
"Kali ini Na menurut sama bapak," bisik nya di belakang Ana sambil memeluk tubuh ana dari belakang.
"Nggak, pak. Ana nggak mau jadi PNS," berontak gadis itu geram.
Entah pikiran apa yang merasuki hati gadis itu, ia keukeuh pada pendiriannya. Sedangkan bapaknya--pak Mamat ingin sekali Ana meraih masa depan yang cerah dengan melamar sebagai CPNS kerena ia berkeyakinan kalau Ana masuk CPNS bakal hidup mapan dengan gaji yang telah ditentukan. Pak Mamat melakukan itu kerena ingin melihat putri nya bahagia, tapi kenyataannya sang putri malah menolak.
( Saya menyangka kalau CPNS atau PNS itu bagian dari guru, nyatanya tidak sih! PNS bisa diraih oleh apoteker, bidan, polisi dll. Hati saya terbuka masalah PNS itu ketika adik saya yang bidan melamar sebagai CPNS pada tahun 2019, Alhamdulillah diterima sebagai PNS 🤦🤦🤦. Tahu kalau PNS bukan hanya guru, mungkin saya bakal melamar CPNS pada tahun 2004, nasi telah jadi bubur cuy😂😂 )
Akhirnya Ana tidak mau kuliah biarpun mengambil S1 Pertanian. Orangtuanya Ana sudah pasrah pada pendirian anak pertamanya, mereka lebih baik memperhatikan apanyang dilakukan oleh anaknya yang penting tidak melakukan perbuatan yang merugikan orang lain.
Kerena kesal atas keputusan orang tuanya, Ana lebih baik menekuni bidang pertanian..Alhamdulillah hasil dari pertaniannya seperti terung, tomat, rampai, rawit dan cengek sering dijual oleh Ana di dekat rumahnya. Hasilnya buat beli alat tulis, seperti pulpen dsn buku untuk membuat cerpen dsn puisi.
Tanaman yang Ana tanam terlihat subur sekali, apalagi ia mengunakan pupuk buat tanamannya. Wajar kalau tanamannya subur dan gemuk juga. Ana menanam sawo depan rumah Alhamdulillah sampai sekarang masih ada dan berbuah lebat😊ðŸ¤.
"Ana tanganya dingin,"kata bapak memuji putrinya. Ana hanya tersenyum saja.
Kalau masalah tanaman memang menurun dari ibu, kalau ibu suka tanaman bunga sedangkan Ana sendiri suka tanaman yang bisa menghasilkan buah.
Pagi dan sore Ana sering menyiram tanaman yang ia tanam, bukan hanya sayur mayur saja yang ia tanam tapi mangga, sawo, rambutan, dan jambu air. Alhmdulillah semuanya tumbuh subur dan sekarang bisa dinikmati oleh keluarga sendiri maupun orang lain.
__ADS_1
Sejenak Ana melupakan cita cita yang tidak pernah terjadi. Itu hanya keinginan Ana atau sekedar hobi saja, dan ia tidak mempermasalahkan nya. Ia.lebih fokus pada tanamannya.
"Na, bagaiamana kalau misal Ana ada yang mau, mau melamar Ana?" suatu waktu ibu bicara itu pada Ana.
"Ibu ngomong apa sih! Ana masih dibawah umur 25," protes Ana cemberut.
Ya biarpun Ana sekarang usia 20 tahun. Tapi gadis itu tidak pernah berpikir untuk menikah, pacaran juga belum pernah sama sekali. Ya Ana dari SMP sampai SMU tidak pernah Sam sekali pacaran dengan lelaki manapun juga. Tapi kalau mengangumi cowok pernah secara diam diam, tapi cowoknya biasa saja. Mau menyatakan cinta pada cowok yang disukai tidak berani ya Ana diam saja.
Waktu di SMP juga punya perasaan cinta pada teman cowoknya tapi si cowok itu malah punya pacar daripada ribut lebih baik cabut pergi, begitu juga di waktu SMU. Tetap saja tidak menyatakan cinta pada cowok, dan kini tiba tiba ibu bilang begitu ya pasti gadis itu terkejut sekali.
