Pendekar Pelukis Abadi

Pendekar Pelukis Abadi
61. Berbuat Baik


__ADS_3

Huang Xinxin tentu saja melakukan apa yang dia ingin lakukan sejak awal dia datang kemari, yaitu membantu orang yang kelaparan sementara anak yang dibawanya itu dikatakan tertidur lelap setelah dimandikan dan dibersihkan.


Huang Xinxin juga tidak berniat menganggu, anak itu pasti tidak tidur dengan nyenyak belakangan ini dan juga pasti tidak nyaman untuk tidur di tempat yang sembarangan. Anak itu juga sudah diberikan makan, dia pasti akan tidur untuk situasi terbaiknya setelah beberapa tahun ini.


Jadi, Huang Xinxin tidak berniat untuk merusak perasaan senang yang ada di dalam diri anak itu. Biarkan anak itu merasakan ketulusannya dengan begitu baru bisa membangun hubungan yang baik jika tidak maka sulit untuk menjadi teman atau rekan di masa depan.


Huang Xinxin membantu memasak dengan para pelayan itu meskipun sudah dikatakan bahwa dia sebaiknya diam saja di bagian depan.


Sebenarnya Huang Xinxin tahu alasan para pelayan mengatakan itu adalah karena mereka tahu bahwa Huang Xinxin tidak pernah memasak dan takut bahwa hasil masakannya akan gagal sehingga mereka merasa takut.


Tapi, Huang Xinxin yang ini sudah berbeda dan dia tahu bagaimana cara memasak sederhana seperti bubur atau merebus sayur.


"Nona, apakah sungguh tidak apa apa jika kamu berada disini ?" Tanya salah satu pelayan itu.


"Tenang saja, aku tidak akan merepotkan kalian." Balas Huang Xinxin dengan tenang.


Dia mengaduk bubur dengan sampan perahu yang sangat besar lalu menggunakan tenaganya tentu saja sehingga keringat mengalir dengan deras dari dahinya, tapi tidak ada satupun kata kata keluhan yang keluar dari bibirnya sehingga semua orang merasa terkejut dengan keteguhan nya dan kerendahan hatinya.


Orang orang yang pernah menindas nya tiba tiba merasa menyesal dengan tindakan mereka, bahkan jika Nona mereka tidak berbakat melukis tapi juga bukan orang yang jahat.


Entah apa yang mereka pikirkan saat itu sampai sampai berani untuk bertindak dengan begitu jahat dan sekarang mereka benar benar menyesal dengan tindakan mereka dan berusaha untuk menebusnya dengan baik di hadapan Huang Xinxin.


Setelah mengaduk selama satu jam, akhirnya bubur itu jadi dan Huang Xinxin mencicipi nya, rasanya memang enak.


Ditambah dengan sayuran yang sudah direbus, mereka membawa ini ke depan dengan meja yang sudah disiapkan.


"Bubur gratis dari Keluarga Huang !" Teriak para pelayan.


Semua orang mulai berbaris untuk mendapatkan makanan gratis ini, tentu saja ada banyak orang yang datang untuk makan di keluarga mereka. Beberapa orang datang untuk menerima bantuan ini dan Huang Xinxin sendiri yang melakukannya.


"Terima kasih banyak, semoga berkat selalu menyertai Nona Huang. " Ucap seorang wanita tua itu.

__ADS_1


"Nyonya, makanlah dengan hati hati. Jangan sampai membasahi pakaianmu di musim dingin seperti ini. " Ucap Huang Xinxin dan mengambil mantel yang lebih dari untuk bantuan perang kemarin dan memberikannya kepada wanita tua itu.


"Nona Huang sangat rendah hati, pasti kebaikan akan selalu bersama dengan kalian." Ucap Wanita tua itu dengan berlinangan air mata.


Hal ini dengan cepat menyebar ke seluruh tempat, tentu saja hal ini adalah hal yang baik. Reputasi baik milik Huang Xinxin benar benar telah meningkat.


Dia bahkan dikatakan sebagai Dewi Keadilan , dia membunuh yang jahat dan membantu yang baik.


Hal ini sebenarnya tidak terlalu benar hanya saja kebetulan bahwa dia bisa mendapatkan gelar ini jika tidak maka jangan harap bahwa dia akan bisa mendapatkan gelar ini.


