Pendekar Pelukis Abadi

Pendekar Pelukis Abadi
166. Hujan


__ADS_3

Pada kenyataannya, diluar sama sekali tidak ada mobil yang dipesan oleh Xia Xinxin. Dia hanya berusaha untuk kabur secepat mungkin sementara dia sendiri sudah tidak tahan lagi untuk berada disini. Setiap detik dia lebih lama disini membuatnya merasa seperti seolah olah dia telah dikuliti hidup hidup oleh pasangan ini.


Dia tidak memaksakan diri untuk bersama dengan Ming Yue tapi bukan berarti dia bisa dengan begitu lapang dada untuk melihat orang yang dicintainya bersama dengan orang lain tapi pada saat yang sama dia juga tidak bisa menyalahkan Wang Ziqi.


Karena Wang Ziqi adalah orang yang lebih dulu bertemu dengan Ming Yue dibandingkan dia di dalam kehidupan ini maupun sebelumnya.


Xia Xinxin tertawa ringan sendirian di jalan yang sepi itu, karena sudah larut malam maka jalan itu menjadi sangat sepi dan hampir tidak ada orang yang lewat.


Bahkan jika ada orang yang lewat masih tidak menghampirinya karena dia tampak seperti orang gila pada saat ini.


Siapa yang menyangka bahwa hujan mulai turun ketika dia berjalan , hujan tampaknya enggan untuk meninggalkannya sendirian.


Paling tidak, dunia ini tidak begitu kejam karena membuatnya merasa kesepian lagi.


Sepanjang puluhan tahun, dia telah merasakan kesepian dan menderita karena tua dan sakit. Dia mengalami segala keburukan yang ada di dunia fana.


Pada akhirnya dia mendapatkan sebuah kesimpulan yang paling mendalam, kesepian adalah hal yang tak terlihat secara langsung tapi memiliki efek paling dalam.


Xia Xinxin tertawa dan menangis pada saat yang bersamaan di bawah hujan ini tanpa takut bahwa orang orang akan melihatnya menangis di tengah jalan.


Dia berteriak dan meraung, tapi tidak ada satupun orang yang mendengarnya karena hujan berniat untuk menutupi hal ini dari orang lain maka tidak ada orang lain yang bisa mendengar ini.


Xia Xinxin membuang sepatunya yang mahal dan berlari tanpa alas kaki dengan riang dan gembira, berlari di bawah hujan seperti ini membuatnya merasa lebih nyaman dan emosinya bisa disampaikan dengan begini.

__ADS_1


Xia Xinxin berteriak dengan marah, kesal dan putus asa tapi tidak ada satupun yang bisa mendengarnya.


"Selama ini aku menunggu tapi ternyata sia sia, aku tidak menyangka ternyata yang aku tunggu adalah jodoh orang lain. Sejak awal, aku memang agak bodoh. " Gumam Xia Xinxin menertawakan kemalangan dirinya sendiri.


Xia Xinxin duduk bersimpuh di tanah dan memandang jalan yang tertutup hujan deras ini , hampir tidak ada satupun orang yang melewati jalan ini.


Xia Xinxin mulai menangis tapi itu menyatu dengan air hujan yang mengalir deras. Tidak ada yang tahu apakah dia benar benar menangis atau tidak.


Hanya saja, semua orang yang memahaminya akan tahu bahwa dia sedang merasakan sakit hati yang mendalam. Jika tidak maka dia tidak akan begitu gila karena ini.


"Ming Yue, jika kamu benar benar bahagia dengannya maka aku pasti tidak akan melarang kalian. " Ucap Xia Xinxin dengan senyum miris.


"Anggap saja bahwa kisah Huang Xinxin dan Ming Yue pada hari itu hanyalah sebuah mimpi indah yang aku mimpikan dan aku harapkan. Itu adalah kesalahanku karena berharap terlalu banyak padamu. Padahal kamu sama sekali tidak mengingatku. "


Xia Xinxin berusaha untuk menahan diri agar tidak berteriak dengan frustrasi. Tapi pada akhirnya juga tidak akan ada yang melihatnya jadi dia berteriak dan memaki, dia melampiaskan seluruh kemarahan yang telah dia pendam selama ini.


