
Dua profesi yang bersatu.
Ya sejak berada di perjalan ke Rumah Dunia Ana lebih fokus ke dunia yang ia gapai biarpun tidak mulus dugaannya dan harapannya. Tapi disana ia banyak mempelajari semuanya, cara penulis cerpen, novel dan tulisan tulisan yang lain. Cerpen cerpen yanga ia tulis tangan pun kini banyak perubahan dari segi bahasa, teknik dan deskripsinya. Bukan hanya dialog saja.yang ia buat.
Dan ia juga tidsk.oernah berpikir untuk kuliah atau mengejar cita cita yang lain, ia lebih nyaman melakukan aktifitas menulis. iaasih berpegang teguh dengan prinsio.kalau pemilik juga masa depan yang cerah dan mengalahkan profesi lainnya..
Dan kini tiba tiba tidak ada angin, tidak ada hujan, tidak ada mending. Ibu dan bapak datang membicarakan masalah kuliah yang harus ia jalani. Ia tidak lanhsung menjawab pertanyaan orang tuanya, ia masih menimbang menimbang saran untuk kuliah.
Pak Mamat menatap putrinya yang hanya diam saja tidak ada jawaban sama sekali dibibir nya tapi pak Mamat sebenarnya ingin kalau Ana menerima tawaran untuk kuliah. Begitu juga dengan sang ibu yang menanti jawaban dari Ana.
"Ana lebih cocok di perpustakaan, kalau kerjanya juga di perpustakaan. Nggak jadi guru sama sekali, enak tinggal menunggu buku dsn Ana bisa sambil baca juga," pak Mamat memberikan gambaran kalau misal Ana kuliah dan bekerja.
Kerena pak Mamat tahu kalau Ana memang tidak suka profesi guru, jadi ia lebih mencari yang simpel dan masuk akal buat putrinya. Gadis itu menghela nafas berat sekali mendapatkan dukungan untuk kuliah, sebenarnya ia bukan tidak mau kuliah ia hanya ingin fokus saja menulis. Masalah kuliah bagi Ana tidak ada apapun juga, dan ia juga tidak pernah berpikir untuk kuliah.
Ya biarpun teman temannya semua anak kuliah, tapi itu tidak pernah membuat hati Ana untuk kuliah.
"Aku menyesal kuliah di kerena nggak cocok, eh kerena nggak ada jurusan yang aku suka malah aku kuliah di pertanian, matematika, Kimia,"
__ADS_1
Terhiang hiang percakapan dengan teman temannya yang kuliah yang salah mengambil jurusan. Dan banyak diantara mereka berhenti kuliah kerena tidak tahu harus melakukan apa dari ia mengambil jurusan. Sebenarnya yang Ana takutkan dari kuliah itu, masih untung bisa lulus dan bekerja sesuai dengan jurusan kalau tidak.
Dan alasan klasik banyak yang berpendidikan tinggi tapi tidak bekerja apalagi kalau laki laki, mending kalau cewek kerena cewek tidak bekerja bisa sang suami kerja. Kalau mau jujur sih Ana hanya ingin jadi wanita Rumah tangga kalau sudah menikah, tapi orang tua malah mendukung untuk kuliah.
"Ya udah Ana coba dulu kuliah dimana kuliahnya?" ujar Ana menyanggupi saran bapaknya ibunya untuk kuliah.
Ya biarpun hatinya masih ragu untuk kuliah, perjalanan Ana bukan untuk kuliah intinya tapi untuk ke Rumah Dunia, untuk belajar menjadi penulis seperti Taufik Ismail, W.S. Rendra, dan Chairil Anwar.
( Alhamdulillah saya pernah bertemu dengan pak Taufik Ismail dengan karyanya AKU MALU JADI ANAK INDONESIA, serta pak Rendra. Saya pernah ada fhoto fhoto sama beliau tapi fhoto fhoto itu malah terbawa arus banjir. Tapi, innalillahi wainnalillahi pak Rendra telah meninggal setelah di saya berada di Rumah Dunia, semoga Allah selalu menjaga bapak.
