
Huang Xinxin tidak berdiam diri selama ini dan menggambar sesuatu untuk diberikan kepada Aula Shuiyun.
Itu adalah seseorang yang memegang lentera dengan cahaya yang redup ditengah sungai Kuning, orang itu berdiri di atas perahu buruk rupanya dengan rapuh.
Orang itu tampak bisa tumbang kapan saja, dia melukis semua ini dengan hati hati dan detail yang tajam.
Seolah olah memancarkan keputus asaan, kesepian dan kebingungan. Dia menghabiskan waktu 6 jam untuk melukis ini sementara lukisan yang kedua adalah seorang pria dengan siluet tubuh yang kekar dan gagah.
Dia tidak menggambar wajah pria itu, hanya menggunakan punggung dan tampak samping dari wajah pria itu dengan pedang di tangannya yang masih mengalirkan darah segar dari sudut pedangnya.
Orang itu berdiri ditengah tengah Gunung mayat dan sungai darah, dia berdiri disana dan tangan kirinya memegang tiang bendera kemenangan tapi tidak ada rasa kebahagiaan di tengah itu.
Hanya saja dia menggunakan seseorang sebagai inspirasinya kali ini, siapa lagi jika bukan Ming Yue. Dia mengenakan jubahnya dan memastikan bahwa tidak ada yang melihatnya lalu melompat dari jendela.
Dari jendela, dia berjalan keluar dengan diam diam dan pergi dari Kediaman Bangsawan Huang untuk memberikan lukisan ini kepada Aula Shuiyun.
Sesampainya di Aula Shuiyun, dia berpapasan dengan seorang gadis yang tampak anggun dan menawan, dia mengenakan cadar tapi dari matanya sudah terlihat dengan jelas bahwa dia adalah gadis cantik.
Hanya saja, wajah ini benar benar tidak asing, mirip dengan seseorang yang pernah dilihatnya. Tapi, siapakah itu ? Huang Xinxin diam mematung dan melihat gadis itu dengan tatapan penasaran.
"Apakah ada yang salah dengan penampilanku ?" Tanya gadis itu ternyata menyadari tatapan yang diberikan oleh Huang Xinxin.
"Ha ha ha, maaf jika membuat Nona tersinggung tapi ini pertama kalinya aku melihat seorang gadis yang sangat cantik seperti Nona. Aku jadi penasaran akan nama Nona. " Jawab Huang Xinxin.
"Nona ini terlalu sungkan, aku adalah Wu Ying dari Keluarga Wu ingin melihat lihat lukisan yang ada di Aula Shuiyun. Kalau aku boleh tahu, siapa nama Nona ini ?" Tanya Wu Ying.
Huang Xinxin yang mendengar nama ini tiba tiba mengingat Wu Ying yang ditemuinya di Perjamuan Musim Dingin.
"Namaku Xia Mei, pelukis baru disini. " Ucap Huang Xinxin dengan nada yang ramah.
__ADS_1
"Ah, Nona Xia, namamu dan lukisanmu telah dikenal oleh banyak orang , aku adalah salah satu penggemarmu. " Balas Wu Ying.
"Terima kasih banyak atas pujian dari Nona Wu, aku seorang pelukis baru benar benar tidak layak untuk pujian ini. " Ucap Huang Xinxin rendah hati.
"Uhukkk ! Maaf, aku mungkin tidak bisa menemani Nona Xia berlama lama disini. Jika aku ingin menghubungi Nona Xia, kemana aku bisa datang ? "Tanya Wu Ying dengan lembut.
"Nona Wu bisa memberikan undangannya kemari, Tuan Liu dari Aula Shuiyun akan memberikannya padaku. Nona Wu, kita akan bertemu lagi di masa depan, tolong jaga dirimu baik baik. " Jawab Huang Xinxin dengan senyum tipis.
Wu Ying mengangguk dan berjalan menuju kereta kuda, Huang Xinxin entah bagaimana sekarang merasa bahwa Wu Ying bahkan tidak sepolos yang ada di dalam cerita.
Dia dikatakan lemah dan penyakitan tapi dengan lingkungan bangsawan yang mengerikan ini, maka sulit untuk bertahan.
Selain itu, terlalu banyak yang berbeda di dalam cerita ini dibandingkan dengan cerita aslinya, tentu saja membuat Huang Xinxin merasa curiga.
Dia bahkan tidak bisa tidur dengan tenang belakangan ini, dia memiliki informasi dari Ayahnya bahwa Perbatasan Barat Daya milik Ming Yue tidak terlalu baik.
