Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 67


__ADS_3

Ana hanya diam mendengarkan apa yang Titis katakan, kata kata yang sama yang sama yang selalu ibunya katakan lada dirinya apalagi kalau ia menceritakan tentang Rani dan genknya.


"Mungkin mereka itu iri sama kamu, Ana. Kamu dibandingkan Rani, kamu banyak kelebihan." Kata Titus sambil berjalan menuju sekolah berang Ana.


"Tis , aku biasa saja sih! Aku merasa kaya teman teman yang lainnya," Ana merendah.


Apa yang ia rasakan sebenarnya biasa saja dibandingkan yang lain. Apalagi kalau di bandingkan Titis, gadis itu selalu juara kelas saja. Yupz! Titis dari kelas 1 dan sekarang kelas 2 selalu peringkat kelas saja, saingannya dengan Rastiman.


Secara diam diam Ana sebenarnya bangga punya teman seperti Titis dan Rastiman yang selalu rajin belajar setiap harinya juga. Apalagi Titis kalau tidak ada gurunya selalu mengulang pelajaran kembali di perpustakaan.


Memang ia juga sering di perpustakaan tapi ia lebih ke membaca novel. Sedangkan pelajaran karang ia gunakan sama sekali, jadi wajar kaku Titis selalu peringkat juga kerena memang ia tekun sekali.


"Jangan merendah, bukan rahasia lagi sih Na, semuanya tahu kalau Ana suka menulis. Aku nyakin kamu pasti bisa meraihnya." kata Titis menatap wajah Ana.


"Aamiin."


"Na, bikin komunitas saja di sekolah, ajak teman teman yang lain untuk bikin cerpen," usul Titis.


"Ana juga mau sih! Tis, tapi kan aku butuh teman teman yang satu profesi. Bukan membandingkan sih! Tapi kalau dilihat SDM di sini masalah membuat komunitas menulis agak susah sih!" ujar Ana.


Ya gadis berkacamata menjelaskan kalau misal membangun komunitas menulis itu harus punya orang orang yang suka menulis juga biar gabung. Dari gabungan anak anak atau remaja yang suka menulis bisa bikin komunitas. Tapi saat melihat SDMnya, Ana tidak berani mengajak atau membuat komunitas menulis dengan.orang orang yang tidak suka baca dan menulis.


Sebenarnya yang Ana pikirkan sekarang hanya lah bagaimana cara meningkatkan minat baca pada anak dan remaja itu saja sudah cukup, dan ia juga tidak berharap lebih dari minat baca anak dan remaja.


Titis mengangguk angguk kepalanya penjelasan Ana masuk akal juga untuk membangun komunitas menulis di sekitar lingkungan rumahnya. Apa yang Ana jelaskan memang menjadi perhatian orang banyak bukan hanya satu orang saja.


"Aku hanya ingin bangun minat baca dulu sih bukan langsung komunitas menulisnya. Masalahnya dengan membaca suatu waktu mereka bisa menemukan lembaran dari membaca itu." jelas Ana.


"Na, itu yang Rani dan kawan kawannya nggak suka dari kamu," senyum Titis.

__ADS_1


"Bisa jadi sih!" Hela nafas Ana.


"Kamu jangan putus asa, Na. Lakukan kaku itu baik untukmu, jangan biarkan Rani dan teman temannya meruntuhkan mu, semangat!" dukung Titis.


"Ana hanya ingin buktikan itu saja,"


"Kamu bisa Na, semua butuh proses."


Pagi itu kedua gadis telah sampai di depan SMU. Titis langsung masuk kelas, sedangkan Ana sebelum masuk ke kelas langsung masuk kantin, kerena perutnya minta isi. Sebenarnya ibunya telah membuat nasi goreng tapi kerena belum lapar kerena masih terlalu pagi, akhirnya ia memutuskan sarapan di kantin saja.


Si kantin terlihat Rani dan genknya juga sedang menghabiskan sarapan yang telah yang telah tersedia. Ana melewati meja yang Rani dan genknya duduki, ia tidak sama sekali menegur atau menyapa. cuek saja.


"Hei, jangan sok cuek gitu dong! Ayo kita sambut novelis terkenal," tawa Rani mengejek Ana yang baru datang.


