Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 38


__ADS_3

Bunga


Betapa indahnya kau diantara tiupan angin pagi hari,


diantara mentari pagi kau berontak saat sang kumbang mencumbu kelopak mu


Entah senang atau sedih saat tubuhmu


dicicip indah dalam ngenggaman sang kumbang


Duri duri duri di tubuhmu tidak sanggup


melindungi mu dari sang kumbang yang mencicipi indah kesucian mu.


Dokumen Ana Aprihati


Angsana 12, Agustus 1998


( Bunga adalah puisi pertama yang ditulis oleh saya waktu SMP, yang ditulis di sini bukan puisi aslinya. Puisi asli entah dimana, saya hanya tahu judul nya saja, Titi mangsa juga tidak benar, saya hanya ingat waktu saya menulis pas saya duduk di SMP kelas 2 ).


🐝


Perjalanan ke Rumah Dunia tidak pernah terlintas dalam benak gadis 12 tahun itu, ia hanya menyukai membaca dan menulis dari sejak kecil sampai sekarang. Seperti mimpi tapi sangat nyata sekali, dan mimpi itu benar benar nyata saat ia mengikuti projects penerbitan Kunang Kunang dalam pelukan yang mengubah segalanya dari dirinya.


🐝


"Na dipanggil sama pak Didin," teriak Ima padaku.


"Ada apa?" tanya gadis itu kaget.


Ia sama sekali tidak ada urusan dengan pak Didin guru PAI itu, tapi hatinya berdebar sangat kuat mendengar nama gurunya. Ya pak Didin adalah guru yang ditakuti oleh siswa kerena kedisiplinannya mendidik dan mengarahkan para siswanya.

__ADS_1


Akhirnya Ana langsung beranjak dari duduk dan membuang secarik kertas yang berisikan puisi yang ia buat itu tanpa menyimpan puisi untuk latihan kembali. Ia langsung ke ruang guru dsn mencari pak Didin. Pak Didin yang melihat Ana langsung mengajak Ana ke ruangan OSIS yang tidak jauh dari ruangan guru.


"Na, bapak pusing sama kelakuan Ana, katanya kemarin Ana membuat Amin menangis kerena kamu tampar pipinya oleh Ana." tanya pak Didin menatap wajah Ana.


Ana hanya menunduk saja, ia tidak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh gitu agama Islam itu, ia menghela nafas secara kasar. Ia terlihat kesal sekali atas pengaduan Amin pada pak Didin tanganya mengepal.


"Amin yang duluan pak, masa saya lagi enak enak baca eh dia ambil buku lalu dilemparkan begitu saja," Adu nya.


Apa yang diceritakan oleh gadis itu benar terjadi kerena kemarin waktu istirahat Ana masuk ke perpustakaan dengan ibu Rina. Ibu Rina guru bahasa Sunda menyuruh siswa dan siswi untuk meluangkan waktu membaca di waktu istirahat, memang tidak semua siswa yang membaca.


Tapi Ana memilih untuk membaca buku di perpustakaan, tapi tiba tiba Amin datang menghampiri Ana tanpa ba bi bu lagi Amin membuang buku yang Ana pegang. Otomatis Ana marah dan kesal merasa terganggu oleh Amin yang seenak saja melakukan itu pada dirinya.


Ana otomatis marah pada Amin, ia langsung menampar muka Amin dengan keras dan ganasnya. Sampai Amin yang tidak menduga langsung terjungkal diterjang oleh gadis tomboy itu. Bukan hanya ditampar beberapa kali tapi Ana juga menghantamkan kursi plastik pada tubuh Amin sampai cowok ABG itu kewalahan oleh Ana.


Kejadian yang tiba tiba membuat para siswa yang ada di perpustakaan lanhsung shock melihat Ana dengan beraninya langsung memukul tubuh Amin, Ana berada di atas tubuh Amin dan Amin dibawah tubuh Ana.


