Pendekar Pelukis Abadi

Pendekar Pelukis Abadi
147. Lukisan Zhou Man


__ADS_3

Xia Xinxin melihat kemiripan antara dirinya dengan lukisan itu dan mendekat untuk membaca tulisannya.


"Di lukisan ini terlihat kemiripannya dengan dirimu, bahkan tampak belakangnya mirip. Apakah kamu adalah reinkarnasi dari wanita ini ? Lukisan siapa ini ? Betapa cantiknya dia dan lihat ketika kamu menggunakan pakaian tradisional maka kamu tampak begitu mirip dengannya. " Ucap Hua Yin dengan semangat.


Xia Xinxin mendekati ke arah lukisan dan ada sebuah tulisan yang merupakan judul dari lukisan yang ada ini.


"Kaisar Wanita Pertama, Huang Xinxin. " Baca Xia Xinxin.


"Ternyata Huang Xinxin ini sangat cantik , berbeda dengan penggambaran yang ada di teater tadi. " Ucap Hua Yin.


"Aku mendengar bahwa dia adalah gadis paling cantik dalam sejarah yang mampu untuk membuat banyak orang jatuh cinta padanya. " Balas seorang seniman yang berdiri di belakang mereka.


"Benarkah ? Berapa banyak ?" Tanya Hua Yin dengan antusias.


"Aku mendengar bahwa pada saat itu yang mencintainya adalah Jenderal paling berpengaruh, Ming Yue. Lalu juga Putra Mahkota yang paling dihormati bahkan bunuh diri demi dia dan orang yang melukis lukisan ini, Menteri Keuangan terbaik dalam sejarah, Zhou Man. Dia memutuskan untuk hidup sendirian sepanjang hidupnya. " Jawab Seniman itu.


Xia Xinxin yang mendengar ini tersenyum tipis, Zhou Man benar benar terlalu banyak berubah sampai ke titik dimana dia tidak bisa mengenalinya lagi.


Xia Xinxin menatap lukisan yang dilukis oleh Zhou Man ini, terlihat bahwa yang melukisnya adalah Menteri Zhou dari Dinasti Xia yang merupakan teman Huang Xinxin.


Xia Xinxin menyesal dengan Zhou Man yang sudah menemaninya selama puluhan tahun tapi pada kenyataannya, Zhou Man hanya menunggu selama puluhan tahun dengan harapan kosong.


Sama dengan Jiu Rui yang tidak berhasil untuk mendapatkan hasil apapun dari perjuangannya, Zhou Man bahkan lebih lama lagi dan pada akhirnya sampai akhir hayatnya juga tidak mendapatkan pasangan.


Dia merasa bersalah untuk Keluarga Zhou tapi pada saat yang sama dia juga tidak bisa memaksa dirinya untuk mencintai seseorang yang bahkan tidak dia cintai.


Hal ini membuatnya putus asa, tapi mungkin ini adalah jalan terbaik bagi mereka berdua. Mereka maju untuk melihat lukisan lukisan lain yang disimpan.


Lukisan Zhou Man itu, kertasnya sudah menguning dan warna catnya sudah memudar. Tapi, rasa sedih dalam lukisan itu tidak akan pernah memudar.

__ADS_1


Selanjutnya ada lukisan baik baru maupun lama, kemampuan melukis mereka benar benar baik hanya saja tidak ada emosi yang tertuang di dalam lukisan.


Satu hal yang membuatnya penasaran adalah, tidak ada satupun lukisan Ming Xin yang ada disini. Padahal bisa dianggap bahwa dia adalah leluhur Keluarga Ming.


Apakah Ming Xin tidak pernah melukis sama sekali ? Hal ini membuatnya merasa cukup bingung. Sehingga membuatnya bertanya pada orang yang memandu mereka.


"Aku mendengar bahwa Kaisar Ming pertama adalah Ming Xin. Tapi kenapa tidak ada lukisan tentang dia atau lukisan yang dia buat ?" Tanya Xia Xinxin.


"Hal ini tercatat di dalam sejarah Kekaisaran dan ditulis bahwa Ming Xin tidak menginginkan lukisan apapun yang menggambarkan dirinya dan juga dia mengatakan bahwa dia tidak akan melukis apapun untuk menghormati Gurunya. Aku mendengar bahwa setiap sarjana yang ingin melukisnya akan mendapatkan bahwa lukisan mereka hancur lebur sejak saat itu maka tidak ada yang tahu bagaimana rupanya. " Jawab pemandu mereka.


Xia Xinxin kembali mengenang masa lalu dan mengingat kata kata yang diberikan oleh Ming Xin hari itu, dia menganggap bahwa kata kata itu adalah candaan semata. Siapa yang menyangka bahwa Ming Xin akan benar benar melakukan apa yang dia katakan pada Huang Xinxin.


Flashback


"Aku akan mengajarimu menggambar. " Ucap Huang Xinxin pada saat itu yang sedang duduk di taman.


"Aku melihat bahwa Yang Mulia akan sedih setiap kali melukis, aku lebih senang tidak melukis sepanjang hidupku dengan begitu maka Yang Mulia tidak akan pernah merasa sedih lagi." Balas Ming Xin dengan polos.


