
Disaat semua orang sibuk dengan bertarung dan orang orang dilanda oleh kegelisahan karena peperangan yang mengerikan ini, hanya ada satu tempat yang masih bisa terhitung cukup damai. Itu adalah Istana, tempat yang dilindungi oleh ribuan orang.
Pada saat ini, bahkan ada 2.000 prajurit yang diminta untuk berjaga di sekitar Istana demi menjaga keselamatan seluruh orang yang tinggal di Istana. Alih alih membiarkan separuh atau bahkan lebih prajurit untuk pergi ke medan perang, Kaisar justru lebih senang memperkuat pertahanannya sendiri menjadi tiga kali lipat.
Ibu Suri juga bukannya tidak tahu akan hal ini, jika memang dia perduli dengan semua orang dan belas kasih yang dia miliki seluas samudera maka dia pasti akan menentang apa yang sedang dilakukan oleh Kaisar pada saat ini. Tapi nyatanya apa ? Selain memberikan gelar kosong kepada Ming Yue, hal apa lagi yang dilakukan oleh Ibu Suri ?
Memberikan kembali gelar pada Ming Yue mungkin membuatnya tampak sangat murah hati dan penyayang tapi pada kenyataannya, di saat saat kondisi krisis seperti ini, selain Ming Yue maka siapa lagi yang bisa memimpin pasukan untuk melawan musuh yang mustahil untuk dikalahkan ?
Melawan siluman dan Kerajaan Yu, jenderal mana yang bersedia untuk menyerahkan hidup mereka secara sia sia untuk melakukan peperangan yang tidak ada kemungkinan menang itu kecuali Ming Yue ?
Ming Yue bersedia untuk bekerja secara sukarela memimpin pasukan bahkan jika dia tahu bahwa dia tidak mungkin bisa menang.
Pada akhirnya ada satu kesimpulan yang dapat mereka ambil antara Kaisar dan Ibu Suri, yaitu buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Sebenarnya sikap Ibu Suri tidak berbeda jauh dengan putranya.
Ibu Suri sendiri tampaknya membenci Ming Yue selain itu ada hal yang lain yang membuatnya sangat dibenci oleh Zhou Yuan. Zhou Yuan mengatakan bahwa seluruh keluarganya meninggal karena Ibu Suri dan Ibu Huang Xinxin. Hanya saja tidak disebutkan dengan jelas apa penyebabnya.
Para selir di dalam Istana masih bertindak seolah olah semuanya baik baik saja, mereka bahkan masih bisa mengadakan perjamuan teh kecil untuk menikmati hari.
Sementara orang orang pergi untuk berperang melawan musuh. Istana tampak benar benar nyaman sekali bahkan dalam kondisi seperti ini.
Hal ini membuat semua orang yang melihatnya akan merasakan keluhan, satu satunya orang yang gelisah di dalam Istana adalah Jiu Rui.
Dia pergi untuk menghadap Ayahnya dan mencari Ayahnya untuk mengatakan bahwa dia siap untuk maju ke garis depan juga.
__ADS_1
Sebagai Putra Mahkota, dia justru duduk disini tanpa melakukan apapun dan melihat bagaimana orang orang berkorban untuk melindungi Kekaisaran Jiu.
Hal ini benar benar membuat Jiu Rui menjadi tidak nyaman , Jiu Rui sendiri merasa bahwa dia seharusnya ikut maju ke garis depan.
Jiu Rui berjalan ke Aula Kekaisaran dan melihat bahwa Ayahnya hanya sedang bersantai santai duduk dikipasi oleh para selir dan menikmati makanan yang mewah.
"Apa yang membawamu datang kemari ?" Tanya Jiu Ming.
"Ayahanda, aku ingin pergi ke garis depan. " Jawab Jiu Rui.
Jiu Ming bertindak seolah olah dia tidak mendengar apa yang telah dikatakan oleh Jiu Rui dan hanya mengabaikan apa yang dikatakan oleh Jiu Rui.