Hal ini benar benar membuatnya merasa tidak tenang dengan semua ini, dia memang menebarkan permusuhan dengan Ming Yue tapi bukan berarti dia ingin melihat pria itu meninggal dengan sia sia seperti ini hanya karena kecemburuan Kaisar.
"Tampaknya aku menganggu kegiatan melukis Tuan Liu. " Ucap Huang Xinxin.
"Tentu saja tidak, pada saat ini Nona Xia telah menjadi Pelukis kelas atas, bagaimana mungkin Aula Shuiyun kami berani menolak ? Aku hanya mengisi waktu luang ku. " Balas Tuan Liu melihat ke arahnya.
Huang Xinxin melirik bahwa yang dilukis itu adalah lukisan Wu Ying, hanya saja dengan pakaian yang berbeda.
"Nona muda dari Keluarga Wu memang memiliki pesona yang sangat luar biasa, tentu saja untuk memiliki kekaguman padanya. " Ucap Huang Xinxin.
"Orang yang bisa masuk dalam lukisanmu maka seharusnya memiliki pesona yang kuat, walaupun Nona Wu berada dalam kondisi tubuh yang kurang sehat tapi kecantikannya cocok sekali untuk dijadikan dalam bentuk karya seni. " Balas Tuan Liu.
"Ha ha ha, ini aku membawa dua lukisan yang baru saja aku buat. Minggu depan, mungkin aku ingin membawakan tiga lukisan. Yang ini aku menginginkan harga mulai dari 100.000 emas sementara yang ini 125.000 emas. " Ucap Huang Xinxin.
__ADS_1
"Walaupun terdengar mahal tapi ini sebanding dengan kualitasnya, tampaknya Nona Xia adalah orang yang memperhatikan lingkungan sekitar. " Balas Tuan Liu ketika melihat lukisannya.
"Pada saat ini dunia sedang tidak damai, apa yang bisa aku lakukan ? Aku hanya bisa melukis dan melukis. " Ucap Huang Xinxin.
"Kalau begitu maka aku akan menunggu kabar baik dari Tuan Liu selanjutnya, selamat tinggal !" Lanjut Huang Xinxin dan pergi dari Aula Shuiyun.
Dia bersiap siap untuk menempuh Aula Shuiyun, dia tidak bisa membiarkan para prajurit itu mati dengan sia sia.
Itu adalah nyawa 4 ribu orang, betapa kejam Kaisar pada saat ini karena membiarkan mereka mati dengan Ming Yue.
Huang Xinxin telah menyelesaikan segala tugasnya maka dia harus mempelajari sebuah jimat yang menurutnya sangat penting.
Jimat ini akan menimbulkan ledakan yang walaupun tidak membahayakan tapi akan menunda musuh dan memberikan waktu.
Selama dua hari penuh, Huang Xinxin berlatih di rumah untuk membuat jimat yang dia maksud. Jimat peledak ini membutuhkan kertas khusus yang telah dilapisi minyak zaitun dan dikeringkan dibawah cahaya bulan selama 9 hari.
Sehingga jumlahnya tidak banyak dan juga agak mahal, Huang Xinxin membuat Jimat Peledak 15 buah, Jimat Api 15 buah dan Jimat Panah 10 buah.
Jimat Panah adalah ketika mengaktifkannya maka akan muncul tiga anak panah yang menyerang lurus ke depan.
Jimat Panah ini sama seperti Jimat Peledak dan membutuhkan kertas khusus. Huang Lixin sendiri sudah membeli banyak sekali pakaian untuk berikan ke perbatasan barat daya.
Seperti yang mereka duga, semua ini karena kecemburuan Kaisar. Perbatasan Selatan dan Utara telah mendapatkan bantuan makanan dan pakaian tapi ketika itu sampai ke Perbatasan Barat Daya.
Ada yang mengatakan bahwa roda dari kereta pengangkut rusak atau ada yang mengatakan bahwa jalan untuk menuju kesana tidak bisa dilalui.
Memang paling benar untuk mengandalkan diri sendiri. Huang Lixin juga tidak bisa tinggal diam ketika melihat tindakan jahat Kaisar.
Huang Xinxin mempersiapkan dirinya dengan zirah besi tipis yang diisi dengan jerami sehingga memberikan kesan yang elastis dan tahan akan benda tajam di bagian jantungnya. Lalu dilapisi dengan pakaian pria dan paling luar adalah mantel bulu cerpelai.
__ADS_1
...----------------...