
Note : Halo semuanya, sedikit note ya. Mulai sekarang maka latarnya akan menggunakan latar modern dan juga jika ada latar masa lalu maka itu akan flashback, untuk penulisan nama juga mulai sekarang akan ditulis sebagai Xia Xinxin (nama asli) bukan Huang Xinxin lagi ya.
...----------------...
Sejak kembali ke rumah, Xia Xinxin terus menerus memikirkan festival budaya yang disebutkan oleh sahabatnya, Hua Yin. Semakin memikirkannya maka semakin dia merasa tidak sabar untuk bertemu dengan orang orang yang ada di Festival Budaya itu.
Xia Xinxin berusaha untuk melukis tapi pada akhirnya dia tidak bisa melukis apapun, dia hanya bisa berhenti di sebuah garis datar tanpa ada ide lanjutan dari garis tersebut.
Setiap kali dia melukis maka dia akan mulai terbayang bayang dengan Huang Lixin dan Ming Yue, dimana sebagian besar waktunya melukis maka akan ditemani oleh kedua pria itu.
Xia Xinxin menghela nafas dan meletakkan kuas miliknya, karena kebiasaannya belakangan ini yang menulis menggunakan kuas, ketika dia harus menggunakan pena atau pensil maka dia tidak terbiasa.
Dia memegang pena dengan canggung dan berusaha untuk membiasakan diri, akan aneh jika dia menulis menggunakan kuas dan tinta.
Dia melihat bahwa lukisannya tidak sebaik dia di masa lalu tapi tidak apa apa , selama masih bisa dibaca dengan jelas maka dia tidak akan terlalu mempermasalahkannya.
Xia Xinxin mengambil sebuah buku hariannya dan menuliskan seluruh pengalamannya dalam beberapa hal yang disingkat, dia takut bahwa jika ini benar benar mimpi dan seiring berjalannya waktu maka dia akan melupakan kenangan ini dan dia tidak rela dengan hal ini. Dia tidak rela untuk melupakan semua kenangan indah bersama dengan Ming Yue.
Entah bagaimana dia mendapatkan keberanian untuk menyatakan perasaannya terlebih dahulu pada Ming Yue hari itu. Seandainya dia tidak menyatakan perasaannya terlebih dahulu maka mungkin mereka tidak akan menjadi sepasang kekasih.
Sejauh ini, Ming Yue tidak pernah mengecewakannya dan selalu menjaganya dengan baik. Sayang sekali bahwa dia tidak bisa menjaga Ming Yue dengan baik.
"Jika ada kesempatan untuk bertemu denganmu di kehidupan ini maka aku pasti akan membayar seluruh hutang budi yang aku miliki padamu. " Ucap Xia Xinxin dengan penuh tekad.
Dia tidak percaya bahwa semua ini mimpi, dia percaya bahwa semua yang dia alami nyata bahkan jika itu hanya dalam bentuk buku saja.
Xia Xinxin ingin menyangkal perasaannya sendiri yang mengatakan bahwa Ming Yue dan Huang Lixin hanyalah mimpi yang dia miliki selama dia koma tapi jawaban yang ingin dia cari akan dia temukan di festival budaya yang akan dia ikuti dengan Hua Yin besok lusa.
Pada saat itu maka dia akan menemukan apakah benar bahwa ada Dinasti Xia dan Dinasti Jiu, apakah dia benar benar menjadi seorang Kaisar ? Apakah namanya tercatat di sejarah Istana ?
__ADS_1
Xia Xinxin merasakan jantungnya berdetak dengan sangat kencang entah karena dia takut dan panik untuk melihat bagaimana dengan Ming Yue dan Huang Lixin.
Pada saat ini dia duduk di kamarnya sendiri dan melihat bahwa dirinya sedang menggunakan pakaian yang aneh , pakaian yang tipis ini terasa tidak nyaman.
Sebelumnya pakaian Huang Xinxin selalu tebal dan penuh dengan hiasan di kepala tapi pada saat ini hanya menggunakan selapis pakaian dengan rambut yang bahkan dibiarkan terurai.
Tiga puluh tahun berlalu dan dia menjalani semuanya dengan penuh perhatian, dengan begitu maka dia pasti tidak akan melupakannya dengan mudah.
Xia Xinxin membayangkan jika dia menggunakan pakaian tradisional yang sama dengan milik Huang Xinxin maka akan sangat baik sekali, paling tidak bahkan jika semua itu hanya mimpi tapi itu akan mengobati rasa rindu miliknya dengan kehidupan di dalam mimpi itu.
Xia Xinxin menghela nafas dalam dalam dan berharap bahwa besok lusa akan segera tiba dan dia akan segera bisa mencari tahu kebenaran terkait dengan mimpinya dan Ming Yue.
Dia berharap bahwa dalam kehidupan ini dia akan bisa bertemu dengan Ming Yue lagi bahkan jika hasilnya menyedihkan terutama karena Ming Yue mungkin melupakannya dan sudah menikah dengan gadis lain yang dicintainya, Xia Xinxin masih tidak menyesal dan tidak ingin melupakan Ming Yue.
