Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 9


__ADS_3


Buku kak Ibnu Adam Aviciena. Alhamdulillah didapat waktu setelah masuk Rumah Dunia😊


****


Gadis itu hanya bisa meratapi nasib tinggal jauh dari perkotaan, sebenarnya ingin rasanya tinggal di kota metropolitan seperti Jakarta, tapi apa daya Ana tudks bisa melakukan apa pun juga kecuali menjual hasil tanamannya. Tapi untuk koran yang isinya tentang perjalanan seorang Ibnu telah disimpan di kamarnya.


Ia beberapa kali membaca kalau Ibnu seorang lelaki yang berhasil menjadi penulis atas asuhan dan bimbingan Gol A Gong. Ana hanya bisa menghela nafas panjang, melihat semangat Ibnu seorang anak kampung yang jauh dari perkotaan bisa menulis sebuah novel di terbitkan oleh Hikmah.


Bukan itu saja Ana juga ingin sekali ikut FLP Cabang Pamulang Jakarta Barat. Pengen sharing tentang dunia penulisan, tentang penerbitan atau tentang literasi. Tapi Ana kadang pesimis sekali kalau ia tidak bisa kembali ke kota.


Ya biarpun gadis itu lahir di kota Yogyakarta tapi ia dibesarkan di sebuah perkampungan yang jauh dari sebuah kota kabupaten.


"Pak, Ana mau ketemu Gol A Gong," lirih Ana waktu di teras rumah.


"Na, bukan bapak nggak ingin Ana ketemu Gol A Gong tapi ini yang ditanyakan bapak alamat Gol A Gong dimana? Kalau Ana tahu alamatnya bapak siap mengantarkan Ana ke sana dan menitipkan ke Gol A Gong!" tekan bapaknya menatap Ana.


Gadis berambut lurus itu hanya diam saja, mendengar apa yang diucapkan oleh pak Mamat. Mendengar alasan itu Ana hanya diam saja kerena tudkammungkin kaku Ana dan bapaknya pergi ke tempat yang dituju tidak ada alamat yang dipengang.


"Na, di kota itu kejam. Tetangga rumah juga nggak di kenal nggak kaya disini," suara bapak lembut.


Ana hanya menghela nafas panjang mendengar apa yang dibicarakan oleh pak Mamat bapaknya. Ana merasa buntu sekali untuk mengejar cita citanya, ia ingin melepaskan begitu saja tapi tudks bisa sama sekali, kerena banyak waktu luang yang di jalani oleh Ana sendiri.

__ADS_1


Ya Ana hanya mengerjakan tanaman saja dihalaman rumah, hasilnya di jual ke pasar Perdana sebuah perkampungan yang tidak jauh dari kampung Ana sendiri. Ya daripada mengingat Rumah Dunia dan FLP Pamulang hatinya terasa sakit, kerena ia tidak bisa mencapai dengan tanganya sendiri.


Di dalam hati Ana, kalau sampai ia ikut Rumah Dunia maupun FLP Pamulang insha Allah ia bakal berhasil untuk menulis cerpen, puisi maupun novel. Tapi itu hanya mimpi yang harus ia kubur dalam dalam, kerena mustahil seorang Ana gadis desa yang jauh dari keramaian kota bakal sejajar dengan anak kota yang full fasilitas.


"Na, tahun 2004 lebih baik kuliah di pertanian aja, itukan cita cita Ana dulu, gapai lah Na cita cita Ana." kata ibu di ruangan tv.


"Iya mbak lebih baik kuliah di pertanian aja, kan nggak jadi guru?" kata Bhakti menatap wajah mbaknya.


"Tuh, di dukung sama adiknya," ujar bapak sambil mendekati Ana.


"Kalau kuliah di pertanian harus dimana?" Hela Ana pasrah.


Sejujurnya malas banget bicara masalah kuliah ya masih untung kuliahnya mengikuti hatinya sendiri, kebanyakan beda pendapat saja.


"Di Untirta juga ada kok, jurusan pertanian." sambut bapak gembira.


Sejujurnya kalau ia kuliah di pertanian ia takut kalau tidak ada waktu luang lagi untuk menulis, apalagi menulis sudah dari dulu ia sukai. Biakan menulis saja yang Ana suka, ia juga suka baca buku di waktu luang.


