Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 115


__ADS_3


Memory yang terindah saat bisa bantuin ibu Elis di ruangan perpustakaan. Indah, berkesan, dan kenangan itu tetap hadir didalam sanubari saya, kenangan itu muncul saat saya telah menjadi pustakawan di SMP negeri 1 Angsana. ( Maaf gambar nya sekolah yang sekarang, dulu tidak punya gambarnya sama sekali ).


🐝


Kelulusan SMU negeri 1 Panimbang ( sekarang SMA Negeri 9 Pandeglang ). Tidak dimeriahkan hanya aksi corat ceret saja, kegembiraan yang dilupakan dengan aktrasi yang tidak manfaat dilakukan tanpa ada izin guru dan wali kelas.


Begitu juga dengan Ana dan teman teman yang lain, kalau teman teman setelah corat coret langsung menuju pantai sedangkan Ana di jemput bapak ke sekolah mengunakan motor. Ana yang akan ikut ke pantai akhirnya tidak jadi, ia pulang ke rumah.


"Bapak nggak suka kalau Ana ikut kaya gituan, lebih baik bajunya di kasih ke orang bukan di kasih warna warni kaya gitu!" suara pak Mamat mengelegar terdengar oleh Ana dsn ibu Tri istrinya.


Sang istri yang tidak tahu apa apa langsung mendekati Ana dan suaminya, ia tertegun melihat baju Ana yang penuh dengan warna warni seperti itu, wanita itu hanya megekangkan kepala saja melihat sang putri melakukan itu pada bajunya.


Pak Mamat menatap wajah Ana dengan tajamnya, laki laki paruh baya itu hanya bisa mengelangkan kepala melihat baju putrinya tanpa bentuk lagi dan benar benar telah kotor oleh warna warna yang seharusnya tidak seperti itu.


Tapi pikiran gadia 18 belas tahun itu biasa saja, ya menurutnya wajar kalau anak remaja kalau lulus melakukan aksi corat-coret seperti itu, tapi ada juga teman temannya yang lolos dari aksi corat-coret kerena tidak sekolah waktu itu sedangkan Ana sekolah. Tapi untungnya ia mengunakan kerudung pas aksi corat-coret terjadi.


Teman teman yang lainnya semua dari ujung rambut sampai ujung kaki harus kena warna warna yang disemprotkan. Kalau bapak tidak menjemput kemungkina besar gadis berkacamata itu mengikuti ajakan teman temannya untuk merayakan kelulusan SMU.


"Perjalanan kamu masih panjang, kamu juga harusnya memberikan contoh yang baik buat adik adikmu jangan seperti ini," ujar ibu sambil menunjukan warna warna yang tidak karuan.


Ya Ana belum sempat ganti baju, kerena pulang sekolah langsung disidang oleh bapaknya sendiri, ditambah lagi oleh ibu Tri. membuat gadis 18 tahun itu hanya menunduk saja.


( Kalau sekarang iya sih buat apa aksi corat-coret, lebih baik baju yang kita punya dikasih ke orang lain dan itu bermanfaat daripada aksi corat-coret kerana setelah aksi corat-coret, baju tidak bisa dikasihkan atau dipakai sendiri. Penyesalan di masa lalu akan terasa saat saya sudah memahami nya. Bersyukur lada teman teman angkatan saya yang tidak ikut aksi corat-coret pada zaman dulu ).

__ADS_1


Setalah disidang Ana langsung Menganti bajunya dengan baju di rumah. ditatapnya baju itu, ya untuk saat ini ia merasa bangga kerena telah lulus dsn melakukan aksi corat-coret yang tidak pernah


dilakukan oleh beberapa temannya.


"Ana, sebenarnya corat-coret itu nggak ada manfaatnya apalagi Ana belum menerima surat kelulusan SMU, kalau Ana nggak lulus bagaiamana?" tanya ibu waktu Ana sudah saling baju.


"Beli lagi bajunya Bu," canda Ana pads ibunya sambil senyum.


"Enak saja, nanti di coret-coret lagi, seperti sekarang."


"Na, kamu punya adik yaitu Ita kenapa nggak dikasihkan ke Ita aja bajunya," lanjut Ibu menanyakan pada Ana.


