Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 11


__ADS_3

"Menikah itu enak,"


"Pokoknya kalau ingin jadi wanita paling sempurna itu ada tiga hal yaitu; Hamil, melahirkan dan menyusui,"


Kata kata itu terngiang hiang di telinga Ana. Kata kata yang ia tidak pernah diharapkan sama sekali, sebenarnya ia ingin menikmati hidup dengan kesendirian nya dulu bukan menikah.


"Menikah itu ibadah, banyak enaknya."


"Enak darimana?"


Bisik gadis itu. Ya diusia yang 20 tahun seharusnya memikirkan menikah dan hidup dengan suami tapi tidak untuk Ana. Biarpun ia sering diundang untung menghadiri pernikahan teman temannya tapi tidak ada yang bisa mengiyakan keputusan Ana untuk sendiri.


Diusia 20 tahun kalau di perkampungan sudah semuanya menikah kecuali Ana! Tapi Ana cuek saja tidak pernah berpikir untuk membangun rumah tangga, boro boro menikah pacaran juga belum sama sekali.


Ada orang yang mendekati Ana tapi ia cuek saja sih! Tidak pernah merespon sama sekali..


"Na, gimana kalau kita bersatu?" tanya teman SD nya. Tio.


"Bersatu bagaimana?" tanya Ana polos.


Ia sebenarnya mengerti kemana arah pembicaraannya, tapi gadis itu telah membanyangkan yang tidak mungkin, ya ia membayangkan menyatukan dua orang yang berbeda itu susahnya minta ampun belum lagi kalau punya anak. kekhawatiran hati Ana tetap ada.


"Pengan kuliah S1 dulu sih!" ujar Ana tersenyum.


"Kan sekarang belum kuliah mungkin tahun depan kuliah, jadi tamat kuliah baru menikah," jawab Ana menolah secara halus.


Sebenarnya Tio orangnya baik, perhatian, tapi hati nya tidak pernah bergetar pada perhatian Tio, Ana hanya menganggap sekedar teman saja tidak lebih dan kurang. Dan tidak ada getaran cinta yang muncul kalau bertemu dengan Tio.


"Na,mau cari cowok gimana lagi sih kamu. Tio orangnya baik, keluarganya baik baik," Indra menyakinkan Ana.

__ADS_1


Indra yang bersama Ana dan Tio angkat bicara memberikan kesempatan pada Ana. Gadis itu hanya menggelengkan kepala saat Indra bicara itu. Melihat gelengan kepala Ana Indra hanya menghela nafas panjang sedangkan Tio diam saja.


"Aku ingin kuliah dulu, aku takut kalau aku menikah lalu suami aku nggak bisa membiayai aku kuliah, sedangkan itu pertanggungjawaban." alasan Ana menolak.


( Intinya waktu itu saya belum siap menikah, dan alasan yang kuat adalah kuliah belum selesai, kuliah juga belum masa harus menikah. Saya hanya ingin menolak tanpa untuk menyakiti orang lain, saya sadar mengatakan itu kerena suatu waktu nanti jodoh saya sudah di siapkan oleh Allah, kalau memang Tio jodoh saya insha Allah kapanpun saya akan menikah dengannya ).


Ya akhirnya Tio tidak pernah datang lagi ke rumah atau hanya sekedar menyapa saja juga tidak. Ana tidsk mempermasalahkan Tio yang menghindar dari dirinya, kerena kalau Tio jodoh yang Allah kirim insha Allah ia dan Tio bakal menikah atas izin Allah, itu yang ia pegang.


Tapi Allah menunjukan kekuasaannya. Belum sebulan ketika Tio dan Indra datang ke rumah, lalu di tolak halus oleh Ana, tiba tiba ia mendengar Tio melamar anak kampung lain sebagai istrinya, bukannya sedih tapi Ana hanya bersyukur kerena Allah telah menunjukan. kekuasaannya. Masalah menikah buat Ana hal yang tidak perlu dipermasalahkan.


Lima bulan kemudian Tio dan Ana bertemu..


"Na, istri ku hamil. Aduh seneng banget tahu," terlihat wajah ceria Tio memberikan Khabar pada Ana.


"Alhamdulillah, selamat ya. Semoga lahirannya selamat, udah beberapa Minggu?" tanya Ana tersenyum.


Deg!


