Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 47


__ADS_3

Ibu Rina guru mapel bahasa Sunda hanya bisa mengelengkan kepala saja melihat buku tulis punya Ana, tidak mengelengkan bagaimana wanita itu, ia tidak menemukan pernah menemukan tulisan Ana tentang pelajaran. Semua buku Ana didalamnya hanya berisikan cerpen cerpen Ana saja dengan tema remaja percintaan.


Bukan hanya dirinya yang mengelengkan kepala, tapi semua guru guru SMP juga hanya bisa garuk garuk kepala melihat siswa yang satu ini, memang dari mata pelajaran tidak ada yang terlihat. Tapi di bidang cerpen dan puisi terlihat bagus menekuni bidang menulis.


Dihatinya ada terselip keharuan saat melihat tulisan Ana yang berupa puisi dan cerpen, tapi sebagai giri ia pasti ingin melihat Ana pintar di bidang pendidikan formal bukan hanya pendidikan non formal saja.


Akhirnya ia mendekati Ana, sebenarnya tidak susah mencari Ana di lingkungan sekolah. Ya Ana waktu istirahat selalu dihabiskan di ruangan perpustakaan, akhirnya ia langsung menuju perpustakaan.


Benar saja gadis yang dicarinya berada di perpustakaan, ia mengkerutkan wajahnya saat melihat gadis itu bertelukup menulis di buku yang ia bawa, tasnya juga ada di samping. Ibu Rina otomatis heran kenapa Ana bisa.masuk ke perpustakaan sedangkan perpustakaan di kunci dan seharusnya An tidak bisa masuk? pertanyaan itu hanya ia pendam sendiri kerena ia shock melihat Ana dengan anteng menulis.


Melihat ibu Rina datang Ana langsung bangkit duduk bersila dan tanganya langsung meraih buku dan dimasukan ke tas. Hatinya otomatis berdebar sangat keras kerena ia ketahuan oleh gurunya sedang di perpustakaan tanpa ikut masuk.kedalam kelas. Ya ini bagian gitu mapel bahasa Inggris, kerena pelajaran tudks disukai oleh Ana, maka ia tidak masuk untuk mengikuti pelajaran yang diberikan oleh gurunya.


Aan takut takut menatap wajah Ibu Rina dengan hati terus berdebar apalagi saat melihat ibu Rina mendekati dirinya yang duduk di lantai.


Ibu Rina pun duduk di lantai bersama dengan Ana, ia memandang buku yang ditulis Ana. Gadis itu hanya diam saja sambil menundukkan kepala kerena takut dimarahi oleh ibu Rina. Ya kerja.ia mengaku salah kerena tidak ikut belajar, tapi ia telah menyusun pembelaan untuk dirinya sendiri.


"Ana kenapa nggak masuk ke kelas?" tanya ibu Rina lembut.


"Ana nggak suka pada pelajaran bahasa Inggris," jawab Ana enteng.

__ADS_1


"Na, sekolah itu untuk Ana sendiri, bukan orang lain. Kaku Ana seperti ini bagaiamana masa depan Ana?" tanya Ibu Rina menatap lembut pada Ana..


Ana terdiam, ia tidak melakukan pembelaan saat ibu Rina bicara masalah belajar itu adalah untuk diri sendiri bukan orang lain. Wanita itu dengan lembutnya menasehati gadis ABG yang mau beranjak dewasa, apalagi Ana kerudung yang seharusnya dipakai malah dibuka begitu saja. Melihat itu ibu Rina memakaikan Ana kerudung, Ana hanya diam saja melihat ibu Rina melakukan itu pada dirinya.


"Ibu bangga punya Ana, Ana kreatif banget bisa menulis cerpen tapi jangan lupakan belajar apalagi kalau Ana bisa bagi waktu antara belajar dan membuat tulisan." kata ibu Rina tersenyum.


Wajah Ana berbinar binar mendengar apa yang ibu Rina ucapan untuknya. Wanita itu dengan antusiasnya membujuk Ana untuk belajar.