"Sudah lah Bu, semuanya juga begitu." Kata Ana memelas.


"Ya Ana jangan ikut ikutan kaya teman teman yang lain, masa Ana ikut ikutan sih!' protes ibu.


Ana hanya menganguk angguk kan kepala nya saja mendengarkan ibu Tri bicara seperti itu, ya gadis berkacamata itu tidak berpikir kalau apa yang dibicarakan oleh ibunya benar apa adanya. Sedangkan dirinya memang belum menerima surat kelulusan apa pun juga, apalagi surat kelulusan itu diterima di rumah bukan di sekolah.


Ya pihak sekolah meminta alamat rumah masing masing dari siswa siswinya kalau surat kelulusan bakal di terima di rumah, dan surat itu belum diterima oleh Aan, tapi gadis itu sudah melakukan aksi corat-coret dengan teman temannya di sekolah.


"Na, kalau misal Ana nggak lulus bagaiamana?" tanya ibu Tri lembut.


"Entahlah, Bu." ujar Ana blank.


Ana hanya menunduk saja. Ya sekarang ia membayangkan kalau misal posisi dirinya tidak lulus bagaiamana? Baju sudah di beri warna warni sedangkan surat kelulusan belum diberikan. Ya Ana dan teman teman melakukan aksi corat-coret sebelum menerima tanda kelulusan dari sekolah itu yang ditakutkan oleh ini Tri cuma satu yaitu Ana tidak lulus.

__ADS_1


Ana hanya menghela nafas panjang mendengar petuah dsn nasehat ibu.


"Maaf kan Ana Bu."


"Jangan diulang!"


Ana hanya nyengir saja mendengar apa yang ibunya katakan jangan diulang, ya tidak bakalan diulang kerena ini kelulusan terakhir kali kerena memang Ana dsn teman teman lulus semuanya dari jumlah 63 tiga orang semuanya lulus.


Seharusnya kelas 3 ada 70 orang hanya beberapa orang berhenti ditengah jalan, ada yang menikah, ada yang tidak ikut ujian dsn masih banyak lagi. Alhamdulillah Ana lulus biarpun dengan NEM 28,5 sedangkan NEM yang tertinggi 30,5.


Tidak ada pesta kelulusan maupun kenaikan kelas, hanya ada studi tour ke Bandung, Dago, Tangkuban perahu, dll.


"Ke Bandung sih!'' protes Rina pada Ana.


"Kalau nggak ke Bandung pastinya kelulusan dsn kenaikan di rayakan di sekolah," ujar Ana.


"Sebenarnya siapa sih yang ide ke Bandung!" kata Ana.


Rani hanya mengangkat kedua bahunya tidak tahu, ya memang ia sama sekali tidak tahu menahu tentang studi ke Bandung. Tapi asyik juga sih pergi ke Bandung cuma tidak menginap saja di Bandung hanya seharian saja disana keliling kota Bandung.


Banyak yang teman teman yang langsung melanjutkan ke bangku kuliahan sedangkan Ana tidak sama sekali, ia malah menekuni hobi nya yaitu menulis. Waktu yang digunakan oleh gadis berkacamata itu adalah setiap hari, dan sekarang tidak ada acara pergi ke sekolah tapi ada kerinduan yang menyelinap saat ia melihat adik adik kelasnya yang sekolah di SMU.


Tapi dari lulus SMU memang ia tidak ada niatan sama sekali untuk kuliah seperti teman temannya, banyak orang yang bertanya tentang kuliah Ana, tapi gadis itu hanya mengelengkan kepala saja mendengar kata kuliah.


Dan memang ia tidak ada niatan untuk kuliah, ia baru kuliah saat bapak menawarkan kampus yang dipilihkan oleh bapak yaitu Universitas Terbuka pada tahun 2010.

__ADS_1


🐝


Saya hanya termanggu kalau mengingat sebuah perjalanan yang ditempuh dengan segala kisah dan pengalaman yang saya jalani, dan sebuah kisah yang dirangkum dalam perjalanan Ana menuju Rumah Dunia yang memberikan hal positif bagi semuanya.


__ADS_2