
Perjalanan Ana di kota badak begitu singkat, hanya menghabiskan waktu 3-4 bukan saja. Tapi biarpun begitu ia belum begitu puas sekali kerena hanya melewati 4 bukan di kota kabupaten. Keinginan menetap tidak dipungkiri sama sekali, tapi orang tuanya malah memanggil Ana untuk pulang ditambah lagi kursus komputer telah selesai.
Sebenarnya kalau Ana Meu berpikir banyak sekali kursus komputer yang ia tinggalkan begitu saja seperti Microsoft Excel, Powerpoint yang belum sama sekali oleh Ana dipengang, bukan guru kursusnya yang tidak mau mengajari Ana tapi gadis itu suka main main saja jadi bikin kesal guru kursusnya.
Di diamkan bukan introfeksi diri tapi malah keenakan, dsn tidak mau belajar Microsoft Excel dan powerpoint. Kalau Microsoft word ia bisa, kerena fasilitas word selalu ia gunakan membuat cerpen dsn yang lainnya saja.
Kerena tidak ada perubahan sama sekali, akhirnya Ana pulang tanpa memengang sertifikat komputer sam sekali berbeda dengan adik nya Ita, Ita punya sertifikat kursus komputer.
Akhir tahun 2002, awal 2003 Ana sudah di rumah. Kerena tidak ada kegiatan sama sekali, di rumah hanya bisa membaca dan menulis saja akhirnya kerena masih rindu ke sekolah alumni, ia akhirnya sering main di SMUN 1 Panimbang.
Kedua orang tuanya kalau lagi tidak ada di rumah, otomatis Ana selalu main ke SMU dari jam 08.00 sampai 12.00, hanya mengisi waktu saja. Sering nongkrong di kantin tempatnya dulu nongkrong bareng teman teman.
"Na, daripada nganggur lebih baik Ana jadi guru di SDN bapak jadi Guru Bantu ( ya pada tahun itu banyak guru bantu yang mengajar dari lulusan SMU.
"Pak, Ana mah alim jadi guru,"
"Kunaon, Na? Itung itung mengisi waktu kosong," ujar bapak.
"Alim jadi guru pak."
Terdengar helaan nafas panjang di mulut pak Mamat mendengar alasan yang putrinya kemukakan. Ia terlihat putih asa kerena Ana tidak mau mau jadi guru sama sekali.
Orang tua mana yang tidak ingin anaknya sukses, mungkin semua orang tua ingin melihat anaknya sukses menggapai masa depan yang cerah. Begitu juga dengan pak Mamat seorang bapak yang ingin sekali melihat putri pertamanya punya pekerjaan hanya untuk dirinya sendiri, tapi sang anak sama sekali tidak mau di arahkan pada hal yang menurut orang tua baik.
__ADS_1
"Na, insha Allah kalau Ana misal mau bapak bakal bantu yang penting Ana nya mau saja dulu." bujuk pak Mamat.
"Nggak mau jadi guru,"
( Memang saya tidak jadi guru hanya jadi tenaga keguruan saja😂😂 ).
"Oh! Ana mau kuliah, kuliah dimana?" tanya pak Mamat menatap wajah putrinya.
"Nggak mau kuliah, maunya seperti ini,"
Entah itu jawaban atau apa, gadis itu benar benar bebal sekali, diarahkan oleh bapaknya sama sekali tidak mau. Sampai bapaknya hanya mwngelangkan kepala saja mendengar jawaban anak anaknya, akhirnya sang bapak hanya menghela nafas panjang saja..
Ia tidak pernah memaksa keinginan Ana, pak Mamat hanya bisa mendukung apa yang putri pertama lakukan yang penting itu hal positif buat dirinya sendiri.
akhirnya ia membeli menekuni hobi nya yaitu bercocok tanam seperti terung, cabai, rawit, tomat, rampai, Alhamdulillah dengan itu ia punya kegiatan yang positif. Ya kerena kendala komputer ia sama sekali tidak mengunakan ilmu kursusnya, akhirnya mengetik di komputer hanya lah mimpi semata saja kerena Ana akhirnya menulis di buku harian yang di bukukan.
