Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 87


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Sejak kejadian pemukulan terhadap Mawar, kedua belah pihak seperti ada perang dingin. Kalau dibandingkan dengan kemarin kemarin, Mawar sering menganggu Ana kini ia begitu cuek agak menghindar dari Ana. Ketemu juga biasa saja, mau dimana mana juga. Mau di kantin, perpustakaan atau di jalan juga keduanya biasa saja seperti tidak pernah terjadi. 


Sebenarnya bukan hanya Ana saja yang merasa heran, Rani, Cempaka dan Dahlia juga merasa heran kenapa Mawar seperti itu? Tapi bagi Ana itu biasa saja, apalagi perbuatan Mawar ia gunakan sebaik baiknya. 


Analah tidak pernah ambil pusing perubahan Mawar, dan ia malah dibawa happy saja. 


"Na, Mawar dan yang lainnya seperti agak menjauh, kenapa ya?" Tanya Rani heran atas apa yang dilihatnya. 


Ia mau menanyakan pada Mawar juga rasa nya segan segan sekali, Rani hanya saling tatap sama Cempaka dsn Dahlia, mau bertanya pada mereka berdua tidak pernah jadi terus kerena mereka berdua selalu dengan Mawar. 


Begitu juga di rumah, Mawar selalu ada di rumah Cempaka maupun Dahlia, jadi ia selalu mengurungkan niatnya untuk bertanya pada keduanya atau pada Mawar sendiri. 


Bukan itu saja, Rani melihat Mawar di kelas  juga tidak pernah tersenyum seperti ada pikiran yang menganggu nya. Ana diam sambil mengangkat kedua bahunya kerana ia juga merasa heran. Tapi Ana  langsung menduga kalau perubahan Mawar terjadi kerena kejadian waktu dua hari lalu. Ya ia tidak menceritakan pada Rani tentang ia yang telah membuat Mawar seperti itu. Tapi itu yang membuat Ana nyaman kerana tidak ada yang ganggu dirinya lagi. 


Tanpa sepengetahuan Ana sebenarnya Mawar menyusun rencana untuk menghancurkan Ana dan ruangan kreasi itu yang Ana tidak tahu sama sekali. 


( Saya dan Rani tidak menyadari itu semua dan itu awalnya kami berdua bermusuhan kembali gara gara Mawar dan dua temannya yang lainnya, tapi saya langsung mengambil hikmah yang telah terjadi. Memang saya terpuruk tapi semua nya berjalan dengan sewajarnya ).


"Entah Ana juga nggak tahu, aneh juga sih kalau dia seperti itu?" Tanya Ana pada Rani. 


Tapi sebenarnya ia sudah menduga kalau Mawar menjauhi dirinya kerena kejadian kemarin. Dugaan Ana benar sih Mawar seperti itu kerena kejadian kemarin yang menimpahnya. Orang tua Mawar bukannya memarahi Ana yang menyakiti anaknya tapi orang tua Mawar malah memarahi Mawar, dan orang tua Mawar mencari tahu apa yang terjadi. 


Orang tua Mawar yang tahu kelakuan anaknya langsung memarahi anaknya, Mawar benar benar sakit hati atas apa yang diperbuat oleh Ana, kerena ia datang ke rumah bukannya disambut malah dibabak belur oleh bapaknya. Mawar sedih dan frustasi pada kedua orang tuanya yang menyalahkan dirinya, dan itu membuat dirinya ingin sekali memiteskan kepala Ana. 


( Orang tua jaman dulu  pokoknya, tidak langsung melaporkan kalau anaknya disakiti oleh orang malah memarahi anaknya dan diarahkan menjadi yang lebih baik lagi, tidak kaya orang tua jaman sekarang apalagi HAM telah berdiri 


Ya bersyukurlah hidup dijaman dulu, ya enaknya biarpun nakal juga tidak langsung lapor polisi, malah dimarahi sama orang tau juga sudah takut ). 

__ADS_1


"Apa ada sesuatu diantara kalian?" Tanya Rani menatap wajah Ana. 


