Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 26


__ADS_3

Bola mata Najwa terbelalak mendengar penuturan pak Mamat yang menceritakan keinginan An untuk ikut lomba Tralis dan terlihat mata Najwa penuh haru mendengar kaku An pergi ke tralis itu diantar oleh seorang bapak seperti pak Mamat.


"Masya Allah, subhanallah nggak nyangka saya nggak menyangka bertemu Ana yang penuh semangat. Pak, saya baru menemukan ada orang tua yang mengantarkan anaknya untuk kegiatan ini, salah satu Ana dan Wanja." haru Najwa sambil mengusut cairan bening yang hampir jatuh di pipinya.


Najwa langsung memanggil seorang gadis yang tidak jauh dari dirinya, wajah gadis bernama Wanja itu seperti wajah Arab, Masya Allah cantik banget.


Setelah semuanya diskusi selesai pak Mamat meninggalakan Ana yang begitu enggan di tinggalkan oleh bapak, tapi bagaimanapun Ana harus berbuat dengan teman teman yang lain.


Acara demi acara di lalui oleh Ana dengan hati senang dan gembira sekali, apalagi acara itu banyak menerangkan cara penulisan cerpen yang baik. Cerpen Ana pertama kali diberikan kepada Najwa, dan ia memberikan kritikan yang halus dan membangun.


"Ukhti Ana," panggil Najwa lembut.


Ana menatap Najwa tajam. Tapi ia hanya mengangguk menghampiri Najwa biarpun hatinya bertanya tanya masalah nama ukhti, nama ukhti bagi Ana sangatlah asing. Apa ada makanan sejenis ukhti itu? Nama nama asing itu terus ada dibenaknya.


Setelah Ana duduk disamping Najwa. Gadis berkerudung itu menatap lembut wajah Ana.


"Ukhti, cerpen ukhti bagus menurut saya ya, tapi yang lebih bagusnya lagi kasih diskripsi nya bukan dialog saja," suara Najwa yang lembut menyentuh hati Ana.


Ya ia menjelaskan tentang pembuatan cerpen yang Ana buat. kerena cerpen yang ia buat lebih banyak dialog nya dibandingkan deskripsi. Setalah memberikan arahan pada Ana, Najwa langsung menyuruh Ana mengubah cerpennya untuk ditulis ulang besok.


Setelah semua cerpen cerpen di hujat dan diberi arahan acaranya Oun selesai tapi sebelum bubar Najwa memberikan brosur pada Ana.


"Menulis bersama penulis Bersimpuh PadaMu, di Carita Labuan!" ujar Ana.


"Iya acaranya besok, kalau ukhti mau ikut, ukhti pagi jam 06.00 kumpul dari sini."

__ADS_1


"Ana ikut, teh." ujar Ana.


Gadis itu menyebut teteh pada Najwa ( teteh panggilan pada orang yang lebih tua, itu bukan sejenis kue ya 😂🤦 ).


Pak Mamat yang awalnya hanya mengantarkan Ana ke Serang, tidak jadi pulang ia khawatir meninggalkan Ana di Serang. Jadi pas acara selesai laki laki setengah baya itu langsung menghampiri Ana untuk mengajak pulang.


"Pak, Ana pengen ikut Menulis di Carita sama penulis ini," Rajuk Ana..


Gadis itu menunjukan brosur yang dipengang ya. Pak Mamat lanhsung membaca brosur itu.


"Ini acaranya besok?" tanya pak Mamat mennayakan pada Najwa tentang acara besok.


Najwa menerangkan kalau acara ini memang acara terpisah dengan tralis tapi ada hubungan kuat dengan acara yang di gelarnya. Akhirnya bapak setuju setelah Najwa menjelaskan secara terperinci tentang menulis dengan penulis kondang itu. Ana pendaran sekali dengan penulis itu, di brosur itu tidak ada nama nya hanya ada gambarnya. Seorang laki laki ya kita kira 40 tahunan yang wajahnya begitu asing bagi Ana.


Sore itu Ana pulang ke rumah bude ( kakak sepupunya ibu ) tinggal di Ciruas permai. Keren kalau pulang ke Ranca Jaya nanti takut ketinggalan.


