
Semua orang menyebutkan nama masing masing, tinggal dan asal darimana serta mengenal Rumah Dunia itu darimana. Kegiatan sharing itu membuat acara mencair tidak tegang maupun serius, kadang ada tawa dan canda diantara mereka.
Ana yang mendengarkan tercenung sejak saat orang itu menyebut tentang Rumah Dunia, ia sama sekali tidak tahu tentang Rumah Dunia. Sedangkan orang orang yang hadir hampir tahu tentang Rumah Dunia, apalagi pria gondrong itu! Hati Ana sebenarnya dibuat ketar ketir juga tapi ingatannya tentang Ibnu Adam Aviciena terlintas dalam benaknya.
Dan kini bagian Ana yang harus menyebutkan nama, asal, tinggal dan tentang Rumah Dunia.
"Ana Aprihati, nama saya panggilan Ana. Tinggal di Panimbang, sekarang tinggal di Taman Ciruas Permai bersama Bude," Ana grogi saat menyebutnya na lengkap dan asal, serta alamat rumahnya.
Sebelum meneruskan kembali, ia menarik nafas dalam dalam lalu dihembuskan kembali seperti mengeluarkan beban di hatinya. Apalagi sharing yang dilakukan di tatap oleh banyak orang yang hadir di acara writing champ.
Ana sebenarnya tidak tahu kalau acara writing champ ini diadakan oleh Rumah Dunia yang beralamatkan di Komplek Henggar Alam no 40 Ciloang Serang Banten.
Tatapan mata semua orang yang hadir di acara itu menatap semuanya kepada gadis berkaca mata, serta masih berpakaian baju lengan panjang serta celana panjang dsn kerudung yang asal asalan..
Sebanrnya Ana ingin melepaskan kerudungnya saja kerena panas, apalagi ia sama sekali tidak biasa mengunakan kerudung dengan jangka panjang. Banyangkan dari jam 06.00 pagi sampai malam ia sama sekali belum membuka kerudung kecuali mandi saja.
"Rumah Dunia pernah mendengar sih! menurut saya Rumah Dunia itu ibarat Rumah yang ada dunianya. Seperti kita punya globe terus rumahnya disusun di atas dunia yang besar." lanjut Ana sambil tersenyum.
Ia menjelaskan terperinci tentang Rumah Dunia, semua orang yang hadir disana hanya tersenyum lucu saat mendengarkan cerita Ana tentang Rumah Dunia.
Laki laki gondrong juga malah tersenyum manis mendengar gadis mengunakan kacamata itu, ia tidak marah dengan komentar Ana yang baru dikenalnya itu, sedangkan wanita cantik yang disamping pria gondrong itu tersenyum anggun banget mendengar Ana menceritakan tentang Rumah Dunia.
"Mas, boleh tanya?" kata Ana yang tadi berhenti menceritakan tentang Rumah Dunia.
__ADS_1
Laki laki gondrong itu mengangguk dan menatap Ana tajam. Ana membalas menatap laki.laki gondrong itu.
"Boleh silahkan?"
"Maaf pak nama bapak siapa?" tanya Ana polos.
Semua orang yang hadir hanya tersenyum mendengar pertanyaan Ana yang spontan dan polos, sebenarnya tadi laki laki gondrong itu sudah memperkenalkan dirinya pada anggota writing camp nya. Hanya Ana waktu l
perkenalan ia malah ke belakang ke WC. Jadi sampai sekarang ia belum tahu nama laki laki gondrong itu!
"Lho, memangnya saya kelihatan tua ya sampai dipanggil bapak segala," canda laki laki gondrong itu sambil tertawa renyah.
Semua yang hadis itu tertawa mendengar candaan laki laki gondrong itu, termasuk Ana juga tertawa. Malam itu benar benar malam yang tidak mungkin ia lupakan sama sekali untuk Ana sendiri.
Malam yang dingin begitu hangatnya sharing dengan laki laki dan teman teman yang baru dikenalnya semuanya asyik dan penuh semangat sekali.