Jiu Rui merasa agak canggung karena tidak menyangka bahwa dirinya akan mendapatkan perlakuan yang sangat dingin dari Ayahnya sendiri dan dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
Dia ingin menunjukkan bahwa dia telah yakin untuk maju ke garis depan.
"Ayahanda, aku ingin pergi menuju garis depan dan membantu. " Ucap Jiu Rui dengan lantang.
"Jika kamu pergi kesana, apa yang bisa kamu lakukan selain menambah masalah ?" Tanya Jiu Ming dengan acuh tak acuh. Jiu Rui yang mendengar ini merasa agak sakit hati tapi dia berusaha untuk tetap tenang dengan kondisi ini.
"Aku bisa menulis jimat dan aku juga telah berlatih selama bertahun-tahun dalam memegang senjata, aku bisa membantu banyak hal. " Ucap Jiu Rui.
"Kamu adalah Putra Mahkota, satu satunya hal yang harus kamu lakukan adalah duduk diam disini dan memantau semuanya. Kamu tidak harus pergi sendiri ke garis depan. " Ucap Kaisar dengan kesal.
__ADS_1
"Karena aku adalah Putra Mahkota maka aku harus pergi kesana dan melihat kondisinya, pada saat ini semua orang sedang menderita tapi disini hidup dengan sangat mewah. Aku tidak tahan dengan kondisi ini !" Seru Jiu Rui mengeluarkan apa yang telah dia rasakan belakangan ini dengan jujur.
Jiu Ming yang mendengar ini langsung tersulur oleh amarah, Jiu Ming selalu membenci orang yang menentang perkataannya dan belakangan ini Jiu Rui sudah berulang kali menentang perkataannya.
Jiu Rui selalu menjadi Putra yang dia banggakan dan Putra yang dia sayangi tapi belakangan ini sikap Jiu Rui padanya telah berubah dan Jiu Rui sudah tidak menurut lagi dengan apa yang dia katakan.
Jiu Ming merasa kesal dengan fakta bahwa Jiu Rui sekarang memiliki pemikirannya sendiri dan tidak ingin menurut dengan kata katanya lagi.
Menurut Jiu Ming, apapun yang dia katakan maka Jiu Rui harus menurutinya, jika tidak maka Jiu Ming pasti akan merasa kesal. Jiu Rui merasa muak berada di dalam posisi semacam itu terus menerus. Sudah bertahun tahun panjang dia bertahan di dalam kondisi itu dan pada saat ini, dia memutuskan untuk menolak menerima hal tersebut.
"Kamu adalah Putra Mahkota dan aku adalah Kaisar ! Apa lagi yang kamu harapkan ?! Apakah kamu berharap bahwa aku akan pergi ke perbatasan dan memimpin perang ? Bukankah itu sudah tugas mereka untuk melindungi kita ?!" Teriak Kaisar dengan murka dan membanting barang yang ada di sekitarnya.
Jiu Rui masih berlutut di sana dengan tegak, dia menatap Ayahnya dengan tatapan kecewa yang sangat jelas.
"Dulu, aku sangat mengagumi Ayah tapi sekarang aku sudah sadar bahwa aku mengagumi orang yang salah. " Ucap Jiu Rui sebelum akhirnya bangkit dan berbalik.
"Berhenti disana ! Siapa yang memberimu izin untuk pergi ?!" Teriak Kaisar.
"Aku sudah memutuskan untuk pergi dan Ayah tidak memiliki hak untuk menghalangi kepergianku !" Balas Jiu Rui dengan nada yang tinggi juga.
"Berani beraninya kamu melawan perintah yang ku berikan !" Teriak Kaisar.
"Kenapa aku tidak berani ? Sebelumnya, karena kepatuhan ku, aku telah kehilangan seseorang yang aku cintai. Aku telah kehilangannya dan itu semua karena Ayah ! " Teriak Jiu Rui dengan murka.
__ADS_1
Semua orang terkejut ketika melihat kemarahan Jiu Rui, belum ada yang pernah melihatnya sangat marah seperti ini sebelumnya.