
POV Ana ke 2,
Masa lalu dan masa sekarang
Semua yang saya lalui pada tahun 1999-2002 semuanya penuh dengan rintangan dan air mata. Awal dari sebuah kekuatan terbesar adalah sebuah hinaan dan saya disana hanya ingin membuktikan kalau dunia yang saya lakukan itu benar benar nyata sekali.
Jadi pantas kalau saya selalu ingin punya teman yang satu profesi yaitu menulis, intinya saya bukan memilih milih teman bukan. Tapi saya hanya ingin sebuah motivasi yang benar benar tulus dari orang orang yang dekat dengan saya. Bukan hanya bullyan atau kata kata yang tidak ada makna nya. Kadang ada orang yang bikin saya drop.
"Ngapain menulis nggak ada gunanya sama sekali, ngabisin pulpen, kertas dan tenaga,"
Tuh kan kata kata yang seperti ini, yang seharusnya dijaga apalagi untuk penulis pemula. Ya Allah memang kata kata selembut itu harus keluar dari orang lain, sebenarnya memang kata kata biasa aja tapi jujur bikin drop. Kalau dipikir lagi sebenarnya saya menulis merugikan mereka? Nggak kan? Kenapa mereka yang usil dan jail.
Atau ada juga kata kata yang bikin miris.
"Buat apa menulis kalau nggak dapat uang,"
Gubrak deh! Woy semua jangan dipandang uang sih! Anehkan orang yang bilang kaya gitu. Sebenarnya saya berpikir kalau menulis hanya iseng saja tidak mengharapkan apapun. Ya hanya mengisi waktu kosong saja, tapi kenyataan orang orang yang ada di hadapan saya hanya berfokus uang dan uang. Sedangkan waktu itu masih SMU masih belum berpikir masalah uang🤦🤦😂😂, paling masih berharap dikasih sama bapak itu saja.
Satu hal yang saya tarik benang merahnya adalah keluarga, kalau keluarga saat saat mereka tahu saya suka menulis ibu dan bapak adalah nomor satu yang mendukung.
Ya biarpun menyakitkan kata kata yang mereka yang selalu mereka berikan pada saya, tapi seiringan waktu yang saya lalui sebagai pegangan saya untuk berhasil. Ya waktu itu saya hanya punya harapan dan mimpi saja, tanpa harus tahu apa yang harus dilakukan nya.
Sebenarnya saya hanya ingin melakukan secara instan saja tidak mau ada proses, sebenarnya proses itu yang saya lalui dengan harapan dan mimpi yang tinggi, ya biarpun itu hanya sebagai sebuah perjalanan yang perlu dilalui oleh saya sendiri.
__ADS_1
Misal secara instan itu; saya membuat cerpen atau novel, terus saya kirim ke majalah atau penerbit langsung di terima dan dapat honornya. Gampang kan? Tapi semuanya tidak segampang dan semudah itu, semua butuh proses dari proses itu lah saya akhirnya seperti sekarang😊.
Tapi semuanya tidak terlepas dukungan yang sehat dan teman teman yang selalu memberikan semuanya perhatian yang tulus dan suci.
"Anamah hoyong bisa masuk komunitas, yang diisi oleh teman teman yang suka menulis supaya dapat motivasi, arahan, semangat, dan dukungan." Kata kata itu yang saya sering ucapkan pada ibu dan bapak waktu itu.
Kata kata yang jadi kenyataan sekarang, semua tidak terlepas pada orang orang yang peduli dan sayang pada saya sendiri.
Saya tidak pernah menyangka bahwa perjalanan ini membuat semuanya terbayar sudah, tapi setiap mengingat semuanya saya hanya ingat kejadian yang paling indah waktu masa SMA. Masa masa itu saya benar benar mencari jati diri. Untung dalam pencarian jati diri saya menemukan hal hal positif buat kehidupan saya dimasa mendatang.
Apa yang kamu katakan itu sebenarnya doa untuk dirimu sendiri
Kata kata yang terpatri selalu ada dalam hati saya, ya saya sering banget mengatakan kalau saya bakal berhasil. Tapi entah berhasilnya kapan?