Sedangkan untuk Chairil Anwar, saya sangat terkejut sekali dan merinding saat SD dan SMP saya ingin sekali dengan Chairil Anwar dengan antusiasnya. Setalah saya duduk di SMU baru tahu kalau Chairil Anwar telah meninggal sebelum saya lahir, semoga Allah melapangkan kuburan mu ).
"Kuliah di UT kelompok belajar Cibaliung, besok kita daftar," kata pak Mamat semangat.
Ana.melonggo mendengar kata kata bapaknya ia tidak menyangka kalau begitu cepat ia harus kuliah. Ia langsung menatap bapaknya seperti ingin ada penjelasan. Pak Mamat hanya mengangguk saja melihat anggukan bapaknya ia menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya ke tembok.
Ya ia tidak menyangka kalau ia dengan cepat bakal kuliah di Cibaliung. Akhirnya Ana mengangguk setuju buat kuliah, ia berpikir tidak salah sih ia untuk.kuliah dan menjadi pustakawan ya biarpun itu ia masih tetap menulis ya biarpun harus membagi waktu Antara menulis dan kuliah.
__ADS_1
"Apa pun dilakukan yang penting positif saja Na, ibu dan bapak Ana udah baik mengingatkan Ana untuk kuliah, jadi jangan dia sia kan kuliah," nasehat Fey waktu itu.
Ya Ana bicara pada Fey kalau ia akan kuliah mengikuti anjuran orang tuanya. Setelah Fey tahu kalau Ana bakal kuliah ia memberikan nasehat untuk Ana supaya tetap semangat dan menulis juga.
Ya biarpun Ana gagal menikah dengan laki laki yang dijodohkan sama Fey tapi ia nyakin kalau suatu waktu ia juga akan menikah dengan laki laki pilihan Allah, jodoh Ana itu bukan dari Serang bukan.
"Masalah jodoh kamu jangan risau Alah telah menyiapkan semuanya dan berakhir indah kok!" nasehat Fey merangkul Ana.
Akhirnya ia kuliah di sebuah desa Cibaliung dari Panimbang belok kearah kiri. Ia kuliah sellau diantar sama bapaknya kerena pak Mamat sebenarnya belum lepas melepaskan Ana mengunakan sepeda motor apalagi jarak antara Ranca Jaya dan Cibaliung 2 jam perjalanan, belum.lagi hujan kalau waktunya. Jadi pak Mamat dengan tulis sellau mengantarkan maupun menjemput putrinya ke cibaliung, hari kuliahnya mengambil hati Sabtu dan Minggu mengambil kelas karyawan.
Disela sela kuliah Ana selalu menyempatkan belajar di Rumah Dunia, disana ada kelas novelis. Ia juga belajar banyak tentang novelis.
"Novel itu panjangnya 20.000 atau lebih, tidak fokus, banyak konflik di dalamnya." kata mas mas Gong masih diingat jelas oleh Ana..
"Kalau cerpen paling sedikit 500 kata-20.000 kata, lebih fokus," lanjut mas gong kembali.
Apa yang diberikan oleh mas Gong membuat sesuatu pengalaman yang memberikan warna untuk Ana. Di Perjalanan Ana, membuat ia bersyukur untuk meraih semuanya.
__ADS_1
Tapi sebuah perjalan tetap dilewati bersama untuk di tempuh. Dan satu keinginan Ana ingin tetap menerbitkan novel atas nama sendiri bukan keroyokan dengan teman teman teman yang lain. Itu yang belum di jalankan oleh Ana sendiri kerena berbagai faktor dsn keadaan. Ya ia tidak akan puas dengan satu karya yang dipunyai olehnya. Kunang Kunang dalam pelukan adalah kumcer pertama Ana yang di terbitkan oleh Gong Publishing, itu membuat jalan ia terbentang kerena tanpa sadar telah melalui jalan yang terbuka lebar.
Dan dua profesi itulah ia kini berpegang. Tapi ia masih tetap menulis, dan satu pertanyaan apa.ia hanya punya buku Kunang Kunang dalam pelukan? Atau ia bakal berhenti menulis kerena telah menggapai semuanya?*