Amin berusaha berontak dengan cara memukul tubuh gadis itu tapi gadis itu masih anteng berusaha memukul wajah Amin sampai babak belur, kerudung yang Ana pakai juga terlepas begitu saja kerena ditarik oleh Amin.


Keributan itu memancing beberapa guru yang ada di ruang guru berhamburan untuk melihat kejadian yang terjadi di perpustakaan. Ana langsung ditarik paksa oleh pak Haris, dsn kakinya di pukul oleh satu lidi. Gadis itu hanya meringis kesakitan mendapatkan pukulan dari pak Haris. Untungnya pak Didin tidak masuk sekolah alasannya ibu pak Didin sakit.


Ana di hadapan pak Didin membela diri kerena ia juga kalau tidak diganggu juga tidak pernah mendahului nakalnya, tapi saat tanya yang jail pasti ia balas.


"Sekarang Ana harus baik pada teman teman Ana ya, jangan diulang lagi," nasehat pak Didin.


"Iya, pak. Seharusnya bapak juga manggil Amin biar nggak melakukan seperti kemarin lagi," ujar Ana langsung meninggalkan gurunya itu.


Pak Didin hanya mengelangkan kepala saat ia melihat Ana langsung meniggalkan tempat itu tanpa pamit lagi, akhirnya ia pun meninggalkan ruangan OSIS menuju ruangan guru.


"Na, ada apa?" tanya Elis.


Ketika ia melihat Ana datang dan duduk di kursinya. Elis mendekati Ana kerena pendaran kenapa Ana dipanggil oleh pak Didin. Dan begitu lama juga dipanggilnya..

__ADS_1


"Gara gara kemarin,"


"Si Amin yang dipukul kamu?" tebak Elis.


Ana hanya mengangguk. Elis yang tahu kejadian itu hanya tersenyum saja, ya ia melihat kejadian itu di perpustakaan kali dipikir pikir sih Amin yang salah kerena mengambil buku yang dibaca oleh Ana lalu di lemparkan begitu saja..Ya boro boro Ana, ia juga kalau sampai Amin melakukan itu padanya pasti akan dicincang juga tubuh cowok itu.


"Biar kapok juga sih!" Dengus Ana kesal.


Ya ia masih kesal dengan kelakuan Amin yang menurutnya arogan menganggu kesenangan orang saja.


( Untung waktu itu tidak ada yang lapor polisi,.kalau misal lapor polisi bisa.gawat, kerena bisa bisa saya di penjara kerena main hakim sendiri, untungnya keluarga cowok itu juga menanggapinya biasa saja😊🙏 ).


"Eh! tadi aku lihat puisi kamu bagus deh!" Elis mengalihkan pembicaraan..


"Puisi? Puisi apa?"


Ana benar benar blank waktu Elis mengingatkan sebuah puisi yang ia tulis. Ya secar diam diam waktu Ana dipanggil oleh Ima untuk mendatangi pak Didin, ia secara diam diam mengambil kertas yang di buang oleh Ana ke tempat sampah..


Saat Elis membukanya ia berdecak kagum atas apa yang Ana tulis di secarik kertas. Elis mengambil kertas itu dan menyimpan nya di saku bajunya.


Ana melonggo saat ia menyadari kalau tadi sebelum di panggil pak Didin ia menulis puisi Tiba tiba puisi itu ia lemparkan begitu saja.


"Buat aku ya," bujuk Elis..


Ana hanya mengangguk saja, ia tidak tahu kalau tulisan itu bakal membawa Ana kesebuah tempat yang diimpikan Ana.


"Na puisi kamu bagus. Kamu pantas jadi penulis terkenal." ujar Elis.


"Pengen sih tapi apa Ana bisa ya Lis bikin cerpen?" kata Ana pesimis sekali.


"Bisa kok, Ana kan rajin," puji Elis.

__ADS_1


Ana hanya manyun saja. Elis mengangguk ia merasa nyakin dalam hatinya kalau Ana bakal berhasil. Ana sebenarnya ingin melakukan apa yang Elis inginkan kerena Elis dengan tulus mendukung Ana untuk menulis.*


__ADS_2