Pendekar Pelukis Abadi

Pendekar Pelukis Abadi
102. Balas Dendam II


__ADS_3

Huang Xinxin memandang Wang Ye yang sudah berlumuran darah, bahkan seluruh kulitnya sudah hancur, tidak tampak seperti manusia yang hidup lagi.


Tapi, melihat ini membuatnya merasakan kesenangan yang tidak tertahankan. Melihat musuhnya menjadi seperti ini adalah kepuasan yang tidak bisa dia hentikan.


"Wang Ye, apakah kamu akan menduga bahwa hari balas dendam ini akan tiba dengan sangat cepat ? Bahwa aku, Huang Xinxin yang telah kamu bunuh, masih akan merangkak keluar dari neraka untuk membalas dendam padamu ?" Tanya Huang Xinxin dengan senyum miringnya yang mematikan.


Wang Ye yang sudah dalam kondisi sangat sekarat bahkan tidak bisa membalas lagi, tapi pada saat ini dia masih dalam kondisi hidup.


"Karena kamu sangat menyukai untuk menjilat orang lain maka akan ku kabulkan permintaanmu. " Bisik Huang Xinxin.


Huang Xinxin mengulurkan tangannya dan mencabut lidah Wang Ye, Wang Ye menjerit kesakitan dengan kata kata yang tidak jelas sementara para selir dan istrinya merasa ketakutan dengan hal ini.


Entah berapa kali mereka meminta tolong tapi tidak ada yang mendengar suara mereka, itu semua karena keegoisan dari Wang Ye.


Wang Ye selalu merasa bahwa dirinya tidak kalah dari Bangsawan Kuno sehingga dia membangun Istananya sendiri disini dan memastikan bahwa orang luar tidak akan mampu untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam kediamannya.


Bahkan jika dia melakukan hal hal yang bertentangan dengan moral sekalipun, orang luar tidak akan mengetahuinya. Sekarang, Wang Ye sendiri telah menyesal tapi semuanya telah terlambat.


Pada akhirnya, Huang Xinxin meninggalkan dia yang sekarat, tangan dan kakinya telah diputuskan, lidahnya juga telah dicabut.


Masa depannya juga telah dihancurkan oleh Huang Xinxin, dengan itu dia sering melakukan kejahatan. Entah berapa banyak gadis gadis yang bersih dan harus menderita karena tindakan Wang Ye.


Huang Xinxin sama sekali tidak menyesal dengan tindakannya ini tapi pada saat yang sama, dia tidak ingin Ming Yue melihat secara langsung kekejaman yang dia lakukan.


Huang Xinxin membiarkan sampah itu tetap disana seolah olah dia sudah mati, Huang Xinxin menoleh ke belakang untuk melihat para istri dan selir Wang Ye.


"Aku yakin bahwa kalian memiliki cinta yang sangat mendalam pada Wang Ye. Bagaimana jika kalian mati bersama dengannya sehingga dia tidak akan kesepian ?" Tanya Huang Xinxin.


"Tidak ! Tidak, aku tidak mau mati !" Seru mereka sambil merangkak menuju Huang Xinxin dan terus bersujud.

__ADS_1


Huang Xinxin melihat wajah mereka dengan senyumnya tapi entah kenapa mereka merasa takut dengan senyum Huang Xinxin.


"Kalian semua tidak ada yang ingin menemani Wang Ye di dalam kematian ?" Tanya Huang Xinxin sekali lagi dan mereka menggeleng dengan keras.


"Ah, tampaknya kamu hanya bisa sendirian. " Balas Huang Xinxin pada Wang Ye yang memelototi para wanita itu.


"Asalkan Nona Huang memberi kami perintah maka kami pasti akan menurutinya, selama Nona Huang bersedia untuk melepaskan nyawa kami. " Ucap mereka sembari bersujud.


"Kalian akan melakukan semua yang ku minta ?" Tanya Huang Xinxin.


"Ya, ya, kami akan melaksanakannya. " Jawab istri Wang Ye.


"Kalau begitu, bagaimana jika aku ingin meminta kalian untuk mati ?" Tanya Huang Xinxin.


Wajah mereka langsung kembali pucat dan menundukkan kepala mereka.