Ana hanya diam saja tidak peduli apa apa pada candaan yang diluncurkan oleh mereka. Mereka yang mengejek Ana tertawa renyah sekali. Ana berusaha sabar mendengar candaan yang di dengar barusan..


"Itu sebagian doa baik untukmu, Na. Jadi biarkan saja mereka bergonggong kafilah berlalu," lanjut Ibu Tri melanjutkan kata katanya.


Ya kemarin putri pertamanya uring uringan kerena selalu diejek oleh teman temannya yaitu Rani, mereka bilang Ana novelis. Awalnya ia marah, kesal kerena dirinya selalu diejek oleh mereka tapi saat ia menceritakan semuanya pada ibu, akhirnya ibunya memberikan nasehat yang diterima oleh Ana sendiri.


Jadi sekarang ketika Rani dsn genknya mengolok olok, Ana hanya diam saja ia tidak peduli lagi, kerena kalau ia melayani bakal runyam urusannya. Melihat Ana seperti itu Genk Rani jadi gemas sendiri kerena gadis yang di ganggu nya sama sekali tidak merespon.


Ana dengan entengnya melahap sarapan yang ia pesan, beserta es teh manis yang telah tersedia di hadapannya. Sedangkan Rani dan genknya sudah pergi entah kemana, kerena mereka tidak direspon jadi malu sendiri.


Setalah makan dan minum Ana langsung ke kelas, tapi baru juga duduk, Yayuk langsung menghampiri Ana.


"Dipanggil sama ibu Elis."


"Ada apa?" tanya Ana.

__ADS_1


Yayuk hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu sama sekali, An akhirnya langsung menuju perpustakaan kerena ia nyakin kalau ibu Elis ada di perpustakaan, tapi las ia ke ruangan perpustakaan, ruangan itu kosong tidak ada orang pun di dalamnya..


Tapi Ana tetap masuk ke perpustakaan melihat siapa tahu ibu Elis tidak mendengar salam yang diucapkan olehnya. Benar juga ibu Elis tidak ada di perpustakaan, saat Ana balik hendak keluar perpustakaan ia tertegun sejenak melihat beberapa karton yang telah digunting beberapa bagian oleh ibu Elis..


Ia menyentuh beberapa karton yang telah ditulis ibu Elis melalui tanganya dengan kode tertentu.


813.8


Han Hanum Anindya


A Angsa Putih yang kembali/ Hanum Anindya. Gong publishing, 675 hal.- 26 cm, gbr,-.


ISBN.987-098-6789-809-6-7


i.kumcer. iii.wayang Ahmad


ii. Anindya Hanum


Ana dengan teliti melihat karton karton itu dengan perasan heran takjub sekali kerena kreatifitas ibu Elis sebagai guru agama Islam dan pustakawan yang profesional benar benar menambah ilmu buat diri Ana ya biarpun ia sendiri tidak pernah bertanya pada ibu Elis tentang apa yang ibu Elis lakukan di perpustakaan.


Setalah membaca beberapa karton yang isinya ada yang sama ada yang beda membuat otak Ana blank sekali kerena sama sekali tida mengerti buat apa karton dengan isi seperti itu membuat sama sekali tidak menarik.


( Insya Allah yang dilakukan oleh ibu Elis bakal saya lakukan pada tahun 2005 nanti, beliau telah memperlihatkan bagaiamana seorang pustakawan sekolah yang mengurus sebuah perpustakaan untuk diminati pengunjung ).


Akhirnya Ana langsung mencari ibu Elis, ya Ana sama sekali belum pernah dipanggil oleh ibu Elis jadi ia sangat penasaran kenapa ibu Elis memanggil dirinya. Ia takut ada hal yang penting yang harus disampaikan ibu Elis lada dirinya ( susah jaman dulu nggak punya hp tapi kalau punya hp pasti di wa atau di telpon, nggak kading seorang siswa nggak boleh bawa hp 😂😂😂 ).


"Ana, ibu punya sesuatu buat Ana nih!" kata ibu Elis menyodorkan sebuah kertas dihadapan Ana.


Ana langsung menerima keetas itu dan dibaca, lalu gadis itu menatap ibu Elis dengan perasaan berkecamuk kerena rasa haru yang menyelimuti hatinya.*

__ADS_1


__ADS_2