
Anna masih enggan untuk keluar dari kamar mandi Karna dia malu bila berhadapan dengan altar yang mungkin akan terus mengejek nya, dia mondar-mandir di kamar mandi seperti setrika, dia menggigit bibir bawah nya, altar pun heran mengapa Anna tak kunjung keluar.
Tok tokk
"Anna? Kamu ngapain? Lama banget" ujar altar dari balik pintu kamar mandi, Anna menguat kan diri nya dan dengan perlahan memutar handle pintu itu
Ceklek
"Lama banget? Kenapa?" Tanya altar, anna hanya menggeleng kan kepala nya dengan cepat
Dia mendudukan diri nya di tepi ranjang sedangkan altar sedang mengemas barang mereka berdua ke dalam koper.
Tiba-tiba perut anna terasa sakit dia memegangi perut nya dan sesekali meremas nya dengan kuat dia meringis kesakitan namun masih enggan untuk mengeluh, altar yang menyadari itu pun dengan cepat menghampiri anna yang masih dan dengan cepat tanpa kata-kata altar membopong tubuh anna dan di rebahan kan nya di kasur itu lagi dengan perlahan,
Anna masih diam tanpa protes apapun.
"Perut mu sakit ya?" Anna hanya mengangguk kan kepala nya tanpa menjawab altar sepatah kata pun
"Emm lebih baik kita sarapan dulu abis ini aku akan hubungi dokter untuk kesini"
"Kalo kamu masih sakit seperti ini lebih baik kita menginap lagi sampai kamu sembuh" Anna hanya diam, dia juga tidak ingin segera balik ke pesantren apalagi dengan keadaan perut nya yang sedang tidak bersahabat.
Altar menyuapi anna dengan telaten, dia pun juga ikut memakan makanan itu bersama Anna dengan sendok dan tempat makan yang sama, kali ini anna tak banyak memprotes perlakuan altar.
Setelah usai sarapan altar membawa aman ke dalam pelukan nya, anna menyandar kan kepala nya di dada bidang altar.
Entah mengapa dia nyaman dengan posisi itu, altar merogoh ponsel dari celana nya dan menghubungi dokter untuk memeriksa anna.
Sembari menunggu kedatangan dokter anna masih setia dengan posisi seperti itu, altar mengelus lembut rambut anna sedangkan tangan altar yang satu nya di gunakan untuk menggenggam tangan Anna, Anna memejamkan kedua mata nya, bukan karena dia ketiduran, entah mengapa dia nyaman dengan posisi itu.
Tok tok..
"Permisi" ujar doktor perempuan itu dari balik pintu kamar mereka
"Aku buka pintu dulu ya" ujar altar dengan lembut, dengan perlahan dia mengalihkan tubuh anna untuk bersandar di dipan ranjang.
__ADS_1
Ceklek
"Silahkan masuk" ujar altar
"Terimakasih" ujar dokter perempuan yang ternyata masih muda, rambut panjang berwarna brown di biar kan terurai, lengkap dengan dress merah kekat setinggi lutut dan berbalut jas putih, dokter itu terlihat begitu seksi,dengan ukuran dada nya yang cukup besar dan seperti ingin keluar dari tempat nya, dokter itu berjalan meliak-liuk mengikuti langkah altar, dokter itu seperti tertarik kepada altar.
Karna dari tadi mata nya tak beralih memandangi altar, berbeda dengan altar yang tak sedikit pun peduli dia menduduk kan diri nya di samping Anna, dokter itu mengalihkan pandangan nya kepada anna kemudian menduduk kan diri nya di sisi lain anna.
"Apa yang anda keluh kan?" Tanya dokter itu sambil mengibaskan rambut nya dan sekilas menatap ke arah altar yang masih setia menatap Anna, Anna pun terlihat kesal melihat kelakuan dokter genit itu.
"Ga.. saya udah sembuh" ujar anna dengan dingin, altar pun terkejut pasal nya dari tadi dia menyaksikan sendiri bagaimana Anna meringis kesakitan memegangi perut nya.
