kepada ku kan?"


"astaghfirullah.. hikss hikss"


"suster! tolong berikan obat penenang untuk hulya!"


"baik tuan.."


suster itu menyuntikkan obat penenang agar hulya dapat merasa lebih baik, dan tidak banyak berontak


sesaat kemudian hulya pun tertidur dengan pulas, arsen merutuki diri nya sendiri karna tidak bisa menyelamatkan kandungan hulya.


"ahhh ****! bodoh sekali.. kenapa bayi itu harus pergi, aku tidak ingin melihat hulya bersedih"


to be continued


jangan lupa ritual nya yaa🤩🤧


❤️🎁💌

__ADS_1


__ADS_2