Tulisan cerpen dan puisi terbengkalai di sudut kamarnya, tapi itu sering ia baca kerena Ana juga selalu mengulang baca di waktu yang senggang. Kadang ia tersenyum sendiri baca cerpen cerpen yang ia buat, hanya kerena fasilitas lah Ana tidak pernah mengirimkan karya karyanya ke sebuah majalah.
Tapi ia masih memupuk cinta untuk dunia.menulis dirinya. Kerena bosan apa yang ia kerjakan. Akhirnya Ana melakukan kegiatan menanam tanaman palawija di halaman rumah. Dengan biaya kecil kecil an fokus ke lahan pertanian yang dibuatnya. Waktu di Pandeglang ia mengunakan kerudung di setiap aktivitasnya kini kerudung itu dilepas begitu saja. Paling dipakai saat ke Panimbang, kalau di lingkungan rumah sama sekali tidak digunakan.
"Na, apa nggak itu sama adik adik Ana yang kuliah?" tanya Pak Mamat menatap Ana.
"Nggak, pak. Ana senang seperti ini, Ana sebenarnya ingin kuliah tapi ambil jurusan yang benar benar jangan ke guru." kata Ana polos.
__ADS_1
Alasan utama Ana tidak ingin guru kerena menurutnya jadi gitu itu sebenarnya pemisah antara anak remaja dengan pendidik itu terlihat jelas, dari sosialnya juga. Misal sebutan ibu atau bapak sedangkan orang yang menyebut ibu dsn bapak itu sebaya dengan kita sendiri.
Ditambah lagi banyak orang mengejar guru kerena kehidupan gitu lebih nyaman alasannya punya masa depan, intinya guru itu punya gaji pensiunan. itu yang Ana nggak tudks terima, semua pekerjaan bisa dijadikan masa depan buat semuanya asal dengan giat dan tekun.
"Terus Ana mau kuliah ambil jurusan apa? Komunikasi, jurnalistik, PLS, atau apa?" kejar pak Mamat menatap Ana tajam.
Gadis itu hanya mwngelangkan kepala, melihat gelengan kepala putrinya pak Mamat hanya bisa menghela nafas panjang. Sebenarnya kalau putri mau kuliah ia bakal biayai putrinya sendiri tapi ini malah putrinya tidak mau kuliah sama sekali.
"Na, pikirkan masa depan Ana. Ana nggak bakal sama bapak, sama ibu. Suatu waktu nanti pasti Ana bakal sendiri. Tapi sebelum itu bapak ingin Ana kuliah." tekan pak Mamat.
Ana hanya mengangguk. Pak Mamat langsung meninggalakan Ana yang sedang membaca buku, memang dibandingkan ketiga adiknya. Ana adalah seorang kutu buku, jadi wajar kalau ia memiliki perpustakaan mungilnya ( Dan dari hasil beli buku, saya mengunakan buku buku itu untuk merintis TBM Pustaka Cakrawala NKS di tahun 2017 ).
"Mbak, apa yang kata bapak katakan benar mbak. Ita sekarang kuliah di Akbid Rangkas, masa mbak nggak mau kuliah kasihan bapak." kata adik Ana, Ita menghampiri mbaknya.
"Dek, bukan mbak nggak mau kuliah. Mbak takutnya kalau bapak kuliah kan mbak terus mbak nggak lanjut kasihan bapak." ujarku memberikan alasan.
"Terus yang mbak inginkan apa?" tanya Ita.
"Entah, dik!" Hela Ana pasrah.
"Apa keputusan mbak, Ita ngikut saja. Mungkin itu yang lebih baik buat mbak, tapi saran Ita lebih baik terima saja tawaran bapak untuk kuliah."
Ana hanya mengangguk saja, mendengar nasehat dari adiknya yang kini menempuh perkuliahan di Rangkas mengambil jurusan kebidanan.*
__ADS_1