"Nggak apa apa dibawah 25 tahun juga kalau ada yang melamar ya terima aja," pungkas ibunya.
Ana hanya diam saja. Ia tidak bisa membayangkan kalau dirinya menikah dsn punya anak, pasti seram masih untung kalau ibunya suami bertangungjawab kalau tidak bagaimana? Itu pikiran berkecamuk dalam benak gadis itu. Sebenarnya ia ingin sih punya cowok atau pacar kaya bapak itu yang selalu Ana sebut.
Ibunya hanya mengelengkan kepala saja mendengar jawaban dari putrinya..Ya laki laki seperti bapak selalu Ana sebut untuk jadi seorang suami dari seorang Ana. Alasan Ana ingin punya suami kaya bapak kerena yang ia lihat bapak adalah seorang suami yang bertangungjawab, selalu sayang pada keempat putrinya, dan bapak adalah laki laki pertama buat Ana dalam hidupnya.
Ya alasan itulah yang membuat ia ingin menikah kerena figur bapak lah yang pertama dilihat. Figur pak Mamat membuat hati Ana kagum, bangga punya bapak seperti beliau yang penuh kasih sayang, Ana anak pertama tapi selalu manja dihadapan bapaknya.
"Na, atuh jarang cowok kaya bapak. Masa Ana mau nikah sama bapak," kata temannya ibu.
__ADS_1
waktu teman ibu nya main ke rumah Ana dan melihat gadis itu sedang panen terung yang i taman dengan tangan sendirinya.
"insya Allah ada juga sih cowok yang mau jadi suami Ana yang mirip bapak," jawab Ana polos.
Hati nya begitu mantap saat mengatakan kalau suatu waktu nanti ada laki laki yang melamar dirinya yang mirip pak Mamat bapaknya.
"Apa sih yang dilihat dari bapakmu?" tanya teman ibu kembali.
"Bapak kan rajin sholat, mandiri Ana suka itu dari bapak jadi kalau Ana nikah dengan punya suami yang Sholeh, berkah, mandiri dan kerja apa saja yang penting halal," kata Ana menjelaskan.
Jelas gadis itu mantap. Apa yang diucapkan Ana memang ada benarnya sekali, ia sebenarnya melihat figur bapak sendiri yang selalu sempurna di mata dirinya, saking sempurna tidak ada satu cela pun dari sosok bapak yang ia kagumi.
Bapak lah yang memberikan kasih sayang pada Ana dan tiga putrinya, bapak lah menjadi contoh dan teladan baik buat Ana dan adik adiknya. Jadi wajah kalau Ana sangat berbeda dengan gadis lainnya.
Banyak orang yang berkata tidak akan pernah menemukan laki laki yang seperti bapak. Tapi hati Ana nyakin dan merasa nyakin akan bertemu suatu saat nanti.
Usia 20 tahun sebenarnya pas untung menikah dan menjadi ibu untuk anak anaknya, tapi tidak bagi Ana. Menurut Ana sendiri menikah adalah suatu pengekangan bagi wanita itu sendiri, alasan nya menikah sebagai pengekangan kerena setelah menikah wanita harus mengurus rumah tangga, mencari nafkah.
Ya melihat di lingkungan rumahnya banyak wanita yang sudah menikah harus mengerjakan pekerjaan seperti mencuci, menyapu, mengepal, harus hamil dan melahirkan, sudah lahiran suruh beberes rumah, belum lagi mengurus anak, suami, kadang juga harus mencari nafkah untuk biaya rumah tangga.
__ADS_1
Dan dalam pengamatan Ana, kalau ada tetangga lahiran kadang orang tua perempuan lebih banyak mengurus keperluan anaknya dibandingkan pihak suaminya. Kadang kalau suamianya ingin makan malah disediakan oleh mertuanya, ibu dari perempuan itu yang ditentang oleh Ana sendiri.
Ia sebenarnya dalam lubuk hati ingin menikah tapi istri dsn suami saling membantu seperti misal dirinya masak, suaminya mencuci, atau mengepel rumah. Jadi tidak semua pekerjaan di serahkan pada perempuan.*