"Karena kalian tampak begitu tidak setia dengan Wang Ye maka aku akan memberikan kalian pilihan untuk menyelamatkan diri sendiri. " Ucap Huang Xinxin.


Para wanita itu saling memandang satu sama lain dan merasa takut dengan hal ini, tapi pada saat yang sama mereka tidak ingin mati.


Sampai akhirnya, seorang gadis muda bangkit dan berjalan menuju Wang Ye.


"Keluargaku dibunuh oleh Wang Ye, aku dipaksa untuk menikah dengannya. Aku tidak akan pernah memaafkannya. " Ucap selir kecil itu.


Semua orang memandang selir kecil itu dengan terkejut tapi tidak ada yang menahannya. Selir kecil itu dengan tangan yang gemetar mengambil kuas dan mengambil darah Wang Ye lalu berjalan keluar untuk menuliskan kejahatan Wang Ye secara pribadi.


Perlahan lahan, mereka semua melakukan hal yang sama untuk Wang Ye. Wang Ye sendiri tidak bisa melakukan apa apa.


"Kalian semua sudah melakukan apa yang kuminta. Sekarang, aku ingin kalian melakukan satu hal lagi. " Ucap Huang Xinxin.

__ADS_1


"Apa itu ?" Tanya Nyonya Wang.


"Selama kalian bersumpah bahwa kalian tidak pernah melihatku maka aku akan melepaskan kalian tapi jika kalian menyebutkan namaku , maka aku pasti akan datang. " Jawab Huang Xinxin.


"Nona Huang tenang saja, kami bersumpah bahwa kami tidak melihat dirimu sama sekali pada pagi ini. " Balas mereka dengan serius.


Huang Xinxin tersenyum puas dan merasa lebih tenang, sementara dia sendiri menarik Wang Ye lalu menggantungnya di depan gerbang sehingga semua orang bisa melihatnya dengan jelas.


Lalu dia meninggalkan tempat itu dengan cepat dan dalam sekejap, tempat kediaman Wang berubah menjadi penuh dengan keramaian.


Huang Xinxin membakar pakaiannya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian rumah lalu dia pergi ke kamarnya dan menemukan sebuah kotak di dekat tempat tidurnya.


Ketika dia membukanya, ternyata itu berisikan sebuah kuas, kuas yang begitu indah, apalagi jika bukan Kuas Giok Bulan miliknya.


Hanya berpisah selama beberapa minggu membuatnya sangat merindukan Kuas ini, untunglah Kuas ini telah diselamatkan terlebih dahulu.


Dia mengambil kertas lalu mulai melukis seekor rubah yang lucu, sama sepertinya sementara di dunia luar terjadi kekacauan yang besar. Bahkan Ming Yue pun dikejutkan dengan hal ini, yang lebih mengejutkan lagi adalah tulisan tulisan yang ada di gerbang depan Kediaman Wang Ye.


"Siapa yang begitu berani untuk menyerang di siang hari ? Apakah ini berkaitan dengan orang misterius itu ? Orang dengan tato bunga persik sudah ditangkap sementara orang dengan tato bunga kamelia , belum. " Ucap Yue Zhang.


Ming Yue mengerutkan dahinya dan merasa ada yang aneh dengan kasus ini, jika orang misterius itu benar benar menyerang maka tidak harus pagi seperti ini.


Sebelum akhirnya dia mengingat sebuah kalimat dari kekasihnya, bahwa dia akan membalaskan dendam hari ini.


"Ini adalah pekerjaan dari Xinxin. Aku akan pergi untuk melihatnya. " Ucap Ming Yue bangkit berdiri.


"Nona Huang yang melakukannya ? Untuk apa ?" Tanya Yue Zhang dengan bingung.


"Wang Ye bekerja sebagai kepala penjara, takutnya ada beberapa hal yang membuat Xinxin menjadi seperti ini. " Jawab Ming Yue.

__ADS_1


"Pria Wang itu benar benar pantas mendapatkannya. Bukankah dia selalu berusaha untuk menyulitkan kita ketika berada di penjara Istana ?" Tanya Yue Zhang dengan santai.


__ADS_2