
POV Mawar
Arya! Nama cowok yang aku suka, dia memang kelas 3 SMU, ganteng sih menurut pandangan aku. Dan tahu tidak yang aku nggak suka dari Arya, cowok.itu malah dekat Ana, sebenarnya Arya cuma dekat biasa saja tidak masalah. Tapi kalau ketemu sama aku Arya selalu menanyakan nya Ana kaya sengaja gitu. Menurut aku aneh juga sih masa cewek berkacamata itu harus banyak yang suka, aneh.
Ya aku pikir Ana itu sebenarnya kurang pergaulan, ya terlihat dari keseharian di sekolah tidak begitu kentara, dari mata pelajaran biasa saja ya dibandingkan dengan aku. Mungkin satu yang Ana punya yaitu suka menulis. Aku sih tidak meragukan dirinya menulis tidak, tapi bagaimanapun juga aku kagum pada Ana tapi hanya sebatas sembunyi sembunyi saja tidak seperti yang lain.
Seganteng Arya masa harus suka sama Ana gadis berkacamata, kampungan, rambutnya juga sering diikat ekor kuda atau kepang dua. Apa sih yang dilihat dari Ana sebenarnya. Maaf ya kalau dipikir sih aku lebih trend dibandingkan Ana.
Kalau dibilang iri memang iri sih! Apalagi kalau ingat kejadian kemarin kemarin waktu menaikan bendera. Aku benar benar murka sama Ana maupun Arya.
"Mawar, kamu menaikkan bendera sama Arya dan Rani." Tanya ibu Ritih padaku.
"Mau, Bu." Antusias aku menjawabnya.
"Bu, boleh nggak kalau Ana yang ikut naikan bendera?" Arya dengan cepat mengacungkan tangannya.
"Lho kok Ana? Kalian beda kelas'kan?" Tanya ibu Ratih heran.
"Nggak apa apa bu, aku minta bantuan Ana saja." Arya menjawab kembali dengan lantangnya.
Aku hanya diam saja, apa yang dibicarakan ibu Ratih memang benar sekali, Ana beda kelas dengan Arya kok malah Ana yang harus naikan bendera sama Arya dan Rani. Masih untungkan kalau sama Cempaka atau Dahlia? Aneh!
Sejak itu aku nggak suka! Ana seperti mencari perhatian pada Arya. Sebenarnya dulu aku tidak suka pada Ana, kenapa tidak sukanya. Kenapa laki laki yang aku suka kadang malah menyukai Ana. Aku juga tidak habis pikir sih! Kenapa itu harus terjadi dalam hidup aku, aku juga heran sampai sekarang.
Dulu waktu aku kela 1 A, sejujurnya aku suka sama Bram, tapi kata kabar burung Bram suka sama Ana hanya gadis itu tidak mengubrisnya sampai kabar itu datang kalau Bram menghilang dan tidak kembali lagi, ditambah lagi Melati juga tidak lanjut katanya pindah ke Jakarta.
__ADS_1
Dan sekarang Arya. Aku tidak habis pikir sih kenapa harus Ana yang jadi incaran Arya? Aku juga tidak habis pikir pada Arya dan cowok cowok di sekolah.
"Ungkapkan saja kalau kamu suka pada Arya daripada digaet sama Ana." Cempaka memanasi aku.
Aku yang sebenarnya takut Arya jatuh ketangan Ana otomatis kata kata itu bagaikan bom waktu yang bakal meledak.
"Apa yang dikatakan Cempaka benar, Mawar, udah ganteng, atletik, pinter, juara kelas, mau apalagi coba?"
Propokasi Dahlia padaku. Aku hanya termenung mendengar kata kata kedua tanku, aoanyabg mereka katakan memang benar juga. Tiba tiba aku ketakutan kalau Arya sampai jatuh cinta sama gadis cupu itu. Aku tidak mau sama sekali kehilangan Arya, apalagi harus jadi pacar Ana.
