Pendekar Pelukis Abadi

Pendekar Pelukis Abadi
47. Perjalanan Menuju Gunung Kunlun


__ADS_3

Huang Xinxin menggantung wadah anak panah di punggungnya dengan tangan yang memegang busur yang digantungkan di bahunya. Kuas miliknya memang berguna tapi akan lebih baik jika ada senjata jarak jauh.


"Ayah akan percayakan hal ini padamu , ikuti peta yang telah Ayah berikan maka kamu akan sampai Gunung Kunlun dalam waktu 20 jam paling lama. " Ucap Huang Lixin.


"Aku mengerti, aku pasti tidak akan menunda lagi. " Balas Huang Xinxin.


Huang Xinxin melihat Kediaman Bangsawan Huang untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya menguatkan tekadnya dan memacu kudanya untuk berlari dan menyelamatkan nyawa ribuan orang yang ingin dikorbankan Kaisar itu hanya demi menenangkan jiwanya.


Kerajaan Yuwen bukanlah Kerajaan yang membutuhkan 10 ribu pasukan tapi Kaisar masih memberikannya 10 ribu pasukan bersama dengan Zhou Yan.


Pada saat ini, bahkan orang awam sekalipun tahu bahwa Kaisar menargetkan Ming Yue. Keluarga Ming telah mengorbankan Tubuh dan Jiwa mereka untuk melindungi Kaisar dan Kekaisaran Jiu yang Agung tapi pada akhirnya masih tidak berarti apa apa dimata Kaisar.


Huang Xinxin dengan cepat keluar dari Kota dan ketika berjalan sejauh 3 jam, dia merasa aneh karena tidak ada hambatan sedikitpun.


Bahkan tidak ada orang yang berusaha menganggunya, ini adalah hal yang aneh. Setiap dia membeli sesuatu, semuanya dalam harga yang murah.


Hal ini membuatnya aneh lalu memikirkan satu orang yang kemungkinan adalah penyebab dari semua ini, Huang Xinxin tersenyum dan semakin semangat untuk menempuh Gunung Kunlun.


Berdasarkan peta yang diberikan, maka dia harus melalui tiga desa dan satu padang rumput lagi sebelum akhirnya menemui kaki Gunung Kunlun.


Perjalanannya sejauh ini lancar bahkan hampir tidak ada hambatan sama sekali, hal ini terlalu indah untuk menjadi fakta jika Huang Xinxin tidak berpikiran positif maka dia pasti akan mencari jalan memutar dan merasa bahwa dia telah dijebak orang orang.


Dia yakin bahwa ini adalah tindakan Ayahnya yang menyuruh pedagang di sekitar untuk membantu menjaganya.


Hal ini membuat Huang Xinxin merasa terharu dengan hal ini. Huang Xinxin menepi sejenak untuk beristirahat dan membiarkan kudanya untuk minum dan makan rumput.


Lalu dia berjalan menuju salah satu pedagang dan membeli buah buahan untuk di perjalanan, ketika tidak ada minuman yang cukup maka buah buahan pasti akan mampu membantu.


"Bibi, aku ingin apel 1 kilogram. " Ucap Huang Xinxin.


"Harganya hanya 15 Tael Emas. " Balas pedagang itu.

__ADS_1


Huang Xinxin mengeluarkan 50 Tael Emas dan membayarkan nya, memang harganya seperti itu jika dalam kondisi langka seperti musim dingin.


"Bibi, anggap itu hadiah dariku. Kembalilah lebih awal untuk berkumpul dengan keluargamu. " Ucap Huang Xinxin dengan lembut.


"Terima kasih banyak Nona !" Seru pedagang itu dengan bahagia.


Huang Xinxin berjalan menuju kedai arak, walaupun disini adalah Desa kecil tapi disini ramai dan penuh dengan perdagangan.


Disini, perdagangan dilakukan dengan sangat hidup, pantas saja Ayahnya lebih senang membangun toko di luar Ibu kota.


Huang Xinxin berjalan menuju kedai itu dan langsung berjalan menuju kasir.


"Tuan, aku ingin mengisi ini penuh dengan arak. " Ucap Huang Xinxin.


Dia biasanya tidak banyak meminum arak, hanya saja dengan arak ini maka akan menyadarkannya dari lelah.