"Kamu yakin?" Tanya altar tidak percaya
"Iya sayang.. seperti nya aku hanya ingin kamu saja, tidak perlu mengundang orang lain" ujar anna beralih menatap tajam kepada dokter yang hingga sekarang pun masih menatap suami nya tanpa peduli ada dirinya, altar pun terkejut karna tiba-tiba saja anna memanggil nya sayang.
"Tapi kamu tadi" ujar altar tepotong saat Anna menarik lengan altar dan dia memeluk tubuh altar dengan posesif.
"Emm baiklah.." ujar altar membalas pelukan anna, sedangkan dokter itu menatap dengan tatapan tidak suka
"Maaf dokter, seperti nya istri ku sudah membaik.. anda bisa pulang sekarang" ujar altar dengan dingin
"Tidak perlu sayang.. aku hanya ingin bermanja-manja dengan mu hari ini" ujar anna sambil menangkup wajah altar dengan kedua tangan nya.
"Baik lah kalo itu mau mu" ujar altar sambil tersenyum kepada Anna, melihat keromantisan kedua pasangan itu membuat dokter semakin gerah akhirnya dia memutuskan untuk berpamitan pergi.
"Ya sudah.. saya pamit undur diri dulu" ujar dokter itu berlalu pergi dan kembali menutup pintu itu. Setelah kepergian dokter itu dengan cepat anna melepaskan pelukan nya
"Kenapa di lepas?" Tanya altar
"Gue cuma mau nyelametin lo dari wanita penggoda itu, lagian Lo bisa zinah mata kalo kelamaan lihat dada nya yang sok di besar-besarin itu.. lagian punya gue juga lebih besar" ujar anna dengan percaya diri
"Iyaa, aku percaya.. punya mu memang lebih menggoda" ujar altar sambil tersenyum mesum, altar pun di buat malu karna tiba-tiba saja teringat hal semalam
"Emm sebenernya perut ku masih sakit" ujar mengalihkan pembicaraan
__ADS_1
"Jadi mau di bawa ke rumah sakit aja apa gimana?" Tanya altar dengan lembut
"Ga usah, nanti ketemu dokter centil lagi" altar pun di buat tekekeh mendengar nya.
"Terus mau nya apa? Mau aku peluk seharian?" Ujar altar sambil tersenyum mengejek
"Ga! Beliin obat di apotik aja" ujar anna dengan dingin
"Ya udah, tunggu di sini dulu ya" ujar altar hendak pergi meninggalkan anna namun dengan cepat anna menarik tangan altar
"Aku ikut" ujar anna
"Mau di gendong?" Ujar altar sambil tersenyum
"Yang sakit itu perut gue.. bukan kaki gue" ujar altar sambil memakai hijab nya
"Udah yuk" ujar Anna sambil mengaet lengan altar, altar pun tersenyum melihat nya
"Jangan gr! Gue cuma ga mau kalo Lo bikin orang-orang zinah mata.."
"Hahah bilang aja cemburu" ujar altar sambil terkekeh
"Udah diem ga usah banyak bacot!" Ujar Anna malas menanggapi
To be continued
Hai guys jangan lupa untuk like komen dan vote nya yaa 😍🙏 terimakasih 🤩 dukungan kalian sangat penting untuk menambah semangat author 🤗
hai guys jangan lupa juga buat mampir ke novel aku, pokonya di jamin ga kalah seru, judul nya "The owner of my last love" menceritakan tentang seorang pria dingin yang menganggap semua wanita itu sama, namun keyakinan nya berubah saat dia bertemu alea maharani, wanita biasa yang pertama kali menolak pesona seorang zidan firmansyah.
karna merasa alea adalah wanita yang berbeda zidan pun tertarik dan mencoba untuk mendekatinya.
namun semua tak semudah yang dia kira, Alea dengan tegas menolak zidan karna cinta nya telah terpaut Kepada Eza faldiano yang merupakan sahabat masa kecil nya.
akankah Zidan dapat membuat hati Alea luluh?
__ADS_1
jangan lupa mampir ya guyss thank you 😍