
Rumah Dunia; Rumahku, ku bangun dengan kata kata ditujukan pada anak dan remaja serta pemuda belajar banyak hal.
Setelah selesai acara writing champ semua yang ikut acara itu langsung naik mobil kecil langsung menuju Rumah Dunia.
Ana yang harusnya hari itu pulang ke arah Panimbang malah ikut lagi ke Serang, mobil yang ditumpangi oleh Ana serta peserta Tralis dan writing champ kembali lagi ke Serang jalan Anyer Cilegon. Kalau Ana niatan pulang ke Panimbang sebenarnya bisa dari Carita ke Tarogong dan langsung ke Panimbang tapi ia tudks melakukan itu sama sekali.
Rasa penasaran terhadap Rumah Dunia menuntun dirinya untuk mendatangi Rumah Dunia, ya siang habis Dzuhur baru sampai ke Rumah Dunia, ia begitu takjub banget pada Rumah Dunia yang membuat ia begitu nyaman sekali.
Lingkungan yang asri, bersih membuat matanya terbelalak seketika melihat susunan buku buku yang tersusun rapi dan bersih. semua ruangan disana banyak sekali buku bukunya.
"Na, kalau kamu mau ikut lebih baik ikut aja, kelas menulis angkatan 6 acara nya tanggal 06 Juli jam 13.30 di sini pada hari Minggu." kata Najwa padaku.
"Memangnya belajar apa?" tanya Ana.
"Cerpen, puisi, jurnalistik, essay, opini, artikel dsn masih banyak lagi. Ayuk ikutan!' ajak Najwa.
"Memangnya disini acaranya apa saja sih! mulai ya jam berapa?" kejar Ana penasaran.
"Acaranya full dalam satu Minggunya; Senin acara nya menggambar, Selasa acara ya mewarnai, Rabu acaranya lakon, Kamis acaranya ekspresi, Jum'at acaranya dongeng, Sabtu, jumpa penulis/ bedah novel/ cerpen dsn khususnya hari Minggu kelas menulis.
Ana hanya mengangguk angguk mengerti atas penjelasan dari Najwa Fadia yang menerangkan tentang acara yang dilaksanakan di Rumah Dunia tiap harinya. Ada satu kekaguman mendengarnya.
__ADS_1
Bukan hanya Najwa Fadia dsn Wanja yang ia kenal baik, tapi ada juga Desty yang tinggal di Taman Ciruas permai blok F1, ada juga Nita Nurhayati yang tinggal di Ciruas blok G, sedangkan Ana di Ciruas blok k no 17.
Ketiganya tidak menyangka bisa satu perumahan di Ciruas Permai kalau disingkat TCP.
"Kak, memang Rumah Dunia dibangun pada tahun berapa?" tanya Ana ingin tahu..
Sebenarnya ia hanya ingin minta penjelasan, apa yang ia pernah baca dengan keterangan dari gadis Cigeulis itu.
"Dibangun oleh mas Gong dan mbak Tias pada tahun 2002." terang Najwa.
Waktu itu kedua gadis yang berbeda umur sedang duduk di aula hanya untuk istirahat melepas lelah kerena perjalanan antara Carita dan serang memang benar benar menguras tenaga dan pikirannya. Mereka istirahat sambil berbincang bincang tentang Rumah Dunia, memang kalau dibandingkan Ana, Najwa sudah lama mengenal Rumah Dunia dan baru gabung di ruang Dunia sebagai angkatan 1 kelas menulis.
Sedangkan kaku misal gadis yang ada dihadapannya ikut kelas menulis berarti tercatat sebagai kelas menulis angkatan ke 6, ya bukan depan Rumah Dunia merekrut anggota angkatan ke 6, untuk belajar cerpen, novel, puisi dll.
Mendengar penjelasan Najwa, Aan hanya diam saja. Hatinya bergetar sebenarnya pada tahun 2002 kemarin ia sudah tamat dari SMU dan belajar komputer di Pandeglang di tahun yang sama.