Belum lagi, arak ini pasti akan membantunya terutama kudanya sendiri sangat suka dengan arak. Huang Xinxin memberikan kantong kulit itu yang bisa diisi dengan beberapa liter arak.


Huang Xinxin mengambil kantong kulitnya yang sudah terisi penuh dan memberikan 5 keping emas lalu pergi dari sana.


Dia melihat bahwa kudanya sudah selesai makan jadi dia memberikan kantong kulit itu untuk diminum oleh kudanya.


Dia memiliki dua kantong kulit, satu lebih kecil adalah untuknya sementara yang besar untuk kudanya.


"Bertahanlah, kita akan segera mencapai padang rumput. Dimana kamu bisa makan rumput sepuasnya. " Ucap Huang Xinxin dan mengelus kepala kuda itu.


Entah bagaimana, kuda itu sangat menurut padanya, dia telah melihat ratusan kuda dari berbagai jenis tapi yang satu ini benar benar jinak dan lembut.


Kuda itu mengangkat kedua kaki depannya dan meringkik yang menunjukkan bahwa dia sudah siap. Huang Xinxin tersenyum dan baik ke punggung kuda itu untuk melanjutkan perjalanannya.


Huang Xinxin tidak makan banyak, dia memakan beberapa roti daging yang sudah dingin dan keras di tasnya.

__ADS_1


Seharusnya dia bisa saja berhenti dan mencari roti yang baru tapi dia tidak ingin menunda waktu hanya untuk hal yang tidak terlalu penting, dia bukan putri manja yang harus memakan makanan baru.


Dia sudah biasa makan makanan dingin karena ketika dia melukis maka dia akan melupakan waktu, dia bahkan bisa makan sehari hanya sekali ketika dia sedang sibuk melukis.


Huang Xinxin juga makan apel dan kebetulan sekali bahwa apel itu sangat segar dan penuh dengan air, ini mencegahnya untuk mengalami dehidrasi.


Setelah berjalan agak jauh, dia juga memberikan apel untuk kudanya makan dan itu sangat membantu kudanya.


Mereka melewati tiga desa lainnya dengan waktu yang bisa terbilang lumayan panjang, mereka membutuhkan 8 jam setelah mengitari tebing yang curam dan mengerikan, jalannya licin dan terjal sebelum akhirnya mereka tiba di padang rumput.


Selama di perjalanan, Huang Xinxin telah membeli buah buahan lain untuk berjaga jaga. Sesampainya di padang rumput, Huang Xinxin memutuskan untuk memberikan waktu bagi kuda agar beristirahat terlebih dahulu.


"Istirahatlah dulu, perjalanan kita panjang. Jika melihat di peta maka padang rumput ini sangat luas dan jalan menuju Gunung Kunlun sulit untuk dilalui. " Ucap Huang Xinxin.


Dia sudah berada di perjalanan selama 11 jam, bahkan pakaiannya telah berubah menjadi kusam karena hal ini. Tubuhnya sudah sakit di beberapa sisi karena kelelahan tapi dia tahu bahwa orang di perbatasan tidak akan bisa menunda lagi.


Dia duduk di bawah pohon dan berniat untuk beristirahat sejenak, paling tidak satu jam. Ketika dia pergi tadi, matahari bahkan belum keluar dan sekarang matahari sudah akan terbenam.


Ini seharusnya sudah sore. Tidak tahu tepatnya pukul berapa pada saat ini, tidak lama ketika dia duduk , ada merpati yang menghampirinya.


Di kakinya terikat surat dan Huang Xinxin mampu mengenali pengiriman surat itu hanya dengan satu pandangan, itu adalah Huang Lixin.


Huang Xinxin membuka segelnya dan memberikan sedikit buah buahan untuk merpati itu lalu mengelusnya.


"Kamu telah bekerja keras, pulanglah. " Ucap Huang Xinxin dan melepaskan merpati itu.


Merpati itu terbang menjauh dan Huang Xinxin membaca isi dari surat yang dikirimkan oleh Huang Lixin padanya , matanya langsung membelalak ketika membaca surat yang dikirimkan oleh Huang Lixin.


...----------------...


Bonus Up like 2,2 k : 1 / 3

__ADS_1


__ADS_2