Paginya Ana langsung IAIN kerena bakal ikut writing champ di Carita Labuan. Ana ke kampus itu bersama Pakde nya yang mengantarkan Ana, sedangkan pak Mamat bapaknya An.setelah mengantarkan anaknya ke Taman Ciruas ia pulang lagi ke rumah.


Pak Mamat hanya menitipkan Ana pada Pakde nya saja. Dari IAIN Ana ketemu dengan Najwa, Wanja dan Desty ketiganya langsung menuju Patung. Dengan bus menuju Carita rombongan yang akan ikut kegiatan menulis, ya biarpun hati gadis itu masih bertanya tanya kegiatan apa yang bakal dilakukannya.


"Teh!" panggil Ana mendekati Najwa.


Najwa menatap Ana."Teh, boleh tahu kenapa cewek dan cowok tidak boleh berpegangan tangan?" kata Ana polos.


Wanita cantik itu menatap heran kearah Ana, gadis yang bernama aslinya Nunung Hasanah hanya diam saja tidak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan Ana. Ditatap lembut gadis yang ada dihadapannya, ia tidak menyangka ada gadis yang menyakan itu padanya.

__ADS_1


"Memang nggak boleh ukhti.


Dari Abu menceritakan padaku Ma'qil bin Yassar diriwayatkan ia berkata kalau Rasulullah bersabda,"ditusuknya seseorang dengan pasak dari lebih baik sungguh itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahram ( HR Thabrani dalam almu'jam Al Kabir )."


Gadis asal Ci geulis itu langsung menjelaskan tentang hadits yang bersangkutan. Mendengar itu Ana menghela nafas ingat Anton, kalau saja cowok itu menjelaskan seperti Najwa mungkin ia tidak mungkin penasaran apa yang dimaksudkan oleh Anton.


"Teh, kok teteh manggil Ana dengan sebutan ukhti? Ukhti itu apa?" tanya gadis itu benar benar polos banget.


Najwa hanya tersenyum manis saat Ana menanyakan tentang nam ukhti, ia benar benar melihat Ana dengan lucu sekali.


"Ukhti / Akhi itu saudara perempuan / laki laki Se agama, Ana." jelas Najwa.


Akhirnya An bukan hanya belajar menulis saja dari sosok Najwa Fadia, gadis yang sekarang kuliah di IAIN Serang. Melihat semangat Najwa yang antuasias pada kemajuan desanya membuat Ana juga memiliki rasa yang sama.


Apalagi saat Najwa menceritakan perjalanan seorang gadis asal Palembang yaitu Wanja yang rela meninggalkan bangku kuliahnya demi mendalami ilmu menulisnya. Ia mendengar kabar kalau di Serang Banten ada satu komunitas menulis terkenal seperti Rumah Dunia. Wanja meninggalakan bangku kuliah selama 1,5 tahun lamanya. Subhanallah.


Sedangkan Ana. Untungnya ia benar benar tidak kuliah sama sekali, kalau misal ia kuliah tidak tahu nasibnya bagaimana? Dan pak Mamat juga tidak mungkin mengizinkan Ana untuk ikut Tralis kalau posisi putrinya masih kuliah.


Mendengar kisah Wanja yang benar benar meninggalakan bangku kuliah ia hanya bisa terharu atas semangat Wanja yang benar benar ingin belajar dengan baik dan fokus pada apa yang Wanja inginkan. Kedua sosok itulah yang Ana contoh dari Wanja dan Najwa.


Di Carita Labuan.


Jam 08.00 semua orang yang hadir menatap satu sosok laki laki gondrong dengan tangan kiri yang buntung berjalan dengan pandangan mata bagaikan elang. Ana gadis berkacamata hanya menatap tidak berkedip sama sekali melihat laki laki gondrong dengan perut buncitnya.


"Kita sharing disini ya, dan saya ingin tahu nama kalian yang ikut writing champ, dan apa kalian pernah mendengar tentang Rumah Dunia." suara yang jernih dan halus keluar dari mulut orang itu.

__ADS_1


Malam itu hanya bincang bincang ringan saja, mereka.mengenalkan diri masing masing dari nama, asal, tinggal dan mengenal Rumah Dunia di mana?


__ADS_2