"Lho kok Gol A Gong nya masih muda?" tanya Ana heran.
Ya ia tidak menyangka sama sekali kalau yang ada dihadapannya itu Gol A Gong, apalagi istrinya yang anggun menawan sekali ibarat bidadari yang turun dari surga Masya Allah. Dari awal mendengar nam Gol A Gong ia pikir kalau Gol A Gong itu kak laki tua yang penuh uban, dan jalan nya mengunakan tongkat kerena menopang tubuh tuanya. Ya awalnya ia berpikir kalau Gol A Gong itu sudah uzur tapi nyatanya masih segar dan bugar di dampingi istri yang manis dan anggun apalagi kalau sudah tersenyum.
Laki laki gondrong itu menatap Ana tidak berkedip sama sekali mendengar spontanitas gadis yang ada dihadapannya yang baru dikenal sudah membuatnya gemas sekali. Ia tidak menyangka kalau ada gadis yang baru di kenalnya mengatakan kalau dirinya tua.
Gol A Gong hanya bisa menggelengkan kepala mendengar kata kata Ana seperti itu, ia menganggap biasa saja. Pria itu nyakin kalau gadis yang ada dihadapannya punya sesuatu yang diceritakan tentang dirinya, otomatis dari spontanitas Ana lah yang membuat malam itu terasa indah dsn asyik.
__ADS_1
"Kenapa kamu menganggap saya sudah tua, bisa kamu ceritakan?" tanya Mas Gong menatap Ana tajam.
Ya ia ingin tahu alasan apa yang disampaikan gadis berkacamata itu pada dirinya. Ana meringis mendengarkan pertanyaan Gol A Gong, Ana tidak langsung menjawab pertanyaan mas Gong. Ia.mwnatik nafas lalu menghembuskan kembali.
"Saya pernah membaca nama Gol A Gong, disebuah brosur yang menceritakan tentang Ibnu Adam Aviciena putra Pandeglang yang launching novel Mana Bidadari untukku," dengan lantangnya menceritakan sebuah koran yang ia baca.
Setelah menceritakan tantang itu Ana pernah langsung membayangkan kalau sosok Go A Gong itu sudah tua dan uzur tapi saat ia bertemu di writing champ ia baru menyadari kalau Gol A Gong masih muda dan fresh.
Semua yang hadis di acara writing champ dengan santai mendengarkan apa yang di ceritakan oleh Ana, secara diam diam mas Gong hanya tersenyum mendengarkan penjelasan Ana tentang dirinya.
"Itu hanya banyangan saya saja mas," ujar Ana tersenyum manis.
Malam semakin larut. Perkenalan demi perkenalan terus bergulir dengan cepatnya. Semua orang yang hadir dalam acara itu mempunyai cerita yang berbeda dengan yang lain. Tapi mereka di acara writing champ punya tujuan dsn jalan yang sama. Sama sama ingin menjadi penulis.
(Disini saya masih belum paham kegiatan itu, saya hanya menyangka kalau kegiatan itu sudah selesai ya selesai tudks ada kelanjutannya lagi, tapi nyatanya tudks sama sekali😊 ).
"Mas, boleh bicara?" tanya Ana mengejar mas Gong yang bersama istrinya.
"Ya ada apa?" tanya pria gondrong itu hangat.
"Boleh saya ke Rumah Dunia?" tanya Ana minta izin.
Ia sebenarnya penasaran sama Rumah Dunia, sejak dulu. Tapi ia ingin kalau besok bisa datang ke Rumah Dunia yang penuh misteri buat dirinya sendiri.
__ADS_1
"Boleh, setelah acara ini anak anak juga mau ke Rumah Dunia, saya tunggu ya kedatangan kalian," kata mas Gong tersenyum.
Lalu pria gondrong itu dan istrinya pamit pulang. Ana hanya menatap keduanya dengan hati membuncah ingin sekali tahu tentang Rumah Dunia, ia penasaran sekali bentuk Rumah Dunia itu bagaiamana, sampai Gol A Gong dan istrinya membuat Rumah Dunia itu.*