Huang Xinxin memandang yang lain bahwa dia telah berhasil mendapatkan gelar ini dengan bangga.


Perbuatan baik ini tidak sepenuhnya dengan niat lain di baliknya tapi dia memang ingin melakukan ini sejak pertama kali dia kesini hanya saja dia selama ini tidak memiliki kesempatan untuk itu dan sekarang dia sudah memilikinya.


Ini mungkin adalah kebiasaan dari masa lalu yang ikut bersama dengannya, dia memang bukan orang dengan pemikiran yang murni atau baik seperti kebanyakan karakter wanita dan cerita fiksi.


Dia memiliki kelicikan dan memiliki rencana jahat, hanya saja dia senang ketika berbagi seperti ini. Ketika berbagi seperti ini dia merasa bahwa dirinya menjadi manusia lagi.


Hanya saja, memberikan makanan terus menerus bukanlah solusi jangka panjang. Dia berniat untuk membangun lapangan pekerjaan bagi orang orang ini.


Huang Xinxin menuangkan bubur agak banyak untuk ibu dan anak ini, anak itu masih tampak sangat kecil dan berada di punggung ibunya.


"Terima kasih Nona. " Ucap Ibu itu.


"Tolong jaga bayimu dengan baik baik, dia sangat lucu. " Ucap Huang Xinxin mengelus kepala bayi itu dan menepuk bahu ibu itu sembari menyelipkan dua tael emas ke tangan ibu itu.


Ibu itu memandangnya dengan tatapan terkejut tapi Huang Xinxin menganggukkan kepalanya dan mengisyaratkan untuk diam agar uangnya tidak diambil oleh orang lain.


"Terimakasih banyak Nona, semoga Nona selalu sehat dan panjang umur. " Ucap Ibu itu menangis dengan keras lalu berjalan sembari memakan bubur itu.


Selanjutnya adalah pria paruh baya tampak ramah dan pakaiannya sudah usang, dia mengantre dengan sabar dan antusias.

__ADS_1


Huang Xinxin memberikannya semangkuk bubur dan pria itu berterima kasih lalu berlari menuju ke barisan belakang untuk memberikan bubur itu pada putrinya.


"Aku akan berikan mangkuk lebih pada pria itu. " Ucap Huang Xinxin.


Huang Xinxin mengambil mangkuk lain dan berjalan keluar dari balik meja untuk menghampiri pria itu.


Huang Xinxin menyentuh bahu pria itu dan pria itu reflek langsung menghindar dengan sangat cepat. Huang Xinxin terkejut dengan kecepatan ini.


"Seorang ahli bela diri ?" Tanya Huang Xinxin dengan salah satu alis yang terangkat.


"Ah, tidak. Aku hanya seorang pria kasar, bagaimana mungkin bisa bela diri ?" Tanya pria itu.


Huang Xinxin mengangguk dan memberikan bubur yang dibawanya.


"Bawalah untuk makan dengan putrimu. " Ucap Huang Xinxin.


Tapi, Huang Xinxin sengaja menjatuhkan mangkuk bubur itu, tidak disangka sangka bahwa pria itu menangkap mangkuk bubur itu tanpa ada setetes bubur pun yang tumpah.


"Dengan kecepatan ini maka kamu seharusnya sudah ahli dan dengan tanganmu yang kapalan ini, maka seharusnya kamu sudah lama berlatih pedang. Apakah kamu adalah prajurit ?" Tanya Huang Xinxin.


"Ha ha ha, memang tidak bisa menyembunyikan apapun, tapi aku hanya prajurit gagal. Tidak layak untuk mendapatkan perhatian dari Nona Huang. " Jawab pria itu.


"Tunggu sebentar, apakah kamu boleh menyebutkan darimana kepemimpinanmu sebelumnya ?" Tanya Huang Xinxin.


Pria itu tidak langsung menjawab dan melirik ke arah putrinya dengan tampang sedih.


"Aku berasal dari kepemimpinan Jenderal Ming Tua. " Jawab pria itu setelah memikirkan hal ini beberapa saat.


...----------------...


Bonus up like 3,5 k : 3 / 3

__ADS_1


__ADS_2