Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 77


__ADS_3

Aneh! Saat ibu Elis mengerjakan menyetempel beberapa buku yang menarik perhatian Ana ketika ibu Elis menyetempel halaman 17 atau halaman 25 setiap buku yang halaman nya 17 dikasih stempel biarpun beda buku juga. 


"Bu, boleh tanya?" Tanya Ana yang tadi memperhatikan wanita itu. 


"Tanya apa? Beloh kok," ujar ibu Elis kemudian. 


"Itu ibu kok kasih stempel dihalaman yang sama, ini kan beda buku?" Tanya Ana heran mengambil dan menunjukan buku yang setelah di stempel sama ibu Elis.


"Oh! Itu," senyum ibu Elis tersenyum. 


Wanita itu langsung mengajak Ana ke kursi yang lain. Ana langsung mengambil dua buku yang berbeda, dan langsung menunjuk pada ibu Elis.


Ibu Elis melihat stempel yang telah ia bubuhi di halaman 17 di setiap halaman buku. 


"Ini rahasia kode perpustakaan," kata ibu Elis. 


"Kode perpustakaan apa maksudnya?"


"Ciri kalau buku ini punya perpustakaan SMU Panimbang, dsn ibu kasih kode di halaman 17 itu tanda rahasia dari perpustakaan," jelas ibu Elis. 


"Jadi kode rahasia itu hanya perpustakaan itu sendiri yang tahu, misal Ana punya perpustakaan Ana bisa bubuhi salah satu halaman buku untuk jadi kode rahasia," lanjut ibu Elis. 


( Yupz apa yang beliau katakan pada saya dulu memang benar setiap perpustakaan memiliki kode / stempel dibagian halaman tertentu supaya perpustakaan tahu kalau buku itu punya mereka, dan saya juga melakukan di TBM Pustaka Cakrawala NKS maupun perpustakaan SMP Negeri 1 Angsana, ya kerena saya juga pustakawan😊🙏 ). 


"Intinya biar buku ini nggak hilang, kalau disobek misalkan kita tahu kalau buku itu punya perpustakaan," 


Perbincangangan Ana dan ibu Elis semakin seru saja, secara diam diam ia menyukai pekerjaan yang ibu Elis lakukan di perpustakaan, ditambah lagi memang Ana dari kecil suka sama buku, ia juga memiliki buku tapi tidak bisa mengolahnya. Tapi biarpun ibu Elis menjelaskan tentang perpustakaan Ana masih belum terketuk menggolah buku sendiri, tapi ia hanya menulis nama buku bukunya di buku inventaris. 


( Alhamdulillah saya sejak kecil sampai sekarang suka baca dan mengkoleksi buku bacaan tapi waktu SMP, SMA belum pernah berpikir cara pengolahan bahan pustaka dan administrasi perpustakaan, tapi saat saya kuliah di DII perpustakaan baru  beraksi😂😂 itupun saya beraksi di perpustakaan SMP negeri 1 Angsana pada tahun 2015, kerena pada tahun 2013 lulus kuliah saya punya bayi jadi tidak fokus mengurus TBM Pustaka Cakrawala NKS ). 


Setelah pembicaraan tentang perpustakaan Ana tidak mengingat apanyang kepernah ia bicarakan dengan ibu Elis, jadi pembicaraan itu hanya dianggap angin lalu saja sama Ana tidak ada kesan apapun. 

__ADS_1


( Saya baru merasakan kalau pembicaraan itu berharga saat saya sudah menjadi pustakawan, jadi memory dengan ibu Elis masih terekam dengan jelas saat beliau menjelaskan perpustakaan, intinya saya ingin sharing dengan ibu Elis😊. Tapi kerena kesibukan masing masing saya tidak bisa mengunjungi beliau. 


Sebenarnya banyak yang saya tanyakan ke beliau, kenapa beliau tau tentang desimal dewey cllasifcation sedangkan beliau serjana agama Islam? Waktu itu saya masih unyu unyu banget, dan tidak tahu menahu tentang desimal dewey cllasifcation, baru tahu di kuliahan😊🙏 ). 


🐝


Buku yang baru datang tidak semuanya ibu Elis kerjakan, tapi keesokan harinya, ibu Elis langsung mengerjakan dengan telatennya. Disampingnya Ana yang melihat, banyak pertanyaan yang belum terlontarkan oleh gadis 16 tahun itu. 


Ana melirik angka angka yang tidak diketahui oleh dirinya. Angka angka itu; 


000,100, 200, 300, 400, 500, 600, 700, 800, dan 900. 