Seandainya jika dia bertemu dengan Ming Yue lebih awal dari Wang Ziqi apakah ada kemungkinan bahwa dia akan memenangkan hati Ming Yue dan pada saat ini Ming Yue sedang bersamanya ?


Xia Xinxin memiliki keinginan egois miliknya tapi pada saat yang sama dia tidak bisa memaksa Ming Yue, jika Ming Yue melakukan semuanya karena terpaksa maka semuanya sudah tidak berguna lagi.


Xia Xinxin hanya menginginkan satu hal pada saat ini, asalkan Ming Yue sehat dan aman maka mungkin itu adalah yang terbaik bagi mereka berdua. Sudah saatnya bagi mereka untuk mengambil jalan mereka masing masing.


Xia Xinxin perlahan lahan bangkit dari posisinya bersimpuh dan sekarang dia perlahan lahan menyeret tasnya dan berjalan terseok seok tanpa alas kaki.

__ADS_1


Jika dia dilihat oleh petugas keamanan maka dia pasti akan diamankan dan dibawa ke kantor petugas kemanan untuk di interogasi dan dianggap gila.


Xia Xinxin melihat ke sekitarnya dan mencari jalan pulang ke rumahnya. Xia Xinxin melihat arlojinya dan menemukan bahwa seharusnya orang tuanya sudah tidur dalam jam seperti ini dan dia bisa kembali tanpa perlu di interogasi.


Pada saat ini, dia sangat lelah baik secara fisik maupun secara mental. Seluruh tubuhnya basah kuyup dan dia harus pulang.


Jika tidak maka orang tuanya akan khawatir keesokan harinya, hanya saja pada saat ini dia tampak sangat menyedihkan. Rambutnya sudah tidak memiliki hiasan lagi. Dia tidak menggunakan sepatu dan dia juga tidak tampak megah lagi seperti dia ingin pergi tadi.


Jika Hua Yin melihatnya maka mungkin akan terkejut dengan kondisinya, tiba tiba ada yang menghampirinya.


Sebuah mobil yang mewah menepi ke arahnya dan turun dengan sebuah payung lalu memayungi dirinya.


"Kenapa Nona sendirian disini-" Ucapan orang itu terpotong ketika dia mengangkat matanya.


Xia Xinxin menatap ke arah wajah pria itu dan merasa tidak asing dengan penampilan pria itu. Sebelum akhirnya ribuan kenangan langsung membanjiri ingatannya.


Dia merasa campur aduk ketika bertemu dengan orang ini lagi setelah beberapa tahun. Dia merasa rindu dengan orang ini, orang yang sudah membuatnya menyesal belakangan ini.


Orang yang membuatnya merasa tidak nyaman dan tidur tidak nyenyak ini tidak lain tidak bukan adalah orang yang menemani masa kecilnya, Jiu Rui.


Orang yang bunuh diri di hadapannya untuk mematahkan seluruh kecurigaan Xia Xinxin, selama ini Xia Xinxin masih merasa curiga padanya tapi bayaran yang diberikan oleh Jiu Rui untuk meyakinkan Xia Xinxin terlalu besar.


Itu dibayar dengan nyawanya dan pada akhirnya ketika Xia Xinxin percaya padanya sekalipun, itu semua sudah terlambat karena Jiu Rui sudah pergi dan dia menyesal selama tiga puluh tahun hanya karena hal ini.

__ADS_1


Xia Xinxin menyesal dan menderita tapi dia benar benar tidak tahu bagaimana cara untuk membayar dosa ini pada Jiu Rui dan sekarang pria itu berdiri di hadapannya dalam keadaan yang sehat dan tampak sangat cerah.


__ADS_2