"Nggak apa nggak nulis juga tapi Ana masuk kelas ya, jangan seperti ini." nasehat ibu Rina menatap tajam Ana.


Gadis itu hanya mengangguk saja mendengarkan nasehat dari ibu Rina, dengan diantar ke kelas 2, akhirnya mau tidsk.mau Ana ikut pelajaran yang diberikan mapel bahasa Inggris.


Setelah saya menikah dan punya anak pernah bertemu kembali di SMP Negeri l Angsana, pada tahun 2017 tapi ketemuan itu pertemuan terakhir kerena beliau dipanggil oleh Allah, tapi sebelum meninggalkan beliau pernah bilang.


"Na, ibu menunggu Ana di SMP 2 Munjul ya sebagai pustakawan disan kita bangun literasi kembali seperti dulu lagi,"


Saya waktu itu hanya tersenyum saja mendengarkan apanyang beliau katakan pada saya, saat itu saya sudah menjabat pustakawan di SMP negeri 1 Angsana ).


Sejak saat itu Ibu Rina memantau perkembangan belajar Anaknya biarpun belum berubah seratus persen tapi Ana mulai mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru biarpun tidak full, masih suka bolos bolos, tapi biarpun begitu Ana tetap mengikuti pelajaran.

__ADS_1


"Ibu bakal mantau Ana terus sampai Ana nggak pernah bolos masuk kelas."


Ana hanya bisa menghela nafas mendengar apa yang ibu Rina katakan. Ia juga memberikan waktu Ana untuk menulis, Ana diberikan tempat yang nyaman di perpustakaan kerena gadis itu yang memilih tempat sendiri. Ibu Rina hanya mengikuti jadi las istirahat ibu Rina memangil Ana untuk berada di perpustakaan sela. 30 menit lamanya.


Ana mengunakan 30 menit itu untuk menulis cerpen biarpun waktu yang singkat tapi ia benar benar mengunakan dengan sebaik baiknya, jadi tidak heran kalau setiap istirahat ia gunakan waktu itu yang singkat tapi bermakna.


Bukan itu saja Ana juga mengunakan waktu istirahat kedua 12.00-13.00 untuk sholat dan membaca, ya ia punya prinsip yaitu; Luangkan waktu membaca hanya 15 menit sehari.


Tapi bagi Ana sendiri 15 menit membaca itu hanya singkat. Malah ia melebihi membaca sampai 1 jam, atau lebih. Slogan ini sampai sekarang ia gunakan.


Tapi saat Ana mulai disiplin mengunakan waktu sebaik baiknya, ibu Rina harus pindah ke SMP Munjul. Ia hanya bisa terdiam dan menatap kepergian ibu Rina, semua siswa dan guru guru melepaskan kepergian ibu Rina ketempat yang baru, ya Ana tidak pernah menyangka kalau ibu Rina harus pindah.


"Kita pasti ketemu setelah Ana menjadi orang, ibu bakal mengingat Ana." ibu Rian memeluk tubuh Ana erat sekali.


( Ya pertemuan terakhir kita ya Bu, beliau pernah datang pertandingan volly di SMP negeri 1 Angsana, setalah itu beliau menghadap Allah, saya nyakin beliau sekarang berada di surga dan beliau pantas menerimanya ).


Gadis itu tidak bisa mengucapkan sepatah katapun saat ibu Rina pergi, ia hanya menatap kepergian gurunya, guru yang ia sayangi. Kepergian ibu Rina ke SMP Munjul membuat Ana kembali lagi ke awal, tidak pernah melakukan belajar suka bolos, tidak masuk kelas, dan lebih parah lagi datang lagi pulang jam 10.00. Begitu seterusnya.


Bukan satu dua guru yang turun tangan, tapi semua guru tapi Ana tetap tidak pernah mendengarkan apa yang di nasehati oleh semua guru, akhirnya kerena rasa sayang pak Saryono yang kemarin kemarin bicara sama Ana akhirnya mendekati Ana seperti dulu supaya gadis itu mau belajar di kelas.*

__ADS_1


__ADS_2