Tanpa ada tulisan dibelakangnya, membuat hati Ana berkerut memandangi nya. Ibu Elis hanya fokus pada apanyabg ia kerjakan tidak menyadari kalau ada gadis yang disampingnya masih bertanya tanya dalam hatinya..


Mungkin yang dipikirkan ibu Elis, Ana pasti tahu kerena ia melihat Ana rajin baca. Tapi kenyataan nya benar benar ia tidak tahu sama  sekali pada angka angka yang tidak pernah ia ketahui untuk apa angka angka itu dan kegunaannya. 


"Na, kantin yuk!" Tiba tiba Yayuk mengajak Ana ke kantin. 


'Kalau Ana pergi nggak bakal tahu kelanjutannya nih!" Bisik hati Ana dalam hati. 


Jadi ia menolak ajakan Yayuk buat ke kantin kerena takut ketingalan informasi yang sedang ibu Elis kerjakan kerena memang ia pendaran sekali pada huruf huruf itu. Yayuk langsung pergi ke kantin kerena Ana menolak diajak olehnya. Yayuk tidak tahu kalau Ana lagi memperhatikan ibu Elis. 


( Jujur kalau ingat kejadian itu saya hanya menarik nafas panjang kerena kalau dari dulu saya menanyakan semuanya pada beliau mungkin saya tidak bertanya tanya dan satu sisi lain saya menyesal tidak menanyakan pada beliau. Kalau saja waktu bisa berputar kembali, jujur saya ingin sekali menanyakannya. Kangen masa masa berdiri disamping beliau yang sedang mengerjakan menyetempel buku buku yang baru datang. Kalau sekarang mungkin saya bantuin beliau😊🙏 ).


Misal. 


"Bu ini angka angka ini buat apa, kegunaan ya apa untuk perpustakaan," 


Pasti beliau jawabnya. 


"Ini nomor 10 kelas utama." Kata ibu Elis menunjukan nomor nomor itu pada saya. 

__ADS_1


Tapi kenyataan nya tidak begitu ). 


Bel masuk kelas berbunyi dengan kerasnya memanggil para siswa dan siswi masuk ke kelas. Ana dengan malasnya meninggalkan perpustakaan biarpun hatinya masih ada di perpustakaan. Tapi ini pelajaran ibu Elis otomatis ia harus masuk kelas untuk belajar di kelas. 


🐝


Setelah pulang sekolah, Ana melupakan apa yang ada di sekolah lebih fokus menulis di kamarnya, lupa bagaimana ia penasarannya pada apa yang ibu Elis lakukan, ia hanya sekarang tekun bikin cerpen di bukunya. 


"Na, makan!" Teriak ibu Tri sambil melihat kamar Ana hanya mengunakan gorden saja. 


"Iya nanti juga makan Bu," ujar Ana cuek. 


Ia kadang tidak mau sama sekali diganggu oleh ibunya biaroun hanya makan saja. Wanita yang telah melahirkan Ana terdengar uring uringan kerena Ana tidak langsung menuruti perintahnya untuk makan, kerena ia takutnya kalau putri pertamanya sakit itu alasan terkuat dari seorang ibu. Tapi menurut Ana perintah makan itu adalah siksaan yang luar biasa Kerena harus makan tepat waktu. 


Mendengar istrinya uring uringan pada anaknya, pak Mamat yang mendengarkan langsung mendatangi Ana. Ia melihat putrinya sedang menulis di meja tulis, ia menghampiri Ana sambil duduk di samping Ana. 


"Temani bapak makan," Ajak pak Mamat lembut pada anaknya. 


Ana hanya menghela nafas kasar, tapi akhirnya ia mengikuti bapaknya di belakang. Melihat putrinya ada di belakang suaminya ia tersenyum bahagia sekali keren Ana mau makan masakannya. 


Dengan antusias nya ibu Tri menyendokkan nasi di piring suami dan putrinya, sedangkan adik adik anak yaitu Ita, Bhakti dan Yuliet sedang main ke rumah teman temannya. Kalau Ana memang sepulang sekolah langsung masuk kamar dan anteng di kamar. 


"Kamu itu makan yang banyak, masa badan kamu lurus banget!" Sembur ibu Tri pada Ana. 


"Bu, Ana nggak mau gendut!" Ujar Ana cemberut. 


"Kaya kurang makan," ketus ibunya. 


Awalnya Ana mau bicara lagi tapi pak Mamat dengan cepat langsung memukul piring dengan sendok yang di pegangannya. Akhirnya Ana langsung diam termasuk ibunya. 


( Eh nggak tahunya lulus SMU malah gendut 🤦🤦🤦😂😂😂 nasib )*

__ADS_1


__ADS_2