Rani langsung menatap wajah Ana tajam, kerena ia sebenarnya ingin tahu apa yang terjadi lada Ana dan Mawar. Ya ia sama sekali  tidak tahu sama  kerena memang waktu kejadian Mawar dan Ana, ia  pulang lebih dulu ke rumah saudaranya datang. Tapi sebelum pulang ia pamit sama guru piketnya, setalah diizinkan baru ia pulang ke rumah. 


Ia juga menitipkan ruang kreasi pada Ana untuk di kelola, jadi Rani tidak tahu apa yang terjadi. Begitu juga dengan cempaka dan Dahlia, kedua temannya Mawar juga heran sekali melihat perubahan yang terjadi pada mawar. 


Bukan hanya Rani saja yang punya perasan itu, Cempaka  dan Dahlia saling sikut kerena melihat perubahan Mawar. Keduanya sebenarnya ingin bertanya pada Mawar terlihat wajah Mawar seperti ditekuk sedemikian rupa mereka berdua tidak jadi menanyakan sebab mawar seperti itu. 


🐝


"Aku nggak bakal maafin si Ana," ketus Mawar. 


"Kamu ada masalah dengan Ana?" Tanya Cempaka menatap wajah Mawar yang Penuh dengan bara kebencian pada Ana. 


Mawar tidak langsung menjawab pertanyaan Cempaka, ia hanya menghela nafas kasar mendengar apa yang dilontarkan oleh Cempaka. 


Tadi sepulang sekolah cempaka mengajak Mawar pergi dari rumah mencari tempat yang nyaman dan sunyi, ya ia membawa Mawar ke lingkungan sekolah tempat itu menurutnya cocok untuk menanyakan apa yang terjadi. 


Awalnya Cempaka mengajak Mawar masuk kamarnya saja tapi mawar menolak nya dan ia mengatakan ingin mencari tempat yang nyaman untuk menenangkan hatinya, akhirnya cempaka langsung mengatakan kalau sekolah tempat yang nyaman. Mawar hanya mengangguk saja mendengar Cempaka bilang sekolah. 


Akhirnya mereka menuju sekolah apalagi sore hari udaranya sejuk, kerana sang raja siang telah tergantikan oleh senja yang akan turun. Mereka duduk di depan ruangan lab, saling berhadapan satu sam lainnya. 


Rambut Mawar demi garai, sedangkan rambut cempaka diikat, tapi anak anak rambut masih kelihatan ditiup angin sore hari. 


"Apa yang terjadi?" Usik Cempaka kembali menyantuh tangan Mawar. 


"Ana, ya aku juga salah sih!" Ujar Mawar. 


"Maksudmu?" Cempaka masih belum mengerti. 

__ADS_1


"Seminggu yang lalu Ana memukul badan aku, lalu wajahku dengan kayu," Akhirnya Mawar jujur..


"Kapan?'' Cempaka kaget mendengarnya. 


Ia sama sekali tidak menyangka mendengar cerita Mawar kalau Ana melakukan itu pada Mawar sendiri. 


"Bapak tahu, bukan Ana yang dimarahi malah aku yang kena marah bapak." 


"Kok bisa?" 


"Entahlah," Hela nafas Mawar heran. 


Ya dari awal sampai sekarang ia heran kenapa bapaknya membela Ana, dan anehnya Ana lewat depan rumahnya juga bapak dirinya sama  sekali tidak pernah menegur Ana. Mendengar itu semuanya Cempaka mengerti kenapa Mawar agak menghindar pada Ana. 


"Kamu punya jde nggak?" Tanya Mawar lada Cempaka. 


"Ide apa? Aku nggak mengerti?" 


"Cempaka!" Teriak Mawar kesal dan gemas pada Cempaka. 


Ia reflek langsung meninju bahu Cempaka pelan, ditatap wajah Cempaka sedangkan cempaka hanya garuk garuk kepala saja tidak gatal. 


"Ide buat Ana kapok!" Ujar Mawar memberi tahu kan. 


"Maksudnya?" 


Plak! 


Mawar yang kesal dari tadi langsung memukul pipi Cempaka agak keras, sampai gadis itu meringis kesakitan kena dipukul oleh Mawar tanpa sepengtahuan dirinya. Tidak kesal bagaimana  ia sudah serius eh jawaban cempaka malah membuat ia kesal dan ingin meninju Cempaka.*

__ADS_1


__ADS_2