Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 63


__ADS_3

Bukan hanya Yayuk dan yang lain yang gemetar atas ulangan lisan, Ana lebih gemetar lagi, apalagi ini ulangan pertama kali dalam hidupnya. Ia berusaha untuk menenangkan hatinya yang berdetak dengan kerasnya.


Hanya beberapa orang yang melewati pertanyaan lisan yang diberikan oleh ibu Ratih dan bagian Ana sekarang. Gadis itu benar benar pucat sekali, tanganya dingin keren aja benar benar takut kalau tidak menjawabnya. Apalagi ia sama sekali tidak pernah masuk dari mulai masuk kelas 2, ia sama sekali tidak pernah mengikuti pelajaran ini Ratih tapi sekarang malah ujug ujug ulangan harian yang harus di lakukan olehnya.


Dengan hati sangat berdebar, ia berusaha tenang saat bokongnya duduk di kursi yang berhadapan dengan ibu Ratih. Wanita itu menatap Ana dengan tajam, membuat gadis itu menunduk kerena khawatir, cemas, takut, dan malu pada ibu Ratih kerena ia salah telah mengerjai ibu Ratih.


Setalah duduk, Ana hanya diam saja. Hanya meja yang memisahkan mereka. Ibu Ratih tanpa menunggu lagi ia menyebutkan lima pertanyaan lada Ana. ia harus menyebutkan pertanyaan dari persatu dan waktunya dijatah oleh ibu Ratih sendiri, itu yang membuat hatinya berdebar dengan keras dan tidak mau berhenti.


Setelah ibu Ratih menyampaikan lima pertanyaan pada Ana yang harus dijawab secara terperinci olehnya. Tiba tiba pertanyaan yang ditanyakan ibu ratih tiba tiba muncul seperti memory yang muncul begitu saja bagaikan slide film. Tiba tiba ia mengingat semua pelajaran ekonomi saat ia merangkum. Ya biarpun tidak semua di tulis olehnya tapi rangkuman itu ia baca dengan teliti.


Akhirnya An menjawab satu persatu dari ulangan yang diberikan ini Ratih dengan gampang dan mudah sekali dilakukan sampai ibu Ratih mengelangkan kepala melihat gadis itu bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan olehnya.


Hanya 15 menit waktu yang diberikan oleh ibu Ratih buat satu siswa, tapi Ana hanya mengunakan waktu sekitar 8 menit untuk 5 pertanyaan yang diberikan oleh ibu Ratih, setelah kegiatan ulangan lisan ia malah asyik dengan perintah ini Ratih dengan merangkum buku buku pelajaran.


( Saya malah keasyikan sendiri setiap ada buku apa saja akhirnya saya rangkum yang penting dibaca saja kalau ditulis kembali ke buku tulis, akhirnya kegiatan merangkum itu menjadi kebiasaan yang sangat menyenangkan. Biarpun menyontek juga tidak pusing mencari jawabnya. Sebenarnya yang pusing itu kerena orang yang tidak pernah membaca buku dan mengunakan secara instan yaitu mencontek itu tambah pusing ).


"Na dapat nilai berapa?" tanya Yayuk.


Ana hanya mengangkat bahu saja, ia tidak ingin teman teman ya tahu kalau ia mendapat nilai A dari ibu Ratih. Masalah teman temannya pasti tudks bakal percaya kalau dikasih tahu juga masalahnya Ana tidak pernah terlihat mau belajar apalagi kalau pelajaran ibu Ratih.


"Pasti diulang ya?" tanya Yayuk lagi..


"Entahlah!" seru Ana mengangkat kedua tangannya ✌️.

__ADS_1


Gadis itu langsung meninggalakan Yayuk yang masih penasaran dengan nilai gadis berkacamata itu. Melihat Ana menjauh, ia hanya menghela nafas panjang. Sebenarnya Yayuk ingin mengorek keterangan dari dirinya Ana tentang soal yang diberikan ibu Ratih pada Ana tapi gadis itu malah pergi..