"Ya lanjut atuh! Menulis dan pertanian bisa saja." cicit Bhakti gemas pada mbaknya yang terlihat sangat ketakutan kalau meninggalkan dunia menulisnya.


Gadis yang dipanggil mbak oleh seorang anak laki laki hanya mengangguk angguk saja. Tapi anehnya hatinya malah terselip keraguan kalau ia mengejar kuliah di pertanian, takutnya tidak ada waktu lagi untuk menulis.


Belum apa apa sudah membanyangkan kalau ia kuliah di pertanian, nantikan terjunnya ke sawah terus menulisnya bagaiamana itu yang dipikirkan oleh gadis berkaca mata sejak kecil.

__ADS_1


"Ya udah kaku Ana pengen kuliah nanti bapak daftarkan kelas karyawan aja ya." kata bapak sambil memegang kedua bahu Ana.


Ana hanya menggaruk kepala tidak gatal saja mendengar bapak berkata seperti itu, ia masih blank untuk kuliah.


"Ya udah tahun 2004 nanti kuliah." ucap Ana pasrah.


Ia sudah mentok sebenarnya mengatakan itu, kalau misal ia bisa kuliah di tahun depan pasti ia bakal hidup di kota yang penuh dengan fasilitas, apalagi kalau kuliah di Serang. Ia janji bakal menyelusuri Rumah Dunia yang selama ini ia inginkan serta bisa gabung di FLP Pamulang.


( Saya menyangka kalau jarak Rumah Dunia dan FLP Pamulang itu dekat banget nggak tahunya 😂😂😂, tidak tahunya FLP Pamulang dan Rumah Dunia kalau ditempuh 1 jam perjalanan🤦 ).


Tapi rencana kuliah lada tahun 2004 gagal kerena pak Mamat mendengar berita kalau nanti pada tahun 2004 ada pembukaan CPNS besar besaran yang mengangkat anak yang lulusan SMU sederajat. Persyaratan PNS waktu itu di siarkan di TV, pak Mamat yang mendengarnya langsung antusias sekali mendengarnya. Kerena ia ingin sekali melihat Ana putrinya bisa masuk ke CPNS pada tahu 2004 dengan syarat harus ada SK ( Surat Keputusan ) Kepala sekolah. Dan pada saat itu bapaknya Ana adalah kepala SDN Kramat Manik 2, dan propinsi Banten membutuhkan 100.000 orang untuk diangkat PNS.


Sebagai orang tua yang baik dan tidak ingin mengecewakan anaknya, pak Mamat dengan semangat 45 langsung mendatangi putrinya yang berada di kamarnya, sang putri anteng dengan buku yang dibaca.


Pak Mamat duduk di samping Ana, gadis yang tahu bapaknya duduk langsung menghentikan aktifitas membacanya menatap wajah sang bapak dengan tajamnya.


"Na, lebih baik daftar CPNS. Tahun 2004 Banten membutuhkan 100.000 orang PNS dan bapak mengharapakan Ana sebagai salah satu CPNS yang lolos jadi PNS." suara lembut bapaknya terdengar.


Ana yang belum sepenuhnya sadar atas apa yang bapaknya katakan hanya diam sejenak, ia hanya dengan jelas mendengar CPNS yang diucapkan bapaknya. Kata kata CPNS dsn PNS membuat otaknya blank sejenak kerena menurutnya CPNS itu identik dengan seorang pendidik atau guru yang mengajar anak anak kecil dengan berbagai karakter.


"Pak, Ana nggak mau jadi guru!" sembur Ana spontan.


"Na, Ana lebih baik masuk saja. Mau diterima mau nggak jadi PNS yang penting daftar dulu!" bujuk bapak.

__ADS_1


"Nggak Ana nggak mau jadi PNS. PNS itu guru pekerjaan guru!" teriak Ana sambil beranjak dari duduk dan buku yang di pengang nya langsung di lemparkan begitu saja.


Pak Mamat yang melihat Ana seperti itu langsung mengejar putrinya, dengan cepat ia memeluk tubuh putrinya dari belakang. Ana berontak tapi tidak bisa pelukan bapaknya makin erat sekali.*


__ADS_2