( Tapi kalau dipikir pikir kalau misal saya tahu DNS gabung di Rumah Dunia pada tahun 2002 ) kemungkinan besar saya tidak akan pernah kenal dengan kak Anton, dan itu juga tidak mungkin kerena kedatangan saya di FLP dan Rumah Dunia adalah jalannya dari Anton sendiri yang mengenalkan saya tentang Tralis ).
"Kenapa diam?"
"Pengen punya perpustakaan kaya Rumah Dunia tapi mengambil nama yang unik," kata Ana asal bicara pada Najwa..
"Bagus tuh, kalau di laksanakan. Rangkul anak anak dsn remaja untuk membaca, dan kembangkan minat baca," dukung Najwa..
__ADS_1
( Alhamdulilah apa yang saya katakan dulu, kini jadi kenyataan. Pustaka Cakrawala NKS itu Taman Baca Masyarakat yang saya dan suami saya bangun pada tahun 2017. Pustaka artinya buku, Cakrawala yaitu wawasan yang luas dan bisa mengetahui apapun dengan cakrawala, sedangkan NKS sendiri adalah gabungan nama anak saya, yaitu Nadzlyn Kurnia Setiawan. Jadi artinya Pustaka Cakrawala NKS adalah Buku adalah satu gerbang wawasan yang bakal menutut kesebuah tempat yang tidak pernah terjangkau ).
"Iya teh, masalahnya di Panimbang minat bacanya kelak banget," keluh Ana pada teh Najwa.
Hati Ana sebenarnya sangat terenyuh melihat anak anak maupun remaja sama sekali tidak pernah menumbuhkan minat baca. Ia berpikir kalau misal ia bisa menumbuhkan minat baca bakal menjadi kan anak anak yang punya wawasan tinggi.
"Atau bangun aja ranting FLP?" usul Najwa antusias.
"Teh nggak bakal mempan,adalah nya FLP kan lebih ke penulisan, Ana hanya ingin minat baca dulu masalahnya kerena dengan minat baca yang baik bakal melahirkan generasi yang cinta baca, dari mereka suka baca itu lah mereka bakal menemukan kembarannya." alasan Ana pada Najwa..
Wanita itu hanya menganguk anggukkan kepala mengerti kemana arah bicara Ana, yang baru kemarin ia temui. Gadis yang baru kemarin mengunakan kerudung juga menjelaskan kalau membangun ranting FLP itu bakal sudah apalagi minat baca anak dan remaja tidak pernah terkontrol sama sekali.
Ya apa yang di jelaskan olehnya, memang lingkungan rumah di sekitar Ana. Memang sangatlah memperihatinkan sekali apalagi dari segi membaca. Orang tua salah satu jembatan dari anak untuk membaca buku sejak dini.
"Terus rencana ukhti bagaimana?" Najwa menatap wajah Ana.
Ana tidak langsung menjawab pertanyaan Najwa ia diam beberapa saat kemudian,"Ana juga nggak tahu sih teh, rencana kedepannya juga, masalahnya untuk bangun perpustakaan harus punya tempat dulu, masalah buku sih punya buku buku Ana saja dulu. Tapi nama untuk perpustakaan itu apa ya?" tanya Ana seperti menanyakan pada Najwa tentang nama perpustakaan yang bakal dibangun.
Itu percakapan Ana Pertama kali dengan Najwa kerena Rumah Dunia, ya rumah Dunia tanpa sadar telah mengikat hati Ana untuk tetap berjalan di literasi.
'Ranting FLP?" tanya dalam hati Ana heran.
Ana lupa menanyakan masalah ranting FLP yang di maksud oleh Najwa gadis manis asal Cigeulis itu. Tapi keburu mereka pulang ke rumah masing masing eh bukan kalau Najwa pulang ke Ciceri kerena kost disana, sedangkan Ana pulang ke Taman Ciruas Permai bersama dua gadis yang dikenalnya.
__ADS_1
"Brengsek si Ana teu menanyakan?" rutin gadis itu sat sampai di rumah bude.
Sampai di rumah bude Ana langsung mandi membersihkan badan yang lengket keringat, ya sejak di Carita sampai pulang ke Ciruas tidak pernah buka kerudung sama sekali.*