Hati gadis itu bergetar mendengar kata menikah dari mulut Tio. Daripada lama lama dengan Tio akhirnya Ana meninggalakan Tio, ia sama sekali tidak berminat kalau sudah membicarakan masalah menikah, ia terlihat kesal sih kalau ada orang yang bicara nikah dan anak. Usia 21 jalan ya seharusnya memikirkan menikah atau tidak punya pacar lah dulu, tapi Ana tetap pada pendirian sendiri apalagi ditambah orang tuanya juga tidak ambil pusing pada Ana.


Apalagi adik adik Ana juga masih kecil masa harus mendahului mbaknya menikah, itu hanya perasaan seorang ibu saja. Ya dari usia mungkin Ana sudah dewasa, perbedaan umur antara adik adiknya hanya berpaut beberapa tahun saja.


Sekarang Ana berusia 20 tahun lebih, Puspita berusia 18 tahun, Bhakti berusia 17 tahun dan bungsu Yuliet berusia 14 tahun. Mungkin menurut manusia Ana tidak akan dilangkahi oleh adiknya menikah kalau dilihat dari segi umur adik adiknya.


Ana juga tidak pernah khawatir saat Puspita membawa pacarnya orang Munjul ke rumah, Ana biasa saja tidak pernah khawatir apa apa, malah merasa senang ada cowok yang sayang adiknya.


( Tapi kenyataannya di saat saya umur 25 tahun, adik saya bernama Puspita 23 tahun harus menikah dengan laki laki pilihannya. Dan membuat keangkuhan hati saya meleleh seketika juga ).


Yupz ada keangkuhan dihati Ana waktu itu, apalagi kadang ada selentingan omongan orang orang tentang Ana.

__ADS_1


"Kalau nggak cepat Nikah nanti dilangkahi sama adiknya." celetuk tetangga.


"Hai ngomong apa barusan?" ketus Ana menatap gadis yang sebaya dengannya..


"Cuma ngomong dilangkahi nikahnya sama Ita,"


PLAK!


Belum selesai gadis itu mengatakan apa yang akan diucapkan, tiba tiba tangan Ana langsung melayang menyentuh wajah gadis itu dengan sekali pukul. Kena pada matanya, seketika gadis itu menjerit kesakitan kerena merasakan panas pada bola matanya. Ia merasa kaku bola matanya seperti meloncat dari kelopak matanya, perih banget.


Ana yang awalnya akan melakukan pukulan lagi tiba tiba di ibu gadis itu datang kerena mendengar kalau putrinya menjerit seperti kesakitan, saat melihat Ana yang ada di sana si ibu manatap curiga.


"Bu, didik anak ibu jangan ngomong itu lagi!" sembur Ana nggak suka.


"Ngomong apa? Nduk kamu ngomong apa?" tanya si ibu pada anaknya.


Si gadis diam mendapat pertanyaan itu dari ibunya."kalau nggak cepat nikah nanti dilangkahi adiknya," ulang gadi itu.


"Kamu juga yang udah nikah malah di cerai oleh suamimu," Dengus Ana kesal.


Ana langsung pergi meninggalkan rumah itu, ada kecewa yang terpancarkan oleh wajah gadis berkacamata itu. Sedangkan gadis itu dan ibunya langsung terdiam seketika juga mendengar kata kata kesal Ana.


Apa yang dikatakan Ana benar, Mirna telah menikah malah di cerai gara gara suaminya sering mabuk mabukan, sedangkan Mirna dibandingkan Ana, Mirna gadis cantik banyak laki laki yang mau jadi suamianya. Hanya kehidupannya berbeda jauh sekali, kalau Ana.mungkin lurus lurus saja.


Dan yang lebih tragis lagi Mirna di cerai dalam keadaan hamil ya gadis itu sedang mengandung benih suamianya, dan keberadaan manatan suamianya entah kemana keberadaannya. Dan diusia 20 tahun Mirna harus mengurus kandungan dsn ibunya kerena abah nya sudah meninggal sebelum Mirna menikah.


"Aku juga nggak mau cerai sih!" rintih Mirna pada ibunya.


Ibunya hanya mengelus putrinya dengan perasaan iba, sebenarnya apa Ana takutkan dari pernikahan adalah perceraian, kerena kalau di kampung kampung banyak para gadis menikah dibawah usia 20 tahun. Tapi kenyataannya pernikahan hancur kerena perceraian yang terjadi.*

__ADS_1


__ADS_2