Sebenarnya waktu aku menyuruh Titis memanggil Ana, aku hanya ingin minta penjelasan dari Ana tentang kedekatan hubungan mereka berdua, tapi Ana tidak menanyakan apa apa otomatis aku curiga kalau Ana ada apa apa nya dengan Arya jadi ia takut kalau ketemu aku kerena takut ditegur olehku.
Ya pikiran itu yang ada dalam pikiranku waktu itu, dan aku nyakin kalau Ana takut kalau ia bakal berhadapan denganku kembali. Aku dan kedua temanku menunggu Ana tidak muncul saja, jadi pas pulang sekolah aku langsung menghajar Ana tanpa ba bi bu lagi. Tanpa ampun aku pukul kepalanya dengan tanganku sampai kacamatanya rusak. Hilang entah kemana, aku juga tidak tahu kalau Ana juga malah melawan aku, otomatis aku yang tidak tahu kalau Ana menyerangku, aku jadi limbung dan jatuh akibat tubuh Anak Menindih tubuhku.
Aku yang baru menyadari langsung menjabat rambut Ana, begitu juga dengan Ana. Dan yang paling pasrah kepala aku dibenturkan oleh Ana, bajingan juga sih gadis kuper itu.
Aku benar benar kalah telak, setelah aku membalikan tubuhku ke kanan dasar si Ana cupu malah menendang pungung aku dengan keras sekali beberapa kali, ditambah pingangan aku juga diinjak dengan kerasnya.
Aku hanya bisa menangis dan teriak minta tolong. Untung ada beberapa orang yang memisahkan aku dan Ana, kalau tidak aku juga tidak tahu harus bagaimana. Sebenarnya kalau dipikir aku tidak kapok juga sih! Kemarin di pingir ruangan lab aku yang dipukul Ana.
Dan hatiku benar benar marah tapi tidak bisa berkomentar saat bapakku dan bapak si cupu itu malah minta maaf dan mereka baikan satu sama lainnya, aku tidak bisa berpikir itu bapakku sudah tahu aku diinjak, dijambak aku. Malah dengan entengnya bapakku bilang mau ganti kacamata Ana.
Kalau bukan bapak yang bicara seperti itu aku ingin merobek mulutnya, tapi yang bicara bapakku aku hanya diam saja hanya menghela napas panjang saja.
PLAK
__ADS_1
Bapak menampar muka ku di rumah.
"Pak, ini ada apa pulang dari sekolah maha menampar anak sendiri!" Teriak ibuku merelai bapak dan aku.
"Dia telah buat malu di sekolah, bertengkar sama Ana. Bapak juga nggak tahu apa yang terjadi," sembur bapakku sambil meninggalkan aku dan ibu di dalam ruangan tv.
Aku menangis, ibu langsung memeluk aku. Aku menangis dalam pelukan ibu, ibu mengusap rambutku dengan lembut sekali.
"Kenapa?" Tanya ibu lembut.
Aku belum menjawab pertanyaan ibu, kerena meringis kesakitan di perut.
"Perut kamu sakit? Kenapa?" Tanya ibu berulang.
"Ana menendang perutku." Rintih ku pada ibu.
Akhirnya dengan terbata bata aku menceritakan kronologi kejadian yang sebenarnya pada ibu. Ibu hanya melongo saja mendengarkan apa yang ku ceritakan pada ibu.
"Intinya kamu nggak suka kalau Arya dekat dengan Ana, terus kamu tahu kalau Arya suka sama Ana?" Tanya ibu bertubi tubi.
Aku hanya menggelengkan kepala kerena aku juga tidak tahu kalau Arya suka atau tidaknya pada Ana. Aku juga tidak pernah membicarakan pada Ana tentang Arya.
"Seharusnya kamu tanya Ana nya, suka nggak sama Arya, siapa tahu Ana hanya menganggap sebatas teman saja," kata ibu menjelaskan.
Deg!
__ADS_1
Hatiku berdetak dengan kerasnya mendengar apa yang ibu katakan padaku, ya selama ini aku tidak pernah bicara pada Ana masalah dirinya suka pada Arya. Aku hanya menduga duga saja.*