Jika Ming Yue benar benar ada maka itu sudah akan membuatnya lebih lega bahkan jika tidak bersamanya, paling tidak semua itu bukan sebuah mimpi.
Tapi, jika semua itu hanya mimpi maka Ming Yue bahkan sebenarnya tidak pernah ada dan hanya hidup di dalam pikirannya, itu bahkan menyakitinya lebih dalam lagi dibandingkan dengan sebelumnya.
Dia sebenarnya memiliki handphone dan dia mungkin bisa saja mencari di internet tapi dia memutuskan untuk tidak mencarinya dan menunggu festival budaya itu datang.
"Ming Yue, jika kamu benar benar nyata maka aku berharap bahwa aku bisa bertemu denganmu paling tidak sekali saja dalam kehidupan ini. " Ucap Xia Xinxin.
Dia memikirkan lukisan yang terakhir kali dia buat untuk Ming Yue dan untuk Huang Xinxin. Apakah lukisan itu masih ada setelah seiring berjalannya waktu yang tidak tahu ada sejak kapan ?
Xia Xinxin berbaring di atas ranjangnya dan merasa bahwa dia merasakan kecemasan sehingga dia tidak bisa langsung tidur.
Tapi, setelah beberapa lama dia berbaring dan memikirkan Ming Yue, pikirannya perlahan lahan menjadi lelah karena pada dasarnya, otaknya membutuhkan istirahat sejak awal.
Jika tidak maka dia akan benar benar sakit, pemikirannya sejak awal sudah terganggu karena tubuhnya belum sepenuhnya pulih.
__ADS_1
Apa yang terjadi jika dia memaksakan dirinya untuk terus menerus berpikir tanpa istirahat ? Maka dia akan dengan mudah sakit kembali atau bahkan bisa saja dia kembali ke dalam posisi koma seperti sebelumnya.
Hanya saja dia memikirkan siapa orang yang berbicara dengannya ketika dia meninggal pertama kali karena dikurung dan disiksa di penjara ? Siapa yang mengatakan dan memberikan pilihan padanya apakah dia akan kembali atau tidak ?
Hal ini membuatnya berpikir semakin keras sebelum akhirnya benar benar terlelap, dia tidur dengan sangat gelisah dan tidak nyaman. Dia tidur dengan beberapa kali terbangun karena mimpi buruk.
Dokter mengatakan bahwa ini terkait dengan kondisi emosionalnya yang masih belum sepenuhnya stabil tapi tidak bisa dikatakan sebagai hal yang berbahaya dan akan bisa sembuh dengan seiring berjalannya waktu.
Orang tua Xia Xinxin sendiri merasa cemas dengan kondisi putri mereka yang terus menerus gelisah sepanjang malam. Mereka sebagai orang tua bagaimana mungkin hanya diam saja melihat putri mereka ketakutan seperti itu.
Setiap malam, putri mereka akan berteriak dalam mimpi buruknya.
"Jangan pergi !"
Tentu saja ini membuat orang tua Xia Xinxin kembali menceritakan hal ini kepada Dokter dan dia diberi obat untuk menenangkan emosinya. Dengan begitu maka dia menjadi lebih tenang tapi Xia Xinxin sendiri tidak merasa begitu terbantu.
Dia masih terus memimpin Ming Yue yang terbunuh tepat di hadapannya sebagaimana Ming Yue menggendongnya keluar dari penjara pada malam bersalju itu.
Bagaimana Jiu Rui menemaninya bermain bola salju sampai terkenal flu karena kedinginan, semuanya dia mimpikan.
Dia juga mengingat kata kata terakhir Jiu Rui yang berharap bahwa seandainya bisa memutar waktu maka dia ingin kembali ke masa masa saat mereka saling mengenal dan bermain bola salju.
Huang Xinxin juga mengingat bagaimana Huang Lixin menemaninya untuk mencari pakaian dan perhiasan, bagaimana Huang Lixin melindunginya dari Kaisar ketika dia memutuskan untuk membantu Ming Yue di perbatasan barat daya.
Bagaimana Huang Lixin selalu mendukung keputusan yang dia buat dan menyayanginya layaknya melihatnya sebagai Huang Xinxin yang asli.
Dia juga tidak akan lupa dengan Huang Shang Yue yang memanggilnya kakak di saat saat terakhirnya dan melindunginya dari anak panah yang dilayangkan oleh Wang Ziqi.
Dia tidak akan pernah melupakan bagaimana Huang Shang Yue perlahan lahan meninggal di dalam pelukannya dan darahnya membasahi pakaian Huang Xinxin.
__ADS_1
Dia tidak akan pernah melupakannya dan tidak akan pernah bisa melupakan hal itu, tatapan terakhir Huang Shang Yue padanya selalu berkesan begitu dalam di hatinya.