"Tapi aku tidak ingin Yang Mulia sedih, aku tidak perduli dengan apa yang terjadi. Aku hanya tidak ingin membuat Yang Mulia sedih dan semua itu sudah cukup bahkan jika harus membuatku direndahkan oleh orang lain karena aku tidak dapat melukis. " Jawab Ming Xin dengan keras kepala.


"Ketika kamu dewasa maka kamu akan mengetahui betapa pentingnya melukis, ketika kamu menikah maka kamu bisa melukis wanita yang kamu cintai dan mengabdikannya dalam bentuk lukisan. " Ucap Huang Xinxin dengan sabar.


"Aku tidak akan pernah melukis, aku akan bersumpah kepada Yang Mulia agar Yang Mulia yakin dengan keseriusan kata kataku. " Balas Ming Xin dengan serius.


"Sudahlah, ini bukan hal yang penting. Jika tidak ingin melukis maka jangan melukis. " Ucap Huang Xinxin.


Flashback end


Xia Xinxin kembali mengingat percakapan itu. Tampaknya dia benar benar telah meremehkan tekad yang dimiliki oleh Ming Xin. Untuk menemukan seseorang yang sangat setia seperti Ming Xin, tidak banyak jumlahnya di dunia ini.

__ADS_1


Bahkan jika ingin menemukannya, belum tentu bisa langsung menemukannya. Hal ini adalah hal yang bisa dipastikan olehnya secara langsung.


Di dunia ini, berapa banyak orang yang telah dia tolong tapi berapa banyak orang yang bisa sangat setia seperti Ming Xin ? Jumlahnya tidak banyak.


Beberapa orang akan lupa dengan pertolongan yang dia berikan seiring berjalannya waktu. Karena itulah yang membuat Ming Xin menjadi istimewa.


Mereka masuk lebih dalam dan melihat banyak peninggalan sejarah seperti peralatan perang, senjata, dan patung. Semua ini ditinggalkan oleh Dinasti Xia sebagai sumber sejarah.


"Sebentar lagi, Tuan muda Ming akan tiba dan menunjukkan beberapa lukisan yang khusus dan spesial. Orang yang beruntung akan bisa dipilih dan difoto dengan Tuan Muda Ming ini. " Ucap pemandunya.


"Berapa lama kami harus menunggu ?" Tanya Hua Yin.


"Tidak lama, setengah jam lagi dia seharusnya akan segera tiba. Lukisan yang akan dia pamerkan adalah lukisan berharga dari Dinasti sebelumnya dan ini adalah lukisan yang tiada duanya. " Jawab pemandu itu.


"Dari Dinasti Jiu ?" Tanya Xia Xinxin dengan bingung, dia tidak ingat kalau Dinasti Jiu meninggalkan lukisan untuk diturunkan dari generasi ke generasi.


"Benar sekali, tapi itu dibuat di pertengahan antara peralihan dari Dinasti Jiu menuju Dinasti Xia dan dikatakan bahwa dahulu sangat terkenal sekali sehingga menjadi perebutan sampai saat ini. Dikatakan bahwa lukisan ini akan dilelang hari ini. " Jawab pemandunya.


Mereka diarahkan untuk duduk di salah satu kursi yang masih kosong, mereka mendapatkan dua baris dari depan sehingga cukup dekat dengan panggung.


Pada saat ini, dia pasti akan bisa melihat jelas lukisan dan orang yang membawa lukisan tersebut. Keturunan terakhir dari Dinasti Ming..... apakah itu mungkin adalah Ming Yue ?


Xia Xinxin memejamkan matanya dan berusaha untuk tidak menunjukkan kekhawatirannya di depan sahabatnya , Hua Yin.


"Apakah kamu baik baik saja jika duduk seperti ini ?" Tanya Hua Yin.


"Tenang saja, aku baik baik saja sejauh ini. Melihat semua ini menambah banyak sekali pengetahuan baruku. " Jawab Xia Xinxin.


"Hanya saja kamu tidak tampak antusias dengan hal ini tidak seperti ketika kamu dirumah, dibandingkan kamu mengatakan bahwa kamu sedang merasa senang, kamu lebih banyak menunjukkan bahwa kamu sedang sedih. " Balas Hua Yin dengan peka.

__ADS_1


"Sebenarnya...... aku merasa bahwa mereka semua ini cukup kasihan termasuk Huang Xinxin yang kamu anggap kejam. Kamu mungkin tidak tahu tapi aku pernah membaca ceritanya. Dinasti Jiu yang kamu kasihani, adalah orang yang membunuh kekasihnya, membunuh orang tuanya dan membunuh adiknya. Menurutmu, jika kamu menjadi dia, apa yang harus kamu lakukan ? Apakah kamu akan menerima dengan baik baik ?" Tanya Xia Xinxin dengan lirih.


"Selain itu, ada banyak temannya yang menjadi garis depan telah meninggal karena keegoisan Istana. Orang tua Ming Yue dibunuh oleh Kekaisaran karena mereka tahu rencana dari Ibu Suri. Selain itu, tahukah kamu bahwa Ibu Suri membunuh putra, menantu, dan cucunya dengan tangannya sendiri ? Dia juga membunuh adik yang tumbuh besar dan percaya dengannya. Dia membunuh keponakannya dengan memberikan racun, dia juga membunuh saudara iparnya. Betapa kejamnya dia, apakah kamu masih kasihan dengannya ?" Tanya Xia Xinxin.


__ADS_2