Pendekar Pelukis Abadi

Pendekar Pelukis Abadi
50. Peperangan


__ADS_3

"Kakak Tian , sudah berapa lama aku tertidur disini ?" Tanya Huang Xinxin.


"Sudah lumayan lama, mungkin sekitar 3 jam atau mungkin 4 jam. Tidurlah lagi, kita akan melanjutkan perjalanan setelah kamu merasa lebih baik. " Jawab Tian Li.


Wajah Huang Xinxin langsung berubah ketika mendengar jam, dia tidak menyangka bahwa dia tertidur begitu lama.


"Kakak Tian, perjalanannya langsung dilanjutkan saja. Aku pikir ini adalah situasi yang mendesak dan tidak baik untuk menunda perjalanan. " Ucap Huang Xinxin.


"Tapi, apakah tubuhmu bisa menahannya ? Kamu sedang demam dan pada saat ini salju sedang turun. " Balas Tian Li dengan khawatir.


"Kakak Tian tenang saja, aku yang paling memahami tubuhku sendiri. Tolong minta pada kakak kakak yang lain untuk bersiap siap. " Ucap Huang Xinxin dan dengan paksa bangkit berdiri.


Tian Li tidak menyangka bahkan dengan suhu tubuh yang begitu panas masih tidak menghalanginya untuk pergi menuju Ibukota.


Tampaknya keadaan kali ini benar benar mendesak sampai sampai Huang Xinxin tidak menunda sedikitpun waktu bahkan jika itu untuk kesehatannya sendiri.


Disisi lain, Ming Yue dan Yue Zhang sendiri sudah menghemat makanan mereka ternyata tidak sampai 8 hari sudah membuat mereka menderita.


Hari ini adalah hari keempat dan para prajurit hanya boleh makan dua kali, itupun dengan jumlah yang sangat terbatas.


Ming Yue kembali dengan tangan yang terluka cukup parah karena serangan musuh.


"Berikan makanan ini kepada Prajurit yang belum makan. " Ucap Ming Yue.


"Kamu pada saat ini sedang dalam pemulihan, jika hanya makan sekali sehari, apakah kamu bisa bertarung ?!" Tanya Yue Zhang dengan emosi.


"Apakah yang memiliki tubuh ini dirimu ? Aku yang paling tahu kondisi tubuhku, jangan menunda lagi berikan kepada yang lain. Aku tidak lapar pada saat ini. " Balas Ming Yue.


Dia memilih makan sekali sehari dibandingkan melihat prajuritnya kelaparan dan harus bertarung melawan musuh.

__ADS_1


"Jenderal ! Surat yang Anda kirimkan kepada Kaisar telah mendapatkan balasan !" Teriak salah satu Prajurit dan memberikan gulungan kertas itu.


Ming Yue langsung mengambil surat itu dan merasa bahwa jantungnya berdebar dengan keras, hidup mati pasukan mereka akan bergantung pada surat ini.


Ketika dia membaca surat itu, jantungnya berhenti berdetak untuk sesaat dan tidak bisa percaya untuk sesaat.


...'Aku mengerti dengan kesulitanmu hanya saja pada saat ini di Istana sedang kesulitan untuk memenuhi makanan, makanan dan pakaian hangat baru saja dikirimkan kepada dua jenderal yang lain yang lebih memerlukan. Bertahanlah selama dua hari, Yang Mulia ini akan berusaha. '...


Ming Yue tidak percaya dengan apa yang telah dia baca, Yue Zhang merebut kertas itu dan membaca rulisn di atasnya.


"Apakah menurutnya seluruh nyawa kita tidak penting ?! Dua hari ? Jangankan dua hari, bahkan untuk melewati hari ini saja sulit. " Ucap Yue Zhang dengan marah.


"Kita harus mengirimkan surat lagi, kita tidak bisa bertahan. " Ucap prajurit pengantar surat itu dengan cemas.


"Percuma, Kaisar telah mengatakan seperti itu maka dia tidak akan membantu. Targetnya adalah aku, kamu pergi melihat ke kediamanku dan lihat apa yang bisa dijual, semuanya jual dan tukar menjadi makanan. " Ucap Ming Yue.