Yayuk sebenarnya ingin tahu apa yang dipertanyakan ibu Ratih, ia takut kalau pertanyaan yang diajukan ini Ratih sama dengan apa yang ditanyakan pada Ana jadi ia bisa mencari jawabannya..


Yayuk tidak tahu sebenarnya pertanyaan antara satu murid berbeda satu sama lainnya. Jadi, setiap lima siswa/siswi pertanyaan sama sedangkan lima lainnya beda dengan pertanyaan yang awal.


🐝


Di perpustakaan.



Mata Ana menatap guntingan karton yang berukuran entah berapa, yang ada di meja yang dipakai ibu Elis. Karton karton itu digunting dengan ukuran yang sama. Hati gadis itu sebenarnya pendaran dengan guntingan karton yang ada di meja ibu Elis, tapi mau menyakan juga ia masih ragu.


Biarpun pendaran Ana hanya melihat ibu Elis yang sedang menggunting beberapa karton, yang warnanya berbeda beda. Ia hanya bisa melihat saja biarpun hatinya bertanya juga. Ana juga melihat Katong buku yang ditempelkan ke jilid buku yang ada di belakang.


Biarpun penasaran tapi Ana malah melanjutkan menulis cerpen di ruangan perpustakaan, ya ia mengunakan ruangan itu untuk beraktifitas menulis. Ia lebih nyaman saja berada di perpustakaan apalagi perpustakaan jarang ada orang yang berkunjung. Jadi banyak waktu yang tidak pernah ia sia siakan kalau berada di perpustakaan.


"Alah, Na jangan sok aktif aja." Rani datang dengan tatapan sinis.


Ana sama sekali tidak melirik pada Rani, menoleh juga. Melihat itu Rani merasa disepelekan oleh Ana kerena gadis yang di usik nya malah tidak bergeming sam sekali..


Memang kalau Ana betah pasti tidak pernah memperdulikan keadaan yang ada di sekitar nya.

__ADS_1


BRAK!


Rani memukul meja yang dipakai Ana sampai gadis itu menatap wajah Rani, ia merasa terganggu cara Rani yang seperti itu.


"Ran, apa sih!" seru Ana tidak suka..


"Nggak apa apa sih! Memangnya nggak cape ya menulis terus?"


"Nggak tuh! Memangnya merugikan kamu ya Ran?" tanya Ana menatap wajah Rani tajam..


Ana setelah itu langsung meninggalakan Rani, kerena bukan tidak menghargai Rani tapi ia juga butuh privasi apalagi menulis cerpen untuk menyelesaikannya.


Rani hanya menatap kepergian Ana dengan tatapan heran, ya ia heran pada Ana yang tidak merasa lelah untuk menulis cerpen dsn puisi. Akhirnya setelah Ana pergi ia juga meninggalkan perpustakaan, pikiran Rani hanya tertuju pada Ana.


Sedangkan pikiran Ana masih berpikir tentang karton yang di gunting oleh ibu Elis..


'Memang karton itu untuk apa ya? Kegunaannya apa?'


Pertanyaan demi pertanyaan hanya disimpan dihatinya kerena ia ingin menanyakan kemana, Ana hanya tahunya kalau ibu Elis itu guru agama Islam tapi bisa mengerjakan pekerjaan yang berhubungan dengan perpustakaan.


( Saya tahu waktu dulu perpustakaan hanya merapihkan buku saja, tapi ibu Elis pada tahun 2001 telah memberikan sticker pada punggung buku, serta katalog, slip kartu pinjam dll. Dan saya jujur sakit sama beliau kerena bisa menguasai ilmu perpustakaan sedangkan saya masih SMU ).


Ana betah si perpustakaan. kerena sering melihat aktifitas ibu Elis mengerjakan apanyang ia kerjakan di perpustakaan ya biarpun ia tidak mengerjakan tugas ibu Elis tapi ia suka melihat ibu Elis mengunakan kertas kertas itu untuk buku yang ada di perpustakaan.

__ADS_1


__ADS_2