Jujur dalam diri tidak pernah bermimpi untuk jadi seorang pustakawan, atau bermimpi menjadi orang yang bekerja di sebuah instansi pemerintah maupun swasta. Tapi nyatanya saya malah masuk ke sebuah instansi pemerintah yaitu di SMP negeri 1 Angsana dimana waktu tahun 1996-1999 saya salah satu siwinya😊. Dan saya balik lagi ke SMP negeri 1 Angsana dengan profesi sebagai pustakawan.
Dan dimasa sekarang ingatan saya sekarang hanya ingin bertemu dengan ibu Elis. Banyak pertanyaan yang tidak pernah saya jawab sendiri, sebuah pertanyaan tentang dunia perpustakaan yang pernah beliau lakukan sedangkan beliau adalah guru agama Islam.
🐝
"Ana hoyong bisa masuk komunitas, yang diisi oleh teman teman yang suka menulis supaya dapat motibmvasi, arahan, semangat, dan dukungan." ujar Ana pada Rani.
Sebenarnya ia sudah lelah oleh Mawar lakukan, ia berpikir kaku misal ia punya teman teman satu komunitas menulis, pastinya setiap pertemuan bakal memberikan semangat menulis, memotivasi serta dukungan yang positif.
__ADS_1
Rani yang mendengarkan Ana hanya mengusap tangan Ana lembut, ia tidak banyak bertanya atau berkomentar. Kerena apa yang Ana bicarakan hanya sebagian curhatan hatinya saja.
"Ran, bagaimana ya kalau kita bikin kreasi sebagai tempat untuk sharing tentang penulisan." Kata Ana menatap lurus kearah bunga yang ada di hadapan ruangan kreasi.
"Bisa sih! Tapi apa tidak menganggu belajar mereka?" Balik Rani menanyakan pada Ana.
Ana terdiam ia akhirnya membenarkan perkataan Rani, apalagi ini pendidikan formal yang harus ketat pada aturan sekolah, tidak semua kelas tidak ada jam kosongnya. Tapi kadang jam kosong harus diisi dengan menulis di papan tulis, atau juga dibacakan dengan nyaring dan sebagian teman teman menulis.
Ana hanya menghela nafas panjang, pikiran nya seketika buntu. Sebenarnya ia sedang membanyangkan kalau misal rencana berhasil Ana hanya ingin kegiatan itu bisa memotivasi teman teman yang suka menulis ikut event event tertentu. Atau ada kegiatan misal menulis cerpen, puisi.
( Keinginan saya sebenarnya sudah terkabul saat saya menjadi anggota kelas menulis angkatan 6 Rumah Dunia. Ya apa yang saya inginkan ada di Rumah Dunia, misal sharing tentang cara penulisan cerpen, novel dan puisi ya biarpun keinginan saya waktu itu pas duduk di SMU ).
"Sudah Na apalagi ini kampung!" Kata Rani lagi.
Mendengar kata kata Rani, Ana hanya menggaruk garuk kepala yang tidak gatal, kaku dipikir dan dicerna memang semuanya tidak segampang apa yang diucapkan oleh kita sendiri.
"Na, kita sebenarnya lagi proses, proses menuju keberhasilan," kata Rani.
"Proses yang panjang dan kita sebenarnya lagi digodog untuk melihat potensi yang kita gapai, insha Allah ada jalan keluarnya sih!" Lanjut Rani menatap wajah Ana.
"Kalau Ana Pengan langsung berhasil, tanpa halangan rintangan," Dengus Ana kesal.
"Nggak semudah apa yang dikatakan, kalau misal perjalanan kita lurus, atau sejajar itu aneh. Ya Aneh masa kita menulis, mengirimkan terus langsung di terima, oleh penerbit. Lalu saat gagal kita tidak bisa bertahan," kelas Rani.
__ADS_1
Menurut Rani seseorang harus menerima kegagalan dulu, setelah menerima penolakan, kegagalan, itu adalah sebuah pelajaran dan akan membuat kita menjadi kuat dan tahan disaat kita menerima kegagalan yang sama. Ana hanya mengangguk anggukan kepalanya mengerti apa yang dibicarakan oleh Rani.*