Ming Yue yang mendengar ini tampak terdiam, dia mengingat sumpah yang diajarkan oleh Ayahnya bahwa mereka akan melayani Kaisar dengan sepenuh hati. Terutama ketika Kaisar pada saat itu adalah satu satunya orang yang menemaninya bermain di Istana ketika semua orang menghindarinya karena takut akan tertular aura kematian.


"Lupakan, aku sudah menyimpan barang tua ini sejak lama dan itu sudah tidak berguna lagi. Jual saja, mungkin bisa mendapatkan beberapa puluh ribu Emas. " Ucap Ming Yue menarik liontin yang terikat di pedangnya dan memberikannya kepada Ming Yue.


"Ini hanyalah satu satunya peninggalan dari Jenderal Lei yang tersisa, kamu ingin menjualnya ?" Tanya Yue Zhang tidak percaya.


"Lalu, apa yang bisa aku lakukan ? Memberontak kepada Kaisar lalu semua orang yang mengikutiku akan dihukum mati bersama denganku ? Itu hanya benda tua yang tidak memiliki nilai penting, kenangan tidak akan bisa disimpan di dalam suatu benda. " Jawab Ming Yue memalingkan wajahnya.


"Baik, baik, karena kamu begitu bertekad maka aku akan melakukan apa yang kamu inginkan !" Balas Yue Zhang keluar dari tenda.


Kekejaman Kaisar benar benar berada di luar kendali, Ming Yue memejamkan matanya dan memeluk pedangnya.


Dia sudah tidak tidur selama beberapa waktu belakangan in dan ketika dia ingin tidur maka dia tidak bisa terlelap.

__ADS_1


Baru saja memejamkan matanya, tiba tiba terdengar suara terompet perang yang berbunyi lagi.


Peperangan kali ini dipimpin oleh Xing Fenghuang, kakak dari Xing Yunlai. Ming Yue membuka matanya dan menarik pedang pembunuhnya untuk melihat musuh yang mulai menyerang lagi.


Ming Yue memimpin perang dan berhadapan dengan Xing Fenghuang yang memegang golok besar miliknya.


Xing Fenghuang memiliki tubuh yang jauh lebih besar tapi secara kemampuan belum tentu setara.


"Percuma saja, tidak akan ada bantuan yang akan datang. Kalian orang dataran tengah memang munafik, mengatakan bahwa bersahabat baik tapi berniat membunuh. " Ucap Xing Fenghuang dengan dialek yang berbeda.


"Munafik atau tidak bukan urusan dari suku bar bar kalian, bagaimana kamu tahu apakah ada bantuan atau tidak ? Apakah seluruh Istana kami berada di dalam genggaman sukumu ?" Tanya Ming Yue.


"Ternyata, orang yang akan mati saja memiliki banyak kata kata. " Jawab Xing Fenghuang.


"Kalau begitu, jangan sampai kalah, aku takut kamu tidak akan bisa menahan rasa malu dari kekalahan setelah menyombongkan diri disini. " Balas Ming Yue.


Xing Fenghuang merasa marah dan menyerang Ming Yue, Ming Yue maju ke depan dan menahan golok besar milik Xing Fenghuang dengan pedangnya.


Suara gesekan besi terdengar bahkan sampai mengeluarkan percikan api, para prajurit juga tidak tinggal diam dan berperang untuk mempertahankan tanah air mereka.


Prajurit mereka secara tidak langsung memang kalah karena dari fisik dan tenaga tapi biasanya menang karena jumlah dan makanan.


Tapi, pada saat ini mereka tidak ada dua duanya dan pasukan mereka dengan cepat dibantai oleh orang bar bar.


Ming Yue melihat prajurit yang tumbuh bersama dengannya perlahan lahan tumbang dibawah senjata musuh membuatnya merasa marah.


Ming Yue menggeser tubuhnya dan menggores perut Xing Fenghuang dengan pedangnya dan melihat bahwa Xing Fenghuang kehilangan keseimbangan.


Xing Fenghuang mengayunkan pedangnya melewati kepala Ming Yue tapi Ming Yue menundukkan kepalanya sehingga pedang itu melewati kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2