
Pov Ana
Aku benar benar tidak menyangka kalau Rani yang sering membully aku kini malah jadi teman aku, ia selalu mendukung aku. Dan aku juga terkejut sih karya karya Rani menurut aku bagus sekali dan dalam hati kenapa harus Rani yang itu padaku? Anehkan!
Dan hatiku sangat terkejut dan tidak bisa berkata kata kembali, kenapa coba! tulisan Rani menghiasi majalah remaja yaitu ANEKA YES, sedangkan aku hanya masuk Gema Pandeglang itu juga entah kemana cerpen dan puisi tanganku tulis di Gema Pandeglang.
Aku benar benar tidak bisa percaya Masalah ini, seorang senior seperti Rani harus iri padaku, jujur aku hanya bisa menggelengkan kepala aku saja kerena seorang suhu harus iri pada orang seperti diriku. Tidak bisa dimengerti sama sekali.
Dan keputusan bapak yang membuat aku semakin dekat dengan Rani, disana aku menemukan Rani berbeda dengan teman teman yang lain, hanya ia menyembunyikan kreatifitas pada semua teman temannya termasuk diriku sendiri. Sejak kejadian itu! Aku dan Rani mulai akrab dan mulai membicarakan masalah kreasi dengan Rani.
Aku kira dengan Rani akrab denganku, itu akan membuat Mawar tidak bakal membully aku lagi kerna Rani sudah bersamaku. Jadi aku bakal aman. Tapi dugaanku sama sekali tidak terbukti. Mawar dan kedua temannya malah menjadi jadi padaku. Gubrak, deh!
Dan kejadian kemarin seperti mimpi saja, kalau Mawar bakal melakukan itu padaku, jujur aku nggak tahu apa yang direncanakan oleh Mawar dan teman temannya sampai mereka memusuhi aku seperti itu. Sedangkan aku sendiri tidak pernah membenci siapapun juga. Tapi kenapa aku harus dibenci oleh orang lain, ya dalam hatiku nggak adil semuanya.
Sebenarnya yang aku inginkan dari Mawar bukan memusuhi aku bukan, aku hanya ingin mawar dan yang lainnya mendukung aku, ya keberhasilan kreasi juga milik bersama.
Aku juga nggak pernah tahu kalau Rani melaporkan semua kelakukan Mawar pada bapak. Sedangkan aku yang ngasih usul supaya memanggil Mawar, ya memang bapak memangil Mawar tanpa aku ketahui sama sekali.
Aku nggak marah pada Rani, tidak hanya terlalu cepat otomatis aku yang jadi korban pukulan Mawar. Aku juga nggak tahu apa apa jadi waktu mawar menampar pipiku aku melonggo saja kerena sangat tiba tiba sekali. Hampir saja aku dan Mawar bertengkar gara gara laporan Rani. Tapi aku sadar Rani melakukan itu hanya ingin membuat mawar jera tapi kenyataannya tidak sama sekali.
Aku hanya bisa menarik nafas panjang saja, mengingat Mawar, tiba tiba aku ingat waktu kelas 1. Ya aku dan Mawar satu kelas, hanya duduknya beda saja. Aku duduk sama Melati sedangkan Mawar dengan siapa aku juga lupa lagi.
__ADS_1
( Bukan lupa tapi nggak kenal masalahnya yang duduk dengan Mawar kelas 1 caturwulan 2 malah pindah, jadi tidak begitu apal sih nama dan wajahnya ).
Senangnya aku pernah dekat dengan Mawar dan Melati, ya kami bertiga tapi pas kelas 2 malah entah kenapa Mawar seperti menjaga jarak denganku, aku juga heran sebenarnya. Apa masalah Melati, ya aku tiba tiba ingat kata kata Mawar waktu itu.
"Na, kamu tahu kenapa Melati berhenti?" Tanya Mawar menatap wajahku.
Aku hanya mengelangkan kepala waktu itu, seebnatnya aku sengaja mengelangkan kepal hanya untuk menutupi keadaan Melati yang sebenarnya, aku takut kalau Mawar bergosip membicarakan Melati.
"Seharusnya kamu tahu Melati itu kenapa berhenti secara kamu temannya?" Tanya Mawar mendesak.
"War, aku juga nggak tahu apa apa masalah itu maaf!" Hindar aku.
Aku langsung pergi meninggalkan Mawar, yang entah apa yang dipikirkan oleh gadis itu aku juga nggak tahu pasti. Dan sejak percakapan itu aku dan Mawar seperti ada jurang yang memisahkan. Mawar menghindar dsn malah akrab dengan Rani. Kalau dengan Rani aku memang tidak pernah satu kelas sama sekali, kecuali kelas 3 nantinya.
Aku juga tidak juga tidak menanyakan perubahan Mawar pada dia sendiri, aku hanya enjoy dengan dunia sendiri. Ya aku bahagia sekali di ruangan kreasi bukan itu saja aku bahagia di ruangan perpustakaan aku juga tudks bakal tahu apa yang bakal terjadi padaku di masa depan.
Aku hanya menepiskan kepala ku saja mengingat Mawar yang telah berhasil menampar pipiku lumayan sakitnya masih terasa panas sekali. Aku juga tidak pernah menduga kalau Mawar bakal melakukan itu padaku. Ya aku seperti mimpi buruk mendapatkan pipiku terasa sakit oleh tangan Mawar. Aku tidak mau bilang sama Rani, tapi Rani juga harus tahu kerena Mawar sudah keterlaluan sekali. Ya besok aku bakal mengatakan kalau Mawar telah melakukan anarkis padaku atau bisa saja ke pada pak Salwa biar ketiganya di hukum.
🐝
"Na, kenapa?" Sentuh Rani pada Ana yang melamun saja.
__ADS_1
Rani dari lagi melihat Ana hany Diam saja seperti memikirkan sesuatu yang berat, Rani langsung menghampiri Ana yang duduk dikursi, ia langsung menyentuh bahu Ana secara lembut. Ana yang merasakan sentuhan lembut di bahunya langsung melihat pada orang yang menyentuhnya. Setelah tahu kalau menyentuhnya Rani, ia hanya menghela nafas panjang.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Rani.
"Mawar!"
Mata Rani membulat saat tahu apa yang Ana ucapkan.
"Kenapa dengan anak itu?" Kejar Rani bertanya pada Ana.
"Dia menampar pipi Ana, Ran," adu Ana.
"Kok bisa?"
Akhirnya Ana menceritakan kejadian hari Selasa kemarin, waktu ia berjalan pulang tidak tahunya Mawar dan kedua temannya mencegat dirinya pulang. Tanpa ba bi bu lagi Mawar menampar pipinya dengan keras otomatis ia kaget dan heran kenapa sampai Mawar menampar muka dirinya dengan keras sekali.
Rani hanya mendengarkan apa yang diceritakan oleh Ana lada dirinya, ia otomatis kaget sekali waktu Ana menjelaskan kalau Mawar melakukan itu kerena ia tidak suka kalau Rani berteman dengan Ana. Dan Mawar juga tidak suka kalau pak Salwa memanggil dirinya ke ruang guru.
Rani tidak bergeming sesaat saat Ana menceritakan tentang Mawar, sebenarnya dalam hatinya Mawar telah terlalu pada Ana, ya memang yang memanggil Mawar itu dirinya, penggilan itu atas suruhan pak Salwa sendiri bukan keinginan dirinya. Mungkin kalau pak Salwa tidak menyuruh memanggil kemungkinan besar ia juga tidak mungkin menyampaikan pada Mawar sendiri.
"Ana nggak tahu sih apa yang ia inginkan, sedangkan ia sendiri yang bikin onar di ruang kreasi." Kesal Ana.
__ADS_1
Rani melihat wajah Ana terlihat kesal sekali. Ia hanya bisa mengelus tangan Ana, ya Ana tidak kesal bagaimana semua kerjaan dirinya yang berhubungan dengan dunia menulis sering dijadikan Bullyan sama orang lain, kadang ia hanya ingin membuktikan kalau